Lembar Kelima

1553 Words
Hal yang paling Zafran benci adalah ketika dirinya dihadapkan pada situasi mencekam dengan ketegangan luar biasa. Dimana batinnya menyerukan perintah untuk bergerak secepat yang ia bisa, namun langkahnya justru mengkhianati tanpa peduli resah yang ia rasa. Tangga menuju lantai dasar gedung sekolahnya tiba-tiba terasa lebih panjang dari yang seharusnya. Ruang-ruang terasa lebih banyak dan lorong itu seperti tidak ada ujungnya. Zafran mempercepat langkah, namun kakinya tidak bisa bergerak segesit biasa. Panik membuat cowok itu hampir gila. Dia mendengkus frustasi dan berkali-kali mengumpat dalam hati, sejak kapan ruang kelas Kean menjadi sejauh ini? Kerumunan siswa mulai terlihat dan Zafran semakin mempercepat langkah. Dia berlari tanpa peduli orang-orang yang tak sengaja ia tabrak, kemudian membelah kerumunan dengan brutal. Suara gaduh terdengar lengkap dengan teriakan para murid perempuan tepat saat ia datang. Zafran mengedarkan pandang, sampai matanya berhasil menemukan sosok familiar di sudut ruang. Kean, adiknya, terduduk di lantai sambil sesekali menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya yang robek. Tanpa aba-aba, Zafran menghambur maju dan langsung menerjang dua orang yang sedang bersitegang di hadapan Kean. Pekikan para siswi semakin mendominasi, tapi Zafran tak peduli. Dia menarik Kean berdiri dan mengecek kondisinya sekilas. Zafran bisa melihat dahi Kean mengeluarkan darah dan sudut bibirnya robek. Juga ada lebam di bawah matanya yang terlihat sedikit bengkak. Melihat adiknya seperti itu, amarah Zafran memuncak. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat sebelum akhirnya berbalik menghadap dua orang lain di sana. "Siapa yang bikin adek gue kayak gini?" Nada bicaranya datar dan dingin. Tatapannya tajam, seolah ingin menerkam semua yang ada di hadapan. Kean yang berdiri di belakangnya meraih lengan Zafran, berusaha membuatnya tenang. Namun, bukannya reda, amarah Zafran justru membuncah saat dua orang di sana sama sekali tak bersuara. "SIAPA YANG BIKIN ADEK GUE KAYAK GINI?" Kali ini teriakan Zafran berhasil membungkam semua orang. Tidak ada yang berani bergerak dari posisinya, semua diam dengan raut gusar. Zafran bukan tipikal murid pembuat onar, bukan pula preman sekolah yang hobi membuat masalah. Zafran hampir tidak pernah terlihat marah, tapi percayalah, melihat dia berteriak seperti barusan benar-benar berhasil membuat semua orang resah. Zafran begitu mengerikan, jauh lebih mengerikan daripada Dakar--si perusuh nomor satu di sekolah. "Kak, udah deh, gue nggak apa-apa. Jangan bikin masalah." Kean berusaha menarik Zafran mundur dari posisinya. Namun, cowok itu justru menatapnya tajam, memintanya untuk diam. "Lo diem! Ini jadi urusan gue sekarang." "Mereka nggak salah, gue yang salah. Lo nggak perlu marah-marah, oke?" Zafran tidak peduli. Dia kembali maju dan menghunuskan tatapan tajamnya pada dua orang itu. Mata-mata penuh amarah itu beradu, namun sampai beberapa detik berlalu, dua orang di depan Zafran masih saja bisu. Jengah, Zafran mendengkus keras kemudian melempar pandangannya pada kerumunan di sekitar. "Lo!" Telunjuknya tertuju pada seorang gadis berkacamata di barisan paling depan, "kasih tau gue, siapa yang bikin adek gue luka kayak gini?" Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat, tangannya gemetar, tapi dia tetap berusaha membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Zafran. "T-tadi Rio sama Saga berantem, terus Kean coba misahin mereka, tapi Saga malah balik mukul dia dan nggak sengaja ngedorong dia sampai dahi Kean kebentur meja. Gitu, kak." Gadis itu menunduk setelah mengakhiri kalimatnya, sama sekali tak berani menatap Zafran maupun Saga yang sudah menikamnya dengan tatapan tajam. Tangan Zafran semakin erat mengepal. Dia mengembalikan pandang ke depan, tepat pada seorang lelaki dengan rambut cepak acak-acakan. "Lo yang namanya Saga?" Cowok bernama Saga itu hanya diam, namun tatapannya jelas menantang. Zafran hampir saja melayangkan tinjunya ke wajah itu jika saja tangan Kean tak segera mencengkeram lengannya dan menariknya secara paksa. "Ikut gue!" "Enggak sebelum gue ngehajar orang ini!" "Ikut gue!" "Key!" "Gue bilang ikut!" Zafran tak membalas setelahnya, hanya mengikuti kemana Kean menariknya pergi. Zafran baru akan menyentak cengkraman Kean di lengannya saat ia mendengar anak itu bersuara. "Ke UKS! Obatin gue!" ••• Tidak ada yang bersuara sejak keduanya memasuki ruang kesehatan sepuluh menit lalu. Hanya diam dan membiarkan tempat itu dibalut beku. Zafran benar-benar hanya bungkam sementara Kean sibuk memerhatikan bagaimana tangan itu begitu cekatan namun tetap penuh kehati-hatian mengobati lukanya. Kean terlalu mengenal Zafran. Dia tahu pemuda itu marah, bisa jadi karena Kean tak memberi kesempatan padanya untuk meluapkan amarah. Bisa jadi juga karena sikap kurang ajarnya tadi yang tak sengaja membentak. Kean menghela napas. Kalau sudah begini, dia yakin membujuk kakaknya tak akan menjadi perkara mudah. "Kak, maaf." Akhirnya, setelah cukup lama suaranya tenggelam, Kean memutuskan untuk kembali membuka obrolan. Namun, Zafran hanya diam dan fokus pada pekerjaannya tanpa berniat membalas kalimat Kean.  "Gue dicuekin nih?" Zafran sengaja menekan plester yang baru selesai ditempelkannya ke dahi Kean, membuat pemuda itu meringis pelan, kemudian mundur satu langkah dari posisinya. Wajahnya datar, tatapannya juga sama sekali tak menunjukkan apa yang sedang dia rasakan. Selalu seperti itu. Zafran selalu menjadi Zafran yang rumit dan penuh rahasia hingga Kean tak pernah bisa membaca geriknya. Satu-satunya yang membuat Kean dapat menerka adalah getar tak biasa yang terdengar ketika sedetik kemudian dia membuka suara. "Gue udah pernah bilang, jangan suka ikut campur urusan orang. Cukup diem di tempat lo, pura-pura nggak liat, atau pergi aja sekalian. Jangan pernah coba-coba buat masuk ke masalah orang lain." Kean berdecak pelan setelah kalimat Zafran selesai. "Mereka temen gue. Temen sekelas. Nggak mungkin gue jadi penonton doang di saat liat temen gue mau tonjok-tonjokkan." "Dan ngebiarin diri lo jadi korban kebrutalan mereka?" "Gue cuma kurang hati-hati. Lagian, cowok mah wajar luka gini doang. Gue malah ngerasa aneh kalau gue nggak pernah dapet luka sama sekali. Muka gue mulus amat njir, udah kayak pahanya Song Hye Kyo aja." Kean mengakhiri kalimatnya dengan tawa, tapi Zafran justru bereaksi sebaliknya. Cowok itu menatap tajam ke depan kemudian berbalik memunggungi Kean. "Liat-liat situasi kalau mau ngelawak." Ucapnya lalu berjalan menjauh dari ruang dimana Kean hanya bisa diam memandangi punggungnya yang perlahan menghilang. Sekarang hanya tinggal ia sendiri di sana. Memaku, menatap daun pintu yang baru saja ditutup dengan kasar. ••• Zafran baru saja keluar dari kelas dan berjalan menuju parkiran saat ponsel di sakunya kembali bergetar. Dia berhenti, melirik nama yang tertera di layar dan berakhir dengan mendengkus kasar. Zafran memutuskan untuk tidak menjawab panggilan itu dan melanjutkan langkah menuju motornya. Sendy sudah menunggu di sana, ditemani Rayyan dan Gael yang juga sudah siap di atas motor masing-masing. "Sejak kapan parkiran sekolah beralih fungsi jadi tongkrongan?" Zafran berucap datar saat ia sudah tiba di antara teman-temannya. Sendy yang berada paling dekat dengan posisi Zafran segera beralih pandang dan tersenyum lebar. "Sejak gue kenal sama lo, lo, dan lo!" Ujar Sendy. Telunjuknya terarah pada Zafran, Rayyan dan Gael bergantian sebelum akhirnya kekehan pelan dari dua orang di sebelahnya terdengar. "Zaf, ikut kita futsal yuk! Bosen nih dari kemaren nggak ada kegiatan." Gael menjadi yang pertama mengutarakan tujuan mereka berkumpul di parkiran siang ini. "Basket aja lah. Kita two on two, gimana?" "Boleh. Gue sama Gael, lo sama Sendy." Rayyan tak ingin ketinggalan ambil suara. Dia tersenyum puas saat melihat reaksi tiga orang lainnya. "Deal." Sendy mewakili suara teman-temannya. "Kita cabut sekarang?" Tak ada yang bersuara setelahnya. Hanya mengangguk penuh semangat kemudian bersiap dengan motor masing-masing. Zafran menjadi yang terakhir meninggalkan parkiran, namun segera menyusul dan memimpin perjalanan begitu roda-roda itu berhasil melewati gerbang. Mungkin benar, Zafran butuh hiburan. Terlebih setelah beberapa hari ini dia terus diteror oleh orang yang paling tidak ia inginkan dan dipaksa melakukan hal yang paling tidak bisa ia lakukan. Zafran perlu bersenang-senang, setidaknya untuk sejenak melupakan beban yang harus ia pikul di hari-hari ke depan. Yang Zafran tidak sadar, pagi tadi dia berangkat bersama Kean dan sekarang dia melupakan fakta bahwa adiknya masih berada di sekolah, menunggunya, entah sampai berapa lama. ••• Kean masih sibuk menyalin catatan di papan tulis saat satu per satu temannya bergegas meninggalkan kelas. Gara-gara sempat ketiduran saat jam pelajaran terakhir tadi, dia harus merelakan waktu pulangnya terulur sejenak untuk menulis catatan yang kata ketua kelas harus dikumpulkan besok pagi juga. "Belum kelar, Key?" Kean menoleh sekilas pada Yama yang sudah berdiri di sampingnya sambil mencangklong tas. Menggeleng singkat sebelum kembali memfokuskan diri pada apa yang harus ia tulis. "Bentar lagi nih." "Mau gue temenin dulu?" "Nggak usah, duluan aja. Bentar lagi kelar kok gue." Kean sudah kembali menulis, tapi Yama masih belum beranjak dari tempatnya. "Lo balik naik apa?" "Nebeng kakak gue." Setelahnya Yama tak lagi bertanya. Hanya mengangguk singkat kemudian pamit untuk pergi lebih dulu. Mendengar nama Zafran disebut--meski tak secara langsung--sudah cukup membuat Yama merasa tak perlu mencemaskan temannya yang satu itu. Zafran ada di sana dan Kean tak akan kekurangan apa-apa. Maka dengan langkah ringan dia berjalan keluar kelas, membiarkan Kean tenggelam dalam kesibukannya. Hingga limabelas menit kemudian Kean akhirnya menyelesaikan semua. Dia menutup bukunya, memasukkan ke dalam tas kemudian cepat-cepat bergegas meninggalkan kelas. Zafran pasti sudah menunggu lama. Kean tahu, kakaknya benci menunggu dan sepertinya semua orang pun begitu. Dia sedikit berlari menuju parkiran yang ternyata tinggal menyisakan dua mobil guru dan lima sepeda motor siswa. Kean mengedarkan pandang, berusaha mencari sosok kakaknya, namun yang ia temui hanya hampa. Sepeda motor warna merah yang selalu menjadi kesayangan kakaknya itu pun tak ada. Apa Zafran sudah pergi? Apa dia membuat Zafran menunggu terlalu lama sampai akhirnya memilih untuk meninggalkannya saja? Kean segera merogoh ponsel di saku, berniat menghubungi Zafran, namun yang ia dapati justru layar gelap tanpa warna. Ponselnya mati, sepertinya kehabisan daya. "s**l, gue balik naik apa dong? Mana duit pas-pas an banget lagi." Kean mulai mendumal sendiri, tapi kemudian dia ingat, Zafran sedang marah padanya. Cowok itu bahkan meninggalkannya di ruang kesehatan begitu saja dan tidak menanyakan keadaannya lagi setelah keluar dari sana. Benar. Zafran pasti marah makanya dia kembali meninggalkan Kean sepulang sekolah. Kean diam dan menghela napas panjang. Menggenggam erat ponsel di tangan, sementara pandangannya menatap penuh sesal ke depan. Satu yang sekarang mengusik pikiran, apakah ini pertanda dirinya mulai tak dipedulikan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD