Lembar Ke-duapuluh lima

2824 Words

Kean merasa seperti belum benar-benar bangun dari tidurnya saat tepat pukul setengah delapan pagi, ketika ia membuka mata karena terusik silau cahaya mentari yang menerobos tirai jendela kamar rawatnya, selain mendapati Zafran yang duduk tenang di atas sofa, dia juga bisa menangkap keberadaan seseorang yang sejak kemarin ingin sekali ditemuinya. "Oma?" Bibir Kean bergetar saat menyebut namanya. Sedikit tak yakin apakah yang dilihatnya nyata atau hanya angannya saja. Dia segera melempar pandang pada Zafran, berusaha mencari jawaban dari pemuda itu, tapi Zafran hanya mengangguk samar kemudian memalingkan muka begitu saja. Satu reaksi yang seketika membuat Kean percaya bahwa apa yang dilihatnya adalah nyata. Oma ada di sana. Di hadapannya. Tersenyum hangat untuknya. Senyum yang belum pernah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD