Shooting. Three point. Lagi, untuk ke sekian kali, Zafran melakukan tembakan dengan sempurna. Seketika, tawa puas Sendy menggema di tengah lapangan outdoor yang sengaja mereka sewa untuk bertanding dua lawan dua sore itu. Dia memungut bola yang menggelinding di lantai, melemparnya pada Gael sambil tersenyum bangga .
"See? Kita menang." katanya yang hanya dibalas Gael dengan decakan. Cowok itu mengusap rambutnya ke belakang, kemudian menepi ke pinggir lapangan dan duduk meneguk sebotol air mineral.
"Three point Zafran emang paling mematikan. s***s banget, njir."
"Gue salah milih partner deh ini. Harusnya sama Zafran tadi." Kali ini Rayyan yang bersuara sambil membungkukkan badan, memungut bola yang dibiarkan menggelinding oleh Gael tanpa berniat menghentikan. Setelahnya dia kembali ke tengah lapangan, mendribble bola dengan satu tangan, memindahkannya ke tangan yang lain kemudian menembaknya ke ring.
Sendy, dengan wajah dipenuhi peluh ikut menyusul Gael di pinggir lapangan, melirik sekilas sang kawan yang sudah memasang raut masam gara-gara ucapan Rayyan.
"Maksudnya, lo ngatain gue nggak bisa main, gitu?"
"Gue nggak ngomong gitu ya. Tapi bagus kalau lo nyadar."
"s****n! Tadi adek dipilih, sekarang adek dicampakkan. Malangnya nasib aing." Gael mulai mendramatisir suasana. Wajahnya dibuat semelas mungkin sampai Rayyan rasanya ingin melemparnya pakai bola.
Sendy kembali melepas tawa, sementara tangannya bergerak sigap saat Zafran meminta sebotol air mineral di sampingnya. Cowok itu meneguk minumannya dengan cepat lalu duduk di samping Sendy.
"Oh iya, Zaf, baju-baju lo sebagian masih di rumah gue. Mau diambil kapan? Takutnya nanti kepake sama gue kalau kelamaan lo tinggal."
"Biarin di rumah lo dulu."
Jawaban Zafran seketika membuat Sendy menyipit tajam. "Kenapa? Lo lagi ngerencanain buat kabur lagi?"
Ada jeda beberapa detik sampai Zafran meneguk airnya kembali lalu mengangkat bahu sangsi. "Mungkin."
"Gue nggak yakin Kean bakal ngebiarin lo kabur lagi habis ini."
Mendengar nama Kean disebut, mendadak Zafran seperti teringat sesuatu. Benar. Kean. Dia tersentak, sedetik kemudian menarik pergelangan tangan Sendy dan melihat waktu yang ditunjuk jam tangannya. Mata Zafran membola, baru menyadari kalau dia telah melupakan adiknya begitu saja. Bodoh sekali!
Buru-buru Zafran meraih tasnya dan mencari ponsel di dalam sana, berusaha menghubungi Kean, namun yang menjawab panggilannya justru suara wanita yang sudah sangat ia kenal. Zafran mendengkus kesal, detik berikutnya dia bangkit dengan tergesa hingga tiga orang di sana kompak melemparinya dengan tatapan penuh tanya.
"Kenapa lo?" Gael yang pertama mengeluarkan suara.
"Gue lupa, Kean masih di sekolah."
"Ya terus?"
"Masalahnya, tadi dia berangkat sama gue."
"Iya, terus masalahnya dimana? Dia udah bukan anak TK yang nggak tau apa-apa, Zaf. Begitu tau lo nggak ada, dia pasti balik sendiri gimanapun caranya." Rayyan menghentikan permainannya, ikut mendekat lalu menyuarakan kalimatnya. Heran juga, kenapa Zafran yang selalu tak acuh pada sekitar selalu bisa dibuat kelabakan hanya dengan mendengar nama Kean? Ayolah, Kean bahkan sudah dewasa. Rasanya berlebihan kalau Zafran masih terus memperlakukannya seperti seorang balita yang harus mendapat pengawasan ekstra. Bukannya Rayyan ingin mempermasalahkan, dia hanya kurang suka, karena jika itu tentang Kean, Zafran akan berubah menjadi orang yang berbeda.
Zafran memilih tidak menanggapi kalimat Rayyan. Dia bergegas pergi setelah melempar tatapan tajam pada sosok yang barusan berujar, mengabaikan pekikan Sendy yang berusaha menahan kepergiannya, setidaknya tidak dalam keadaan gusar seperti sekarang.
Tapi, seolah tak peduli, Zafran tetap melaju pergi. Memacu motornya dengan kecepatan tinggi setelah sebelumnya sempat menghubungi Pak Rudi dan mendapati fakta kalau adiknya belum berada di rumah. Zafran tak peduli, saat pengendara lain mengumpati cara berkendaranya yang lebih mirip seperti orang tak tahu aturan. Zafran tak peduli, saat berkali-kali dirinya dimaki karena hampir menabrak pejalan kaki yang sedang melintas di hadapan. Zafran tidak peduli, karena yang ia pedulikan hanya Kean.
Sudah ia katakan, jika itu tentang Kean, Zafran berani mempertaruhkan segala hal. Bahkan jika itu hidupnya sendiri, Zafran tak akan pernah ragu memberikan. Untuk Kean.
Hanya Kean.
•••
Zafran baru saja menghentikan motornya di depan gerbang sekolah saat ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar, menampilkan nama Pak Rudi sebagai si pemanggil dan menyampaikan kabar bahwa Kean baru saja tiba di rumah beberapa menit lalu. Zafran lega luar biasa. Dia membuang napas keras sambil menyibak helai rambutnya ke belakang, kebiasaannya setiap kali merasa lepas dari ketegangan.
Namun, kelegaannya tak berlangsung lama, karena di menit selanjutnya satu panggilan masuk kembali membuat punggung cowok itu menegang. Zafran ingin menghindar seperti yang belakangan selalu ia lakukan, tapi ia sadar, semakin ia menghindar maka ia akan semakin dikejar. Akhirnya, setelah menimbang selama beberapa detik, Zafran memutuskan untuk menggeser tanda warna hijau di layar. Sejenak ia memejam, mempersiapkan diri untuk mendengar suara yang paling tidak ingin ia dengar.
"Zafran?"
Sebelah tangan Zafran mengepal. Bahkan baru mendengar sapaannya saja, Zafran sudah merasa dunianya berputar dengan gila. Zafran tahu, pembicaraan dengan orang itu tidak pernah berakhir baik-baik saja tanpa luka. Meski luka itu bukan untuk dirinya, tetap saja Zafran selalu bisa merasakan pedihnya. Pedih yang tertuju kepada orang yang bahkan tidak mengetahui apa-apa.
"Iya, oma. Kenapa?"
Terdengar suara helaan napas berat di seberang sebelum akhirnya wanita yang Zafran panggil oma itu bersuara.
"Oma perlu bicara. Bisa kita ketemu?"
•••
Kean meletakkan kembali segelas air putih ke meja setelah berhasil menelan obatnya dengan sempurna. Dia kemudian membawa langkahnya menuju jendela, menyibak tirai putih yang menutup permukaan kaca hingga matanya bisa memandang bebas ke luar.
Langit berwarna jingga menyambutnya, sejenak membuat ia memejam, merasakan ketenangan yang belakangan sulit sekali ia dapatkan. Kean suka senja, tapi entah mengapa semenjak kepergian papa, menatap senja rasanya sama seperti sedang merayakan kehilangan. Kean kesepian. Ditambah sekarang Zafran kembali menjadi dirinya yang lebih senang menghabiskan waktu di luar. Bersama teman-teman, mengais tawa, mencari bahagia dengan cara yang tentu tidak bisa Zafran dapat saat sedang bersamanya.
Memangnya apa yang bisa Kean berikan? Cih! Orang seperti dirinya tidak akan bisa berperan banyak dalam hidup Zafran selain sebatas merepotkan. Kean bahkan sudah mulai mempersiapkan jika sewaktu-waktu kakaknya lelah dan memilih untuk meninggalkan. Walau jauh di dalam hati ia masih sangat percaya, bahwa Zafran akan tetap bersamanya apapun yang terjadi. Tapi, tidak ada salahnya mempersiapkan, bukan? Apalagi, baru-baru ini Kean mulai merasakan ganjil dari sikap Zafran yang sebelumnya tak pernah ia perlihatkan.
Helaan napas panjang terdengar seiring Kean membuka mata, kembali menatap sang jingga yang perlahan memudar. Sampai suara daun pintu yang dibuka kasar mengalihkan perhatian Kean. Dia berbalik, mendapati Zafran berdiri tepat di ambang pintu, menatapnya dengan binar yang tak mampu Kean artikan.
Kakaknya terlihat berantakan.
"Key, maaf. Gue lupa, sumpah."
Jadi, dirinya benar-benar mulai dilupakan?
Perasaan kecewa menelusup dadanya, tapi Kean tetap berusaha mengulas senyum setulus yang ia bisa.
"Nggak apa-apa. Gue juga tadi kelamaan, untung aja lo udah duluan. Kalau masih nungguin, jadinya malah gue yang nggak enak." Kean selalu sama. Pandai menutup luka dengan raut cerianya. Apa yang ia rasa adalah rahasia. Dukanya hanya akan terlihat seperti tiada. Lalu, semua hanya akan berakhir tanpa ada yang menyadari bahwa jauh di dalam relungnya ada luka yang ia biarkan menganga.
"Lo balik pake apa?" Zafran kembali buka suara tanpa beranjak dari posisinya.
"Angkot."
Seketika perasaan bersalah kembali menikam Zafran. "Serius Key, gue lupa. Sory banget."
"Udah deh ya, jangan dilanjutin lagi, gue geli. Kedengerannya kayak lo lagi minta pengampunan dari cewek lo gara-gara lupa jemput." Kean terkekeh di akhir kalimatnya, namun seperti biasa, Zafran hanya akan menanggapi dengan raut datar dan tatapan tak terbaca. Canggung, Kean memutuskan untuk kembali membuka suara sebelum dia mati karena kaku yang diciptakan kakaknya.
"Ngomong-ngomong, ini udah hampir empat jam dari waktu pulang sekolah. Lo habis darimana?"
Entah penglihatan Kean yang bermasalah, atau memang benar kakaknya terlihat menghindari pertanyaan yang ia lontar. Pemuda itu berpaling begitu saja dan mundur dari posisinya, bersiap meninggalkan tempatnya berpijak.
"Gue mau mandi, badan gue lengket."
Hanya itu. Setelahnya dia bergegas dan menjauh sampai derap langkahnya berganti menjadi suara daun pintu yang ditutup pelan.
Lagi, Kean merasakan ganjil yang sebelumnya sudah sempat ia pertanyakan. Kenapa Zafran menghindar dari pertanyaan yang bahkan terlalu sederhana untuk dipermasalahkan? Ini aneh dan Kean semakin yakin ada sesuatu yang kakaknya sembunyikan. Sesuatu yang tidak ia tahu, atau mungkin ... tidak boleh ia tahu.
Lalu, apakah ini juga pertanda bahwa firasatnya benar? Bahwa Zafran sedang berada pada tahap awal dimana dia akan segera bergerak meninggalkan?
•••
Zafran melempar asal ransel hitamnya kemudian membanting diri ke ranjang. Tatapannya lurus menembus putih pucat langit kamar, sementara pikirannya ia biarkan melayang.
Hari yang melelahkan. Zafran merasa badannya meronta minta diistirahatkan, namun pikirannya seolah enggan menuntun kelopak matanya untuk memejam. Dia hanya diam, membiarkan gema detik jarum menjadi satu-satunya pengisi jeda di sana. Lalu, tanpa diminta, ruang dalam pikirannya kembali memutar pertemuannya dengan oma beberapa waktu lalu.
"Kamu apa kabar? Sekolahmu gimana? Udah sibuk banget ya, sampai nggak sempet buat jawab panggilan oma." Wanita berusia enampuluh-an itu tersenyum setelah membelai puncak kepala Zafran dengan lembut. Sentuhan yang diam-diam selalu Zafran rindukan. Karena setiap tangan oma menyentuh wajahnya, Zafran seperti bisa merasakan sentuhan tangan lembut mama. Hangat ... membuatnya ingin memejam dan berharap sosok ibunya benar-benar akan ada di sana saat ia membuka mata.
Zafran buru-buru menepis pikirannya, mengerjap untuk menangkap lagi fokusnya yang sempat buyar. Dia meremat erat jemarinya, berusaha membunuh rindu yang tak sengaja datang saat ia kembali mengenang sosok yang telah lama berpulang.
"Aku baik. Langsung ke intinya aja, oma. Oma mau ngomong apa? Kalau soal permintaan oma yang waktu itu, maaf, jawabanku tetep sama. Aku nggak bisa." Zafran tidak suka basa-basi. Lagipula, dia sudah tahu alasan oma mengundangnya kemari.
"Zaf, oma bisa kasih kamu kehidupan yang layak kalau kamu mau tinggal sama oma. Coba kamu pikirin, masa depanmu masih panjang, kamu butuh biaya yang nggak sedikit sementara papamu udah nggak ada. Kamu pikir siapa yang akan membiayai hidup kamu ke depan? Seenggaknya, kalau kamu tinggal sama oma, oma bisa menjamin kamu nggak akan kekurangan apapun. Kamu bisa sekolah setinggi yang kamu mau, menjadi apapun yang kamu ingin, dan yang pasti, masa depanmu terjamin."
"Cuma aku?" Pertanyaan Zafran kali ini berhasil membuat oma mengernyit dalam.
"Maksud kamu?"
"Oma cuma mikirin masa depanku. Terus gimana sama adikku? Kean juga punya masa depan. Kenapa cuma aku yang oma perjuangin?"
Zafran bisa melihat wajah renta wanita itu mengeras. Hanya sebentar, sebelum dia kembali mengubahnya menjadi tenang. "Zaf, oma ngajak kamu ketemu bukan untuk membicarakan anak itu. Tolong, pikirin dirimu sendiri."
"Aku selalu nempatin Kean di atas kepentinganku sendiri. Kean prioritasku, oma. Aku ingetin kalau oma lupa."
Namun, jawaban Zafran berikutnya kembali membuat gemuruh di d**a wanita itu membuncah. Dia tidak suka nama itu dibawa dalam setiap perbincangan mereka, dan sekarang dia harus mendengar nama itu disebut berkali-kali oleh cucu kesayangannya. Cucu yang selalu ia banggakan. Yang ia anggap pertama dan selalu satu-satunya.
Sejenak, wanita itu memejam dan menghela napas panjang, berusaha meredam emosi yang sempat menguar. Dia kembali menatap Zafran, hangat, tapi kali ini Zafran tak akan terjebak. Dia tahu, oma sedang berusaha keras membujuknya agar bersedia berjalan pada jalur yang ia buat.
"Zaf, oma sayang kamu. Oma butuh kamu. Oma udah tua, memangnya kamu nggak mau nemenin oma?"
"Udah ada Arlesh yang nemenin oma di rumah. Oma nggak sendirian."
Ada sedikit rasa nyeri dalam d**a Zafran saat ia menyebut nama itu. Arlesh. Bocah lelaki yang lima tahu lalu oma adopsi dari panti asuhan untuk menemaninya tinggal. Bocah yang kemudian tumbuh dengan begitu banyak kasih sayang. Arlesh anak yang baik, tidak banyak menuntut walau sekarang memiliki banyak hal, penurut dan sangat menyayangi oma seperti orang tuanya sendiri. Tidak ada satupun dalam diri Arlesh yang pantas untuk dibenci, tapi tetap saja Zafran tidak pernah nyaman menyebut namanya.
Katakanlah Zafran kekanakan, karena dia tidak menyukai Arlesh hanya karena oma lebih menyayangi anak itu daripada Kean. Bahkan, oma menempatkan Arlesh di posisi yang seharusnya diisi oleh Kean. Posisi sebagai cucu kedua di dalam keluarga mereka. Zafran tidak habis pikir, mengapa oma harus bersusah payah mencari cucu lain di saat ia punya Kean yang siap memberinya kasih sayang tanpa pernah menuntut balasan? Kenapa oma tidak pernah melihat keberadaan Kean padahal anak itu selalu berdiri sejajar dengan Zafran?
Kean juga cucunya. Tapi kenapa oma memperlakukannya berbeda? Ini tidak adil dan Zafran jelas merasa terluka untuk adiknya.
"Tapi kamu cucu oma, Zafran. Oma butuh cucu oma." Tangan oma terulur maju, berusaha menggenggam jemari Zafran. Tapi cowok itu lebih dulu menghindar kemudian bangkit dengan kasar.
"Kean lebih butuh aku, oma. Maaf."
Zafran mengakhiri pikirannya dengan tarikan napas panjang lalu memaksa kelopak matanya untuk memejam. Dia tahu, hari-hari ke depan tidak akan mudah dan dia harus siap dengan segala uji yang mungkin akan berdatangan.
Oma tidak akan menyerah begitu saja. Zafran tahu itu.