Lembar Ke-delapan

2154 Words
Zafran baru tiba di rumah saat senja mulai menyapa. Dia memarkir motornya di garasi, melepas helm lalu mengacak asal rambut bagian belakang, satu kebiasaannya yang tak pernah terlupakan. Sekilas, mata dinginnya mengamati ruang kosong di sisi motornya, tempat biasa mobil Kean terparkir. Sekarang, tempat itu hampa. Tidak ada lagi mobil super mewah yang selalu mengantar Kean kemana-mana. Itu artinya om Johan benar-benar sudah membawanya. Zafran turun dari motornya dan melenggang keluar dari garasi, menghampiri Pak Rudi yang sedang menyesap secangkir kopi di post-nya. Ah, mungkin lelaki paruh baya yang sudah mengabdi puluhan tahun pada papanya itu akan menjadi satu-satunya yang tidak akan Zafran maupun Kean singkirkan. Bagaimanapun caranya, mereka harus mempertahankan Pak Rudi di rumah ini. Lagipula, Zafran masih sangat membutuhkan jasa Pak Rudi untuk memantau Kean kalau-kalau dirinya sedang berada di luar. "Pak, om Johan tadi udah ke sini ngambil mobil Kean?" tanya Zafran. Pak Rudi meletakkan cangkirnya begitu saja lalu bangkit dengan segera. "Iya, mas. Tadi datangnya sekitar jam sepuluh-an, diantar sama rekan kerjanya." Zafran hanya mengangguk paham. Dia hampir berbalik dan masuk ke dalam saat tiba-tiba teringat satu hal. "Kean udah pulang, kan?" "Belum tuh, mas. Saya pikir bareng sama mas Zafran." Zafran tersentak, tapi detik berikutnya dia terdiam saat menyadari sesuatu. Dia teringat pesan yang oma kirimkan, juga bagaimana reaksi yang saat itu Kean perlihatkan. Sekarang, di benaknya hanya ada satu kemungkinan yang masuk akal; Kean nekad pergi menemui oma walaupun sudah ia larang. Sial! Zafran mengumpat pelan, merutuki tindakan bodoh Kean. Tanpa sadar dia meremat gagang tasnya kencang lalu pergi dari hadapan Pak Rudi tanpa mengatakan apa-apa. Dia membanting tasnya di sofa lalu duduk dengan kasar. Dadanya seperti terbakar, bukan karena amarah, melainkan kecewa karena Kean tidak mendengarkannya. Zafran selalu berusaha mati-matian agar anak itu tidak terluka, tapi Kean seperti tidak peduli dan justru mengumpankan dirinya untuk disakiti. Zafran selalu menutupi pertemuannya dengan oma, pesan-pesan yang oma kirimkan, juga semua kalimat tajam yang oma tujukan kepada Kean. Bukan karena Zafran tidak menganggap Kean berhak mengetahui itu semua, tapi karena dia hanya ingin melindungi adiknya. Dan setelah semua yang ia usahakan untuk melindungi Kean dari oma, begini yang pada akhirnya ia terima? Zafran mendengkus kasar lalu menghempaskan punggungnya ke sofa. Matanya menatap datar ke depan, tanpa binar. Tanpa harapan yang dulu selalu membara di sepasang manik kelam itu. Bahkan, sisa-sisa hangat yang sebelumnya masih tertinggal pun kini telah sepenuhnya hilang. Semua pudar, karena Kean. ••• Ketika matahari sepenuhnya terbenam, adalah tepat satu jam sejak Zafran pulang, tepat pula satu jam dia duduk di sofa ruang tengah rumahnya berteman keheningan. Dan setelah menunggu selama satu jam, Zafran akhirnya bisa mendengar suara langkah kaki lain berderap di sana. Wangi menenangkan milik Kean sudah menyebar di udara, menusuk penciumannya, namun Zafran masih diam di posisi yang sama. Saat sosok itu sudah benar-benar berada tepat di hadapannya, baru dia mengangkat wajah dan menatap lekat adiknya. Binar itu masih sama, pun lengkung senyum di bibirnya. Namun, Zafran sedang tidak berada pada mode baik-baik saja untuk menganggap semua itu hal biasa. "Baru pulang, kak?" Bahkan pertanyaan sesederhana itu sekarang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Zafran. Cih! Seharusnya dia yang bertanya begitu. Arah pandang Zafran jatuh pada paperbag dalam genggaman Kean, seketika membuatnya kembali mengumpat dalam bungkam. Tidak perlu menduga untuk tahu darimana Kean mendapatkannya. Melihat sekilas saja, Zafran sudah tahu benda itu dari siapa. "Darimana?" "Gue--" "Ketemu oma?" potong Zafran cepat. Dia bisa melihat kecemasan di wajah Kean, satu hal yang semakin menguatkan fakta bahwa dugaannya benar. "Kak--" Lagi, belum sempat Kean menyelesaikan kalimatnya, Zafran sudah lebih dulu memenggal. Cowok itu bangkit dari sofa dan berdiri tepat di hadapan Kean. Tidak ada hangat yang bisa Kean temukan dalam manik kelam itu, hanya ada amarah yang mendesak untuk diluapkan, namun berusaha keras Zafran tahan. "Gue bilang apa sama lo tadi di sekolah? Kenapa nggak dengerin gue? Kenapa lo tetep nekad ke sana padahal gue udah bilang jangan? Lo mikir nggak sih kenapa gue ngelarang lo ke sana?" Suara Zafran sama sekali tidak terdengar seperti bentakan. Tidak ada nada tinggi yang ia lontar, tidak ada pekikan, namun bagi Kean, suara rendah penuh penekanan itu jauh lebih mengerikan dari sekadar bentakan. Kean menarik napas dalam, berusaha membuat dirinya tenang. Dia tahu Zafran marah, untuk itu dia harus bisa memberi penjelasan. "Iya gue salah, maaf. Gue cuma nggak mau oma kecewa karna lo nggak nemuin dia. Seenggaknya dengan gue dateng ke sana, gue bisa kasih penjelasan ke oma kalau lo emang lagi nggak bisa dateng." "Terus apa yang lo dapet dari nemuin dia?" Sejenak Kean diam, meremat erat apa yang ia genggam sebelum akhirnya menunjukkan benda itu pada Zafran. "Ini." katanya. Zafran hanya mendecih singkat lalu mengalihkan pandang, sama sekali tidak berniat menerima apa yang Kean berikan. Lagi-lagi satu u*****n pelan terlontar. Zafran tahu, adiknya hanya berusaha bersikap seolah semua baik-baik saja padahal ia sudah mengetahui semuanya. Karena tidak mungkin oma hanya diam saja selama perjumpaan mereka. Oma ... pasti telah mengatakan segalanya. Segala yang selama ini Zafran coba tutupi hanya agar Kean tidak tersakiti. Tapi sekarang semua percuma. Usahanya sia-sia. Karena Kean sendiri telah menghancurkan apa yang selalu Zafran jaga. "Apa aja yang udah lo tau?" Zafran kembali buka suara meski masih enggan mengembalikan pandang pada Kean. Dia bahkan tidak tau bahwa di tempatnya, diam-diam Kean mengeratkan genggaman. "Nggak ada. Nggak ada yang gue tau, karena lo nggak pernah kasih tau gue apa-apa." Gue tau semuanya, kak.. Helaan napas panjang Zafran terdengar sebelum dia mengubah pertanyaannya. "Apa aja yang oma bilang ke lo?" "Semua tentang lo." Kali ini Zafran mendengkus kasar. Dia menggenggam erat udara di telapak tangan, berusaha membuat amarahnya teredam. Namun, rasa kecewanya ternyata jauh lebih besar hingga panas yang semula hanya membakar d**a kini menjalar sampai ke mata. Kalimat Kean sudah cukup membuktikan bahwa anak itu memang benar-benar telah mengetahui segalanya meski ia bilang tidak tahu apa-apa. Tapi, yang sebenarnya membuat Zafran terluka adalah karena ia tahu anak itu tidak pernah bisa menolak apa yang oma minta. Bahkan jika hal itu menyakitinya, Kean akan tetap melakukan tanpa peduli apapun risikonya. Dan hal yang saat ini oma inginkan adalah dirinya. Maka bukan tidak mungkin anak itu akan bersedia melepasnya demi kepuasan oma. Walau Zafran tahu, jauh di dalam hatinya, Kean juga tak pernah menginginkan itu semua. "Oma bilang, dia mau tinggal sama lo, kak." Suara Kean kembali membelah sepi ruang itu, namun Zafran justru membisu. Tanpa kata, dia meraih tasnya lalu pergi begitu saja, setengah berlari menaiki anak tangga dan hilang dibalik pintu kamar yang dibanting sekuat tenaga. Sementara Kean masih tinggal di posisinya. Menatap sendu jejak hampa Zafran sambil diam-diam menekan bibir dalamnya. Dia menarik napas, sebelum bingkai kaca yang mati-matian ia jaga akhirnya harus pecah menjadi tetes air mata. Gue pengen nahan lo di sini, kak. Tolong tetep di sini meskipun nanti gue minta lo buat pergi. ••• Zafran tidak keluar dari kamar, bahkan saat Kean mengetuk pintu berkali-kali memintanya turun untuk makan malam. Sampai sekarang sudah hampir pukul sembilan, cowok itu tetap tidak mengindahkan panggilan Kean. "Kak, makan dulu, nanti lo sakit." Kalimat itu entah sudah berapa kali Kean ucapkan, namun hasilnya tetap sama, tak ada balasan. Dia mencoba mengetuk lagi pintu kamar Zafran, berharap kakaknya yang memang tidak menyukai keributan itu merasa terganggu lalu memutuskan untuk keluar. "Kak, buka dulu pintunya, gue mau ngomong." Merasa tak akan mendapat jawaban dari dalam, Kean akhirnya menghentikan ketukannya. Sejenak dia diam dan menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan seluruh tenaga untuk bicara. Dia sudah jengah dari tadi melakukan hal yang sia-sia, sekarang saatnya ia meluapkan isi kepalanya. Karena akan lebih baik jika Zafran keluar lalu memakinya, memukulnya, menghajarnya, apapun ... asal bukan diam saja dan membiarkan Kean terkurung dalam rasa bersalah seperti ini. Membuatnya merasa semakin tidak berguna. "Oke, gue salah, gue minta maaf. Lo berhak kecewa, lo boleh marah. Tapi seenggaknya lo lakuin sesuatu, jangan diem aja kayak gini. Lo bikin gue ngerasa kayak sampah yang nggak ada artinya. Nggak berguna." ujar Kean dengan jemari yang sudah kembali mengepal. Api itu kembali datang dan sekarang membakar hingga ke relung terdalam. Menyakitkan ... saat kau ada namun diabaikan. Kean baru akan membuka mulut kembali saat pintu di depannya tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok Zafran dengan tatapan dinginnya. Pekat iris keduanya berjumpa, sejenak saling membekukan di antara jeda yang ada, sampai suara datar Zafran lebih dulu membelah kaku di sana. "Lo tau apa yang bikin gue kecewa?" Kean tahu, pertanyaan itu dilontarkan tidak untuk ia jawab, maka yang ia lakukan hanya diam dan menunggu Zafran melanjutkan kalimat. "Lo nemuin oma tanpa sepengetahuan gue." Kean kembali mengambil napas,  mulai merasa lelah. Dia juga boleh berontak, kan? "Kak, gue udah berkali-kali bilang maaf. Lo nggak usah berlebihan gini lah. Gue cuma ketemu oma doang, dan gue ke sana juga bukan tanpa alasan. Gue dateng buat ngambil barang yang mau oma kasih buat lo. Masalahnya dimana?" Ada jeda beberapa saat sebelum Zafran kembali melontar kalimatnya. "Lo nggak seharusnya ada di sana, Key." Kali ini mata Kean memincing tajam, menatap Zafran tidak suka. "Kenapa gue ngerasa lo sengaja ngejauhin gue dari oma? Lo ... nggak suka gue ketemu oma?" Mata Zafran masih terpaku pada titik yang sama, namun kali ini ada getar tak biasa yang membuat dadanya sesak luar biasa. Kedua tangannya mengepal kuat, senada dengan bagaimana garis wajah itu mengeras dan rahangnya terkatup rapat. Beberapa detik, bisu mengambil alih semua. Sampai Zafran kembali menjadi yang pertama memecahkannya. Dia terkekeh sinis, namun tatapannya jelas menyiratkan sebuah luka. Bagaimana bisa Kean berpikir seperti itu setelah semua yang ia usahakan untuk melindunginya? "Ternyata selama ini gue serendah itu di mata lo." Zafran berusaha membuat suaranya tidak bergetar, "makasih. Lo nyadarin gue tentang betapa nggak bergunanya apa yang gue lakuin selama ini." Setelah itu Zafran berbalik, masuk ke kamarnya lalu keluar lagi beberapa detik kemudian dengan jaket dan kunci dalam genggaman. Dia melewati Kean begitu saja, berjalan cepat menuruni tangga dengan perasaan terluka. Beberapa detik Kean masih membeku di posisinya, sampai akhirnya dia tersadar lalu mengejar Zafran yang sudah jauh meninggalkan tempat ia berada. "Kak dengerin gue dulu, gue nggak bermaksud kayak gitu!" Kean mempercepat langkah saat melihat Zafran telah melewati pintu. Dia terjatuh di ujung tangga dan seketika nyeri luar biasa menjalar di pergelangan kakinya. Namun saat mendengar deru motor Zafran menggema, dengan sigap Kean bangkit dan berlari tertatih keluar.  "Kak, dengerin dulu! Kak Zafran!" Sayang, saat Kean berhasil tiba di luar, Zafran sudah terlanjur menggeber motornya dan melesat dalam sekejap. Kean mengejar sampai ke jalan, berteriak memanggil namanya, sebelum akhirnya dia menyerah saat menyadari usahanya hanya akan berakhir sia-sia. Dia berhenti dengan napas memburu hebat. Matanya memandang lurus ke depan, menembus pekat malam yang membawa punggung Zafran menghilang. Sekarang, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menelan sesalnya sendirian. Kean bisa menangkap suara Pak Rudi di belakang, namun ia sama sekali tak merespons panggilan itu bahkan setelah lelaki itu menyentuh pundaknya. Dia hanya diam sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba berdenyut lara. Ada getar tak wajar di sana. Sesuatu yang juga pernah ia rasakan saat hari itu papa meregang nyawa. "Kakak," Kenapa ... Kean merasakan firasat itu lagi tepat setelah sosok Zafran menghilang dari pandangannya? ••• Zafran memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli berapa banyak pengguna jalan yang terganggu karena ulahnya, atau seberapa sering kalimat makian tertuju padanya. Dia justru semakin menggeber motornya tanpa peduli berapa banyak lagi kalimat u*****n yang akan ia terima. Zafran benar-benar menjadi begitu gila malam ini. Udara malam menembus jaket tebal yang Zafran kenakan, namun ia sama sekali tak merasa kedinginan. Dia hanya merasa sesak sampai menarik napas pun terasa begitu menyakitkan. Lalu satu per satu kalimat Kean kembali terurai di kepala, seperti kaset rusak yang sengaja diputar untuk menyiksanya. Zafran terluka bahkan tanpa perlu menerima pukulan dari siapa-siapa. Kenapa gue ngerasa lo sengaja ngejauhin gue dari oma? Lo ... nggak suka gue ketemu oma? Tangan kanan Zafran kembali menarik gas sekencang yang ia bisa, melaju membelah jalanan lengang di sekitarnya. Dia butuh pelampiasan dan ini adalah cara satu-satunya. Maka, Zafran berusaha menikmati semua. Saat dimana dingin malam menerjang kulitnya, saat tubuhnya seperti melayang di udara, saat semua seolah membelainya, sampai dia tak sadar ada cahaya lain yang menghadang di depan sana. Cahaya yang sangat terang, juga sangat menyakitkan. Zafran mengernyit, tapi masih belum menyadari bahwa di pertigaan yang sebentar lagi akan ia lewati, tepat dari arah kiri, ada bunyi klakson yang menyeruak berkali-kali. Zafran baru tersadar saat cahaya terang itu menyorot jalanan di depan. Dia tersentak luar biasa, jantungnya berdebar brutal namun tubuhnya seperti mati rasa. Lalu semua terjadi begitu saja, sama sekali tidak memberi kesempatan Zafran untuk sekadar mengambil pilihan untuk hidupnya. Cahaya terang itu menyorot wajah Zafran seiring bunyi klakson yang semakin memekakkan telinga, menyakitkan. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah sebuah hantaman hebat di tengah jalan. Motor Zafran diterjang dengan begitu dahsyat, jatuh ke aspal dengan sangat keras sebelum akhirnya terseret beberapa meter dan berakhir di antara rongga di bawah truk kontainer yang baru berhenti setelah menghantam pembatas jalan. Zafran masih bisa mendengar kericuhan di sekitar walau samar. Dia masih cukup sadar untuk merasakan bagaimana dunianya berputar dengan gila dan kepalanya seperti meledak seiring datangnya rasa sakit di sekujur badan. Dia juga masih sadar saat gemertak langkah orang-orang mendekatinya, sampai dia merasa kelopak matanya semakin berat untuk terbuka. Suara-suara di sekitar berangsur pudar, pandangannya menggelap dan rasa sakitnya pelan-pelan menghilang. Lalu di batas gelap yang berusaha merenggut paksa kesadarannya, bibir Zafran terbuka menyebut satu nama. Nama yang akan selalu ia kenang, tidak akan ia lupakan. Nama ... yang malam ini menghantarnya menuju tidur panjang. "Kean,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD