Lembar Keempat

1237 Words
Suasana meja makan pagi ini tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Sepi ... tanpa hangat canda yang biasa mengisi. Hanya saja, kali ini Kean tidak sendiri. Di sana, di seberang meja, kakaknya baru saja meletakkan sepiring omelet dan mendorongnya tepat ke hadapan Kean yang sejak tadi hanya memerhatikan bagaimana pemuda itu bekerja. Kean tersenyum saat lagi-lagi Zafran menyodorkan segelas s**u coklat ke depannya. Lalu dia sendiri duduk setelah menuang air putih ke dalam gelas. Zafran tidak suka s**u. Tidak suka teh. Tidak suka kopi. Pokoknya, dia tidak suka minuman yang memiliki rasa--kecuali soda. Berbeda dengan Kean yang maniak manis dan segala macam minuman berperisa. Perlu digaris bawahi, Kean dan Zafran memang selalu bertentangan dalam hal selera. "Hari ini gue nebeng lo, ya?" Zafran hanya melirik sekilas ke arah Kean dan kembali sibuk menuang nasi ke piringnya. "Gue bawa motor." Satu lagi, Kean tidak suka naik motor. Dan Zafran tidak bodoh untuk membawa anak itu pergi bersamanya. Namun, jawaban Kean selanjutnya justru membuat Zafran mengernyit tak percaya. "Nggak apa-apa. Gue juga lagi nggak pengin naik mobil." "Kalau alasan lo mau nebeng gue karena takut gue kabur lagi, tenang aja, lo boleh ngikutin gue di belakang." Kean terkekeh, tapi kemudian dia meredupkan pandangannya. "Sebenernya bukan itu." "Terus?" "Gue mau biasain diri naik motor. Sekarang udah nggak ada papa, kita harus hemat, sebisa mungkin ngurangin pengeluaran, jadi ... gue pikir mobil harus dijual." Zafran sontak menghentikan kegiatan dan menatap Kean tajam. Dalam hal apapun, Kean selalu bisa bersikap lebih dewasa darinya, tapi untuk keputusan yang satu ini, Zafran jelas tak bisa menerima. Cowok itu menggeleng tegas sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. "Harta papa masih banyak, lo nggak perlu takut. Nggak usah jual mobil, lo butuh itu. Kalaupun nanti kita kekurangan duit, gue bisa kerja." Kean bisa menangkap kesungguhan dalam nada bicara kakaknya. Tanpa dijelaskan pun, dia tahu Zafran pasti akan melakukan apapun untuk menghidupi mereka berdua. Tapi, yang menjadi permasalahan sekarang adalah mereka hanya dua bocah belia yang hidup sebatang kara. Tentu saja, masa depan mereka yang panjang memerlukan biaya yang tak sedikit jumlahnya. Disamping bekerja, tentu mereka harus bisa menghemat pengeluaran. Lagipula, mobil mereka itu keluaran perusahaan ternama yang jika dijual pasti akan menuai harga luar biasa. Dengan uang itu, Kean yakin setidaknya mereka bisa menabung untuk masa depan. "Biaya hidup kita ke depannya nggak sedikit, kak. Harta papa emang banyak, tapi kalau dipake terus menerus tanpa ada pemasukan lama-lama pasti habis. Gue tau lo bisa kerja, gue juga, tapi kita tetep harus hemat. Lo harus inget kalau sekarang keadaan udah beda. Kita nggak bisa hidup kaya dulu lagi." Zafran diam setelah kalimat Kean terlontar. Berpikir, dan berakhir pada kenyataan bahwa adiknya memang selalu benar. Bahwa sebaik apapun kita merencanakan, kehidupan tak selalu bisa berjalan sesuai dengan keinginan. Tidak ada yang bisa menebak hari-hari ke depan, juga badai apa lagi yang akan datang, jadi mengantisipasi segalanya mulai dari sekarang adalah pilihan yang paling benar, seperti kata Kean. Namun, di saat Zafran mulai yakin dengan pemikirannya, satu fakta itu lagi-lagi membuat dirinya gusar. "Tapi kalo mobil dijual, elo gimana?" "Angkutan umum banyak. Gue bisa naik bus. Atau nebeng lo terus, mungkin? Itu juga kalo lo nggak ada jadwal antar-jemput gebetan, sih." Kean mengakhiri kalimatnya dengan kekehan. Sementara Zafran mendelik tajam. Ingatlah bahwa Zafran itu jomblo abadi meski memiliki tampang yang mumpuni. Jadi, disindir soal gebetan jelas membuat harga diri cowok itu terlukai. Sadar akan reaksi sang kakak, Kean buru-buru tersenyum mengalihkan. Dia melanjutkan kalimatnya setelah sebelumnya tertawa pelan. "Udah nggak usah pikirin gue, gue nggak papa kok naik angkutan kemana-mana, yang penting kita masih bisa hidup tenang tanpa harus dikejar utang seenggaknya sampe beberapa tahun ke depan." Kali ini Zafran hanya bisa menghela napas panjang. Menatap Kean lama sebelum akhirnya beralih pada menu sarapan yang belum ia sentuh sejak keduanya memulai perbincangan. Baiklah, sepertinya Zafran memang harus mengakui kalau Kean punya kemampuan luar biasa untuk membuatnya luluh hanya dengan beberapa bujukan. Hal yang sampai detik ini tidak bisa dilakukan oleh orang lain, bahkan papa sekalipun. Hanya Kean. Benar-benar hanya Kean. "Terserah lo lah. Gue ngikut aja." Kean lagi-lagi mengembangkan senyumnya. Matanya masih terpaku pada sosok itu, mengamati bagaimana dia bergerak. Diam-diam perasaannya menghangat, meski semua tak lagi sama dan dia telah kehilangan banyak hal, setidaknya masih ada Zafran yang bertahan di sana. Masih ada Zafran yang bisa ia mintai perlindungan. Setidaknya, Kean masih punya Zafran yang ia tahu tak akan pernah meninggalkan. "Gue tau gue cakep, nggak usah diliatin terus, nanti lo sirik." Suara Zafran akhirnya berhasil memecah pikiran Kean. Cowok itu terkekeh menanggapi kalimat Zafran dan setelah memutuskan untuk mengabaikan rasa percaya diri kakaknya yang keterlaluan, Kean memilih beralih pada kegiatan makannya yang sempat tertahan. Beberapa saat hening, sampai getar ponsel Zafran di atas meja kembali merebut perhatian. Kean bisa melihat bagaimana Zafran membaca sesuatu di sana dan berakhir membeku setelahnya. Wajahnya menegang, namun sesegera mungkin dia mengubah raut mukanya menjadi lebih tenang. "Kenapa, kak?" tanya Kean. Zafran refleks menyimpan ponselnya ke saku kemudian menggeleng pelan. "Nggak papa. Lanjutin aja makannya. Jangan lupa obat lo habis ini!" Dan Zafran benar-benar tak mengatakan apapun lagi setelahnya. Dia hanya diam, menghabiskan porsi makannya tanpa berniat membuka obrolan. Sementara Kean hanya bisa bungkam sambil memerhatikan. Matanya memincing, berusaha menangkap gelagat tak wajar yang Zafran tunjukkan. Binar mata itu tetap tenang dan wajahnya masih tetap datar, namun entah mengapa ... Kean merasa ada sesuatu yang kakaknya sembunyikan. ••• Gedung tak terpakai di lantai teratas sekolah selalu menjadi tempat Zafran menghabiskan waktu selama jam istirahat berlangsung. Zafran tidak suka berisik, maka dia lebih memilih menyendiri di lorong gelap itu. Lorong menuju gudang penyimpanan kursi-kursi bekas yang hampir tak pernah terjamah. Di sana senyap dan nyaris tak ada pencahayaan selain remang sang surya yang menerobos melalui celah. Namun, di tempat itu justru Zafran bisa menemukan tenang yang tak bisa dia dapat saat dirinya membaur dengan sekitar. Karena hanya di sana dia bisa merasa bebas. Hanya di sana, dia bisa menjauh dari suara orang-orang yang membuat telinganya kebas. Detik konstan jarum jam tangan yang Zafran kenakan menjadi satu-satunya pemecah keheningan. Terdengar seperti melodi bagi Zafran yang memang gila ketenangan. Sejenak cowok itu memejam dan menghela napas panjang, membiarkan pikirannya melayang. Belakangan, hidupnya seperti dibawa pada titik dimana duka datang secara berurutan. Dimulai dari Kean yang divonis menderita kanker hati enam bulan lalu hingga kecelakaan hebat yang merenggut nyawa papa. Semua menjadi berkali-kali lipat lebih berat bagi Zafran karena dia harus kehilangan penopangnya. Dia harus benar-benar berjuang keras untuk membuat dirinya tetap waras dan mempertahankan hidupnya di dunia. Sekarang, ketika ia mulai berpikir semua akan baik-baik saja dan berniat menata kembali hidupnya, satu masalah baru kembali menyapa. Lagi, helaan napas kasar terdengar di tengan senyap yang membentang. Zafran beralih, meraih ponselnya dan membuka kembali pesan yang pagi tadi ia terima. Matanya terpaku pada aksara yang berjajar rapi di sana, namun, yang membuat batinnya meronta adalah apa yang orang itu minta melalui pesannya. Fokus Zafran masih sepenuhnya terkunci pada pesan itu, sampai suara langkah seseorang menaiki tangga terdengar jelas disusul teriakan yang berhasil membuat perhatian Zafran teralih begitu saja. Dia menoleh, mendapati Sendy berlari brutal ke arahnya dengan napas memburu hebat. "Darurat, Zaf! Darurat!" Cowok itu berujar di tengah deru napasnya yang menggila. Sementara Zafran menatap tanpa minat ke arahnya, seolah hafal betul dengan kebiasaan cowok itu yang gemar mengelabuhi orang dengan hal-hal tidak berguna. "Apanya yang darurat?" "Pokoknya ... lo harus buru-buru ke bawah. Adek lo ... darah ..." Detik itu, kerja jantung Zafran seperti dihentikan begitu saja. Kedua matanya membola, menatap lurus Sendy yang masih sibuk mengatur napas. Mulut cowok itu kembali terbuka, ingin melanjutkan kalimatnya, namun Zafran lebih dulu mendorongnya menjauh dan berlari brutal menuruni tangga. Mengabaikan pekikan Sendy yang menggema di sepanjang lorong  gelap itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD