Zafran tidak pernah tenang. Dia terkadang menjambak rambutnya sendiri di depan ruang ICU lalu mengacaknya kasar. Kepalanya menempel pada dinding sementara bibir dalamnya dia tekan kuat. Seluruh tubuh Zafran bergetar hebat. Dia tidak bisa berpikir, otaknya belum kembali berjalan normal malam ini. Di dalam ruangan dengan lampu penanda berwarna hijau yang masih menyala, adiknya tergeletak dengan berbagai alat bantu. Orang-orang berpakaian hijau yang mengerikan mengelilinginya. Bau karbol yang sangat menyengat ditambah senyapnya malam hari di rumah sakit membuat Zafran semakin kehilangan akal sehatnya. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Tangis Zafran masih belum berhenti, tapi semua sia-sia saja. Semua sudah terjadi. Adiknya sekarat dan Zafran tidak tahu itu. Isakannya menggema memenuhi lorong yang gela

