Lembar Ketiga

1295 Words
Dingin ruang itu menjadi hal pertama yang menyambut kepulangan Zafran. Sejenak, kakinya berhenti setelah selangkah melewati pintu. Dia membeku, membiarkan pandangannya menyapu sekeliling. Hampa. Tak ada lagi hangat sapa yang biasanya selalu menyambut hadirnya. Tak ada tawa yang seolah menariknya untuk melakukan hal serupa. Tidak ada Papa ... yang selalu menemaninya berbagi cerita. Sesak itu kian nyata dan Zafran mulai tertikam oleh siksanya. Dia rindu, sayang ... rindunya tak akan pernah tertuju. "Kak?" Suara Kean disusul tepukan pelan di pundaknya membuat Zafran tersadar. Dia mengerjap lalu beralih pada Kean yang menatapnya heran. "Kenapa?"  Zafran menggeleng singkat. Tidak ingin membawa pikiran barusan ke dalam perbincangan yang lebih panjang. Lebih dari itu, dia tak ingin kembali berdebat dengan Kean. "Nggak. Lo masuk aja duluan, mandi, habis itu langsung istirahat." Bukannya beranjak, Kean justru memincingkan mata. "Lo ... nggak lagi ngerencanain buat kabur lagi, kan?" "Kalau lo masih curigaan gini, mungkin gue bakal bener-bener berubah pikiran." Kean hanya menanggapi jawaban Zafran dengan kekehan. Meski dikatakan dengan tampang datar dan nada tajam yang selalu jadi andalan, Kean tahu kakaknya tidak akan serius bertindak demikian. Yah, kecuali jika dia bertingkah menyebalkan atau membuat kesalahan fatal yang tidak bisa Zafran maafkan. "Gue udah suruh Pak Rudi kunci semua pintu dan stand by 24 jam. Jaga-jaga kalau lo beneran mau minggat lagi tanpa bilang-bilang." "Kalau gue mau, gue bisa aja keluar dari rumah ini dengan gampang. Gue selalu lebih licik dari lo, Key ... gue ingetin kalau lo lupa." Kali ini Kean melepas tawa, sementara matanya mengikuti punggung Zafran yang bergerak menuju dapur. Kean ingat, ini adalah tawa pertamanya semenjak kepergian papa. "Terserah. Tapi karena lo udah bilang gitu, gue bakal lebih waspasa." sahut Kean sebelum akhirnya berlalu, menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Meninggalkan Zafran sendiri di sana yang diam-dian mengubah pandangannya menjadi hampa. Dia menuang air putih ke dalam gelas, meneguknya hingga tandas kemudian kembali diam. Samar, telinganya menangkap suara pintu kamar Kean yang ditutup pelan, lalu semua hening di detik-detik selanjutnya. Tak ada suara. Sedang Zafran masih membeku di sana, berusaha meredam pedih yang menikamnya melalui setiap ingatan tentang papa. ••• Tengah malam, Kean mendorong pelan pintu kamar Zafran. Dia melongokkan kepalanya ke dalam dan langsung menangkap sosok Zafran yang masih terjaga di atas ranjang. Kean tersenyum singkat kemudian melangkah masuk tanpa persetujuan. Dia sudah menduga sejak awal, kakaknya itu pasti baru akan tidur setengah lewat tengah malam. "Kak," Zafran sontak mengangkat pandang, menatap heran Kean yang berjalan mendekat lalu melompat ke sisinya. "Belum tidur lo? Tumben," Kean menarik satu bantal di belakang punggung Zafran lalu berbaring nyaman. Dia memerhatikan kakaknya yang masih sibuk menatap layar ponsel sambil sesekali melontar u*****n. Perlu digaris bawahi, Zafran itu bukan orang yang serius, tapi dia bisa menjadi sepuluh kali lebih serius saat dihadapkan dengan game. "Belum ngantuk," jawab Kean. Dia sedikit mencuri pandang pada permainan di layar ponsel Zafran dan setelah memastikan dirinya tak tertarik untuk melihat lebih jauh, dia kembali membaringkan tubuhnya, membiarkan Zafran tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Mata bening Kean menatap lurus langit-langit kamar sementara pikirannya ia biarkan bebas berkeliaran, mengenang hari-hari yang telah terlewat. Kean ingat, dulu, saat semua penghuni rumah itu sudah terpejam, Zafran sering diam-diam menyelinap ke kamarnya dan membuat Kean terkejut setengah mati ketika esok harinya menemukan sosok lain berbaring memunggunginya. Kean kesal, tapi tidak pernah marah. Sebaliknya, dia justru merasa senang setiap melihat wajah damai kakaknya ketika ia membuka mata. Namun, seiring mereka dewasa, kebiasaan itu mulai berubah. Zafran tak lagi suka menyelinap ke kamar Kean tiap tengah malam. Sebagai ganti, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain game di dalam kamar. Menghibur diri dengan menonton film setiap kali mata enggan terpejam. Semakin hari, Zafran semakin berbeda. Mungkin karena faktor usia, dia jadi sungkan jika harus tidur bersama adiknya yang juga seorang pria. Tapi, pikiran itu rupanya tak sejalan dengan apa yang Kean rasa. Jujur saja, Kean merasa mulai kehilangan kakaknya. Untuk itu, di hari-hari selanjutnya, gantian Kean yang sering menerobos masuk ke kamar Zafran. Mengganggu kegiatannya dan berakhir dengan jatuh tertidur di ranjang besar Zafran yang selalu terasa nyaman. Awalnya Zafran tak suka, namun, Kean yang keras kepala terus mengulang hal serupa hampir setiap malam hingga lama-lama Zafran tak lagi mempermasalahkan. Dan kebiasaan itu terus berlanjut sampai sekarang. "Gue tidur sini, ya, Kak?" Kean kembali bersuara setelah cukup lama tenggelam dalam lamunan. Sejenak, ekor matanya melirik Zafran yang masih belum berpaling dari kesibukannya. "Ngapain pake ijin segala? Biasa juga gitu 'kan lo." Kean hanya melontar kekehan dan kembali menatap langit-langit kamar. "Selama lo nggak di rumah, gue hampir nggak pernah tidur di kamar gue sendiri." Suara Kean kembali terdengar. Kali ini, perhatian Zafran mulai tertarik ke sana. Dia menghentikan gerak jemarinya sesaat, memasang telinga sepenuhnya untuk mendengar apa yang akan anak itu ucap. "Kadang tidur di sofa, kadang di sini, kadang juga ... di kamar Papa." Dan detik itu, perhatian Zafran sepenuhnya lepas dari game di ponselnya. Matanya masih menatap layar yang menyala, namun pikirannya tak lagi berada di sana. Dia membiarkan permainan itu berakhir tanpa perlawanan yang seharusnya hingga tulisan game over terpampang begitu besar di layar. Zafran tak peduli. Sekarang, yang ada di benaknya hanya nama yang baru saja Kean sebutkan. Nama yang begitu ia rindukan. Nama ... yang telah berhasil membawanya ke dalam kehancuran. Sejenak Zafran memejam dan menarik napas panjang. Topik tentang papa selalu bisa membuatnya hancur untuk ke sekian kalinya. Maka Zafran segera memutus topik itu begitu saja. Dia meletakkan ponselnya di meja kecil samping ranjang lalu berpaling pada Kean. "Udah malem, tidur gih. Gue juga udah ngantuk." Setelahnya tak ada kata. Semua benar-benar hening setelah Zafran menarik selimut untuk mereka berdua lalu mulai memejamkan mata. Menyisakan Kean yang masih terjaga dan hanya mampu diam memandangi kakaknya. Dalam hati Kean menyadari, dia telah salah bicara. ••• Kean tidak tidur sampai pagi. Bahkan saat cahaya matahari mengintip dari balik jendelanya, Kean masih tetap terjaga. Mata bulatnya hanya tertuju pada sosok pemuda yang masih tenggelam dalam pejamnya, terbalut selimut tebal tanpa sedikitpun terusik deru napas Kean yang berembus kasar. Kean memandangi Zafran semalaman. Dia tidak tahu sejak kapan wajah tidur kakaknya menjadi hal yang lebih menarik daripada mimpi yang biasanya selalu ia damba. Kean tidak mengerti mengapa melihat sosok itu berada di sisinya bisa membuat ia lupa pada kantuk yang melanda. Yang Kean tahu, dia menemukan sesuatu dalam diri kakaknya yang sedikit berbeda dari yang terakhir kali ia lihat saat pemuda itu meninggalkan rumah. Seingatnya, dua minggu lalu wajah Zafran tidak setirus itu. Cekungan di bawah matanya tidak ada dan rambutnya tidak sekusam sekarang. Kean jadi ragu, apa selama ini kakaknya hidup dengan baik? Tangan Kean terulur pelan, hendak mengusap wajah tirus Zafran, namun gerakannya terhenti dan dia segera menarik diri saat melihat sosok itu menggeliat lalu mengerjap. Sejenak Kean bisu, kehilangan kata ketika iris gelap itu menangkap basah dirinya. Namun, detik berikutnya, tarikan ringan di sudut bibir Zafran seolah mencairkan semua. Pemuda itu memiringkan badan hingga menghadap Kean sepenuhnya. "Udah dari tadi bangunnya?" tanya Zafran. Kean balas tersenyum kemudian mengangguk. "Kok nggak bangunin gue?" "Mana berani? Pules banget gitu tidurnya. Kalo gue bangunin, yang ada gue kena sembur." Zafran terkekeh lalu bangun dari posisinya. "Kalau lo banguninnya pake cara yang bener ya gue nggak bakal ngamuk lah, Key. Kemaren-kemaren gue ngamuk karena lo-nya kurang ajar, bangunin orang kok kayak mau ngajak perang." Kean ikut bangkit dan tertawa kecil saat mengingat sederet perbuatan jahilnya. Dia bahkan masih ingat jelas bagaimana Zafran menendang pantatnya lalu mengumpatinya dengan berbagai kata. Dulu, saat semua masih baik-baik saja. Saat papa masih ada dan mereka belum mengenal apa itu luka. Sekarang keadaan sudah berbeda. Kean sadar, hari-hari yang akan mereka lalui ke depannya tak akan pernah sehangat dulu. "Lo mandi duluan sana! Gue mau bikin sarapan." Suara Zafran berhasil memecah pikiran Kean. Pemuda itu mengusap puncak kepala Kean sebelum akhirnya turun dari ranjang dan pergi keluar kamar. Kean kembali bisu setelah punggung lebar kakaknya tenggelam di balik pintu. Matanya masih menatap sekat kayu itu sedang tangannya terulur mentuh rambutnya sendiri. Di tempat yang sama dimana Zafran mendaratkan usapannya. Dia terdiam, lalu pelan-pelan senyumnya mengembang. "Seenggaknya gue tau lo masih peduli sama gue, Kak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD