Lembar Ketujuh

2181 Words
Pagi-pagi sekali Kean sudah mendengar suara gaduh dari arah dapur. Dia keluar dari kamar lengkap dengan seragam yang telah ia kenakan, matanya menjelajah hingga akhirnya berhenti pada sosok Zafran yang sibuk berkutat di meja makan. Cowok itu juga sudah berpakaian lengkap, hanya kurang dasi dan tatanan rambut yang sepertinya belum sempat dirapikan. Kean melangkah perlahan, sambil sesekali meringis saat nyeri di ulu hatinya kembali terasa. Semalam, tanpa sepengetahuan Zafran, Kean kembali mendapat serangan setelah sekian lama sakit itu seolah menghilang. Beruntung, serangan yang ia dapatkan tak berkepanjangan dan segera berkurang setelah ia menelan beberapa butir obat, sehingga ia tak harus sampai mengusik tidur Zafran. Lagipula, Kean sudah terbiasa mengatasi rasa sakitnya sendirian. Terlalu biasa, sampai ia seperti sudah mati rasa. "Sibuk banget, kak? Gue dari tadi subuh udah denger suara ribut-ribut dari dapur." Kean menarik satu kursi dan duduk menghadap Zafran yang berdiri tepat di seberang. Cowok itu hampir menjawab, namun niat itu segera ia urungkan saat melihat keganjilan di wajah Kean. Dia maju, mengamati wajah adiknya lebih detail. "Lo sakit?" Kean tersentak, tapi dengan cepat dia berhasil mengendalikan keadaan. Dia menepuk pipinya sendiri dan tersenyum mengalihkan. "Enggak! Sehat kok gue." Mata Zafran memincing tajam, masih berusaha mencari kebenaran. "Bohong nih?" "Enggak!" "Bener? Kalau sakit bilang, Key. Nggak usah ditahan. Nggak usah sok kuat. Gue paling nggak suka dibohongin soal kesehatan." Nada bicara Zafran penuh akan penekanan, namun yang Kean dengar justru ketulusan. Tidak bisa dipungkiri, ada perasaan hangat yang menjalar saat Zafran berkata demikian. Karena dari sekian banyak perubahan yang terjadi belakangan, setidaknya Kean tahu kakaknya masih menaruh sedikit perhatian. Itu cukup untuk membuatnya merasa masih dipedulikan. Memberinya keyakinan bahwa dirinya tidak sepenuhnya diabaikan. "Nggak apa-apa, serius gue. Ngomong-ngomong, lo masak apaan nih? Wanginya enak banget. Sejak kapan coba lo jadi pinter masak gini?" Kean berusaha mengalihkan, memasang wajah ceria seperti yang biasa ia perlihatkan. Setidaknya begitulah cara ia bertahan. Mengumbar tawa seolah ia benar bahagia. Padahal, jauh di dalam relungnya, ada banyak sekali luka yang ia biarkan menganga. Kean hanya tidak ingin rasa sakitnya menjadi beban orang-orang di sekitarnya. Zafran sudah cukup banyak terluka, Kean tidak ingin membuatnya semakin menderita. Maka yang perlu ia lakukan hanyalah membuat dirinya selalu terlihat baik-baik saja. "Nasi goreng doang. Sengaja gue buatin yang nggak terlalu pedes." Zafran mendorong satu piring penuh nasi goreng ke hadapan Kean yang langsung disambut dengan senyum lebar. Namun, kerutan muncul di dahi Kean saat sedetik kemudian dia justru melihat Zafran berjalan menjauhi meja makan, meraih tasnya di sofa lalu bergegas menuju pintu. "Gue berangkat duluan, udah janjian sama anak-anak. Lo pake taksi online aja, mobil lo ntar rada siangan mau diambil sama Om Johan soalnya, katanya ada kenalan dia yang mau nawar dengan harga tinggi. Kunci lo titipin Pak Rudi aja, biar nanti dikasih ke Om Johan pas dia dateng." papar Zafran. "Nggak sarapan dulu?" "Nanti aja di sekolah. Udah ya, gue berangkat." Kean baru akan membuka mulutnya kembali, namun Zafran sudah lebih dulu menghambur pergi. Sekarang tinggal ia sendiri di tengah bekunya meja makan, menikmati hening yang perlahan menikam. Deru mesin motor Zafran terdengar lalu pelan-pelan menjauh dan hilang. Sedang arah pandang Kean masih terkunci pada sepiring nasi goreng yang Zafran berikan, lalu senyum getir di bibirnya terbit perlahan. Kenapa ... semakin hari Kean merasa Zafran semakin jauh untuk ia gapai dengan tangannya? Apa kakaknya memang sudah berdiri pada tempat yang tak mampu lagi ia jangkau? ••• Mata bulat Kean menjelajah isi kantin yang siang ini tak begitu ramai. Di tangannya sudah ada sebotol air mineral dan satu bungkus roti isi yang ia dapat dari hasil memotong barisan murid yang sedang mengantre soto ayam. Dia masih mengamati sekitar, berusaha menemukan tempat yang nyaman, sampai akhirnya ia terpaku pada satu sosok familiar di sudut kantin, jauh dari kerumunan. Senyum cowok itu mengembang, lalu dengan langkah ringan dia mendekat ke sana dan duduk begitu saja. "Temen-temen lo mana?" Merasakan kehadiran seseorang, Zafran mengangkat wajah dan mata bulat Kean yang selalu penuh binar langsung menyambutnya. Sekilas, ia melirik benda yang anak itu bawa sebelum akhirnya berpaling dan kembali menikmati semangkuk soto di hadapannya. "Di lapangan, masih ada latihan. Gue juga habis ini mau langsung balik ke sana." Kean hanya mengangguk paham, masih sambil memerhatikan Zafran yang makan dalam diam. Kakaknya memang tidak banyak bicara. Semua yang ia rasa selalu menjadi rahasia, tapi dia akan menjadi begitu membara jika menyangkut sesuatu yang disuka. Persis seperti papa. Diam-diam sudut bibir Kean terangkat. Setiap mengingat fakta itu, Kean merasa Zafran benar-benar menuruni sifat papa. Semua yang papa suka, Zafran menyukainya juga. Selera mereka sama, bahkan kecintaannya terhadap dunia olahraga. Wajar kalau selama ini papa lebih dekat dengan Zafran daripada dirinya yang jelas bertolak belakang dalam segala hal. Ah, melihat Zafran, Kean jadi rindu papa. Tapi sejujurnya ... dia lebih rindu mama. Kean sering sekali berandai tentang sosok mama di hidupnya. Seperti apa wajah wanita itu jika dilihat dengan sepasang matanya langsung, tanpa perantara. Seperti apa suaranya, wangi parfumenya, lembut tangannya. Apakah Kean lebih mirip mama? "Kak, foto kecil lo yang sama mama papa ditaruh mana?" Zafran hampir tersedak saat tiba-tiba Kean bersuara. Tangannya refleks mencari air minum dan meneguknya rakus. Kean jadi merasa tidak enak karena telah menanyakan pertanyaan yang mungkin tidak Zafran duga akan meluncur begitu saja. "Kenapa? Mau diapain?" tanya Zafran setelah meletakkan kembali gelas es tehnya ke meja. Nada bicaranya terdengar tidak suka, tapi sebisa mungkin dia mencoba bersikap biasa. "Pengin gue taruh kamar, daripada sama lo dianggurin, nanti ilang, rusak. Kan sayang." "Emang udah ilang. Udah dari lama nggak tau dimana." Zafran memutuskan kembali melanjutkan makan sementara Kean hanya memandangi dalam diam. Kean tahu Zafran berbohong. Hari itu, tepat di hari kepergian papa, dia masih sempat melihat Zafran memandangi foto itu sambil diam-diam menangis di kamarnya. Namun, ketika Kean menyelinap masuk ke kamarnya beberapa hari kemudian--saat Zafran sedang menginap di rumah Sendy--benda itu tak lagi berada pada tempat dimana Kean pernah melihatnya. Dia sudah mencari ke seluruh penjuru ruang, tapi potret beku keluarga kecil yang terbingkai pigura kayu itu tetap tak ia temukan. Kean tersenyum getir dari tempatnya. Dia tidak marah meski Zafran membohonginya. Dia tahu kenapa Zafran lebih memilih menyembunyikan benda itu daripada membiarkan Kean memilikinya. Alasannya sederhana, karena keluarga di dalam gambar itu tidak sempurna. Tidak ada Kean, karena foto itu diambil tepat beberapa hari setelah Zafran lahir. Dimana dia masih berwujud bayi merah dalam gendongan mama, dengan papa yang berdiri gagah di sebelahnya, merengkuh erat pundak mama, seolah enggan kehilangan. Tidak ada foto keluarga dimana Kean ada di antaranya, karena mama bahkan pergi sesaat setelah melahirkan Kean ke dunia. Dan fakta menyakitkan itu adalah alasan mengapa Zafran tidak pernah suka membawa sosok mama ke dalam perbincangan mereka. Apalagi sampai menunjukkan foto kebersamaan mereka bertiga. Zafran hanya tidak ingin membuat Kean terluka saat menatap gambar dimana dirinya tidak pernah ada di sana. "Gue bayar dulu." Suara Zafran seketika memecah pikiran Kean. Dia mendongak, menatap Zafran yang perlahan bangkit dan berjalan menjauh sambil merogoh sakunya. Kean hanya diam, menggigit roti isi yang bahkan belum sempat ia sentuh sejak mereka memulai perbincangan. Hingga getar ponsel yang Zafran tinggalkan di meja menarik perhatian. Kean menoleh, memandang sekilas punggung Zafran yang masih berdesakan bersama beberapa orang di depan sana lalu kembali meletakkan fokusnya pada ponsel di hadapan. Zafran bukan tipe orang yang gila privasi. Dia tidak pernah marah saat Kean menyentuh barang-barang pribadinya, bahkan menggunakannya. Lagipula, ponsel Zafran tidak pernah menjadi barang terlarang untuk Kean. Jadi, sepertinya tidak masalah kalau sekarang rasa penasaran menarik tangan Kean untuk menyentuh benda itu dan membukanya. Mata Kean terpaku lama pada jajaran aksara di sana, sampai suara Zafran kembali mengambil alih fokusnya. "Ngapain?" Kean tersentak, buru-buru menyerahkan ponsel milik Zafran yang masih menampilkan pesan yang baru saja ia baca. Pesan dari oma. "Oma ... ngajak ketemu." kata Kean. Zafran menatap layar ponselnya yang masih menyala, membaca sekilas pesan di sana sebelum akhirnya memutuskan menyimpan benda itu di saku celana. "Biarin aja. Nggak penting." "Lo nggak mau nemuin oma?" Zafran yang sudah memutar badan dan bersiap pergi sejenak menghentikan langkah. Menarik napas pelan lalu menatap Kean jengah. "Pulang sekolah gue ada latihan sama anak-anak. Lebih penting dari sekedar nemuin oma yang ujung-ujungnya cuma minta gue nginep di rumahnya. Males." "Oma bilang punya sesuatu buat lo dan bakal nunggu lo di sana. Kasihan dong oma kalau lo nya nggak dateng." "Sepuluh menit gue nggak muncul di sana, dia pasti bakal pulang, nggak usah khawatir. Gue duluan, udah ditungguin sama yang lain." Setelahnya Zafran berlalu, kembali meninggalkan Kean yang hanya bisa diam menatap punggungnya yang semakin menjauh. Dia meremat roti di tangan, tak lagi bernafsu untuk makan. Bahkan, Zafran mengabaikan pesan oma begitu saja, seolah permintaannya bukan sesuatu yang berharga. Tidak tahukah Zafran, betapa Kean sangat menginginkan pertemuan dengan oma seperti bagaimana wanita itu meminta Zafran menemuinya? ••• Sejak kecil, Kean tidak pernah menentang Zafran. Apa yang Zafran minta, Kean dengan senang hati menurutinya. Saat Zafran berkata jangan terhadap suatu hal, meski sangat ingin, Kean akan mundur dan melupakan keinginannya tanpa banyak bicara. Tak bisa dipungkiri, meski kadang menyebalkan, Zafran adalah sosok idola yang selalu ia banggakan pada semua orang. Kean akan mengikuti apapun yang Zafran katakan. Namun, hari ini, demi oma, Kean terpaksa menentang apa yang Zafran minta. Pulang sekolah tadi, tepat sebelum Zafran bergabung bersama teman-temannya di lapangan, dia sempat memperingati Kean agar tak nekad datang menemui oma menggantikan dirinya. Tapi yang terjadi sekarang adalah dia sudah berdiri di depan pintu kafe dimana sosok oma menunggu di dalam sana. Kean menarik napas panjang, memantapkan tekad sekali lagi sebelum akhirnya membawa langkahnya menghampiri meja tempat wanita itu berada. Ragu, Kean mulai membuka suara. "Oma," Wanita itu menoleh, sedikit tersentak saat melihat siapa yang datang, tapi kemudian dia segera mengedarkan pandang, mencari-cari sosok yang ia nantikan. Zafran. Bukan Kean. "Mana Zafran?" Kean tersenyum tipis meski hatinya terluka. Bahkan saat dirinya sudah ada di depan mata, yang oma cari tetap kakaknya. "Kak Zafran lagi ada latihan, nggak bisa dateng. Nggak apa-apa kan kalau aku yang ke sini buat wakilin dia? Katanya oma ada sesuatu buat kak Zafran?" "Saya mau Zafran sendiri yang datang, bukan orang lain." Kean meremat jemarinya saat kalimat tajam oma terlontar. Sudah terlalu biasa, seharusnya dia tidak perlu merasa terluka. Lagipula dari awal oma memang mengundang Zafran, bukan dirinya. "Aku cuma pengin lihat oma." gumam Kean. Wanita itu diam dan hanya memandang Kean datar, cukup lama sampai akhirnya dia berdeham pelan lalu menyesap secangkir kopi yang ia pesan. "Duduk!" katanya. Kean menurut, menarik pelan kursi di hadapan oma lalu duduk dengan nyaman. Sesuatu yang jarang sekali terjadi, duduk berdua dengan omanya, berteman alunan musik yang menenangkan serta semburat jingga yang perlahan memudar. Setidaknya, Kean seperti bisa kembali merasakan hangat yang selalu ia rindukan, meski ia tahu hadirnya tak benar-benar diinginkan. Suara alas cangkir yang menyentuh permukaan meja berhasil memecah pikiran Kean. Cowok itu mengerjap untuk menangkap lagi fokusnya yang sempat buyar, kemudian menatap oma yang juga sudah memandangnya lekat. "Berhubung kamu udah di sini dan supaya kedatanganmu nggak sia-sia, mari kita membicarakan hal yang sudah lama ingin saya bicarakan sama kamu." Oma mulai membuka perbincangan. Suasana di sekitar menjadi lebih serius dan Kean cukup peka untuk menerka kemana arah pembicaraan mereka. Dia tahu topik apa yang akan oma angkat dalam pembicaraan mereka, maka yang dia lakukan di detik selanjutnya adalah mempersiapkan diri jika kalimat oma akan kembali menyakitinya. Atau lebih dari itu, oma akan meminta sesuatu yang mungkin tidak akan bisa Kean turuti walau sebenarnya ia bisa. Kean menguatkan genggamannya, tepat saat mata dingin oma kembali menusuknya. "Kamu tau kenapa belakangan ini saya sering menghubungi kakakmu?" "Aku bahkan nggak pernah tau kalian mau ketemu seandainya aku nggak sengaja liat pesan masuk di HP kakak." Oma berdecih singkat sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. Seolah belum cukup tatapan tajam itu menikam Kean, kali ini nada bicaranya pun ikut menghancurkan anak itu menjadi kepingan. "Saya mau Zafran tinggal sama saya." Sederhana, namun begitu menyakitkan untuk Kean dengar. Dia bahkan sudah tidak punya siapa-siapa selain Zafran dan oma, lalu sekarang satu orang yang seharusnya merengkuh mereka berdua justru ingin meminta Zafran dari hidupnya? Kean merasa dadanya sesak, tapi dia tetap berusaha membuka mulut untuk bicara. "Kenapa?" Oma justru terkekeh, seolah pertanyaan Kean adalah lelucon yang bisa bebas ditertawakan. Seolah getar tak wajar dalam suara Kean hanya bayangan, tidak perlu dihiraukan. Wanita itu memutar cangkir kopinya dan tersenyum sinis pada Kean yang diam-diam semakin mengeratkan genggaman. "Kenapa? Karena Zafran cucu saya. Dan saya berhak atas dia." "Aku bukan cucu oma?" sergah Kean. Senyum di bibir oma seketika hilang, wajahnya menegang. Tapi hanya sebentar, sebelum wanita itu kembali bisa mengendalikan diri dengan baik. Selalu seperti itu. Oma selalu bisa menutupi amarahnya seolah percikan api itu tidak pernah ada. Oma ... selalu bisa menjaga tenangnya saat Kean mulai menyudutkan dengan berbagai kata. Satu yang membuat Kean akhirnya sadar, kemampuan menyembunyikan yang ia miliki selama ini menurun dari siapa. Semua itu dari oma. Ya.. setidaknya sekarang Kean tahu, ada satu kesamaan antara dirinya dengan oma. "Kita hanya akan bicara tentang Zafran, bukan yang lain." ucap oma tegas. Dia mendorong paperbag kecoklatan ke hadapan Kean lalu bangkit dari kursinya. "Berikan itu pada kakakmu. Satu lagi, kalau kamu memang menyayangi kakakmu dan menginginkan kehidupan yang lebih baik buat dia, tolong bujuk dia tinggal sama saya. Dia punya masa depan, dan masa depan dia ada di tangan saya. Saya harap kamu nggak sebodoh itu menahan dia untuk tetap hidup sama kamu." Setelah mengatakan itu, oma berlalu begitu saja, meninggalkan Kean yang lagi-lagi hanya bisa membeku di tempatnya. Matanya menatap hampa ke depan, tepat ke arah paperbag yang oma tinggalkan, sementara pikirannya kembali mengulang kalimat yang beberapa detik lalu ia dengar. "Tolong bujuk dia tinggal sama saya." Kenapa ... Kean merasa dirinya seperti telah benar-benar dibuang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD