Dua jam. Hampir dua jam Zafran menunggu di depan ruang itu seperti orang kehilangan akal. Dia ketakutan. Bayangan tubuh Kean yang memberontak hebat di atas brankar dengan napas tak beraturan membuat pikirannya berkecamuk liar. Zafran hanya terlalu takut jika harus menerima kenyataan yang sama sekali tidak pernah ia harapkan. Zafran takut anak itu lelah berjuang dan pada akhirnya memilih untuk hilang. Zafran bersumpah, dia tidak ingin lagi ada perpisahan yang harus dia rasakan. Setidaknya tidak sekarang. Dia hanya punya anak itu dan masih terlalu takut jika harus hidup tanpa Kean. Zafran menggeleng kuat, berusaha menepis pikirannya sendiri, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya berdesir ngilu dan jantungnya seperti dipacu. Kilasan kejadian menyenangkan mendadak terputar d

