Zafran, tidak pernah mengira hidupnya akan diputar pada titik terendah. Segalanya berubah. Ketenangan yang dulu selalu didapatnya sekarang lenyap, berganti resah yang selalu mengekor kemana pun ia melangkah.
Semua bermula sejak Papa berpulang. Papa ... yang selalu menjadi kekuatan bagi ia dan Kean. Sosok luar biasa yang selalu Zafran banggakan. Papa adalah satu-satunya yang mereka miliki setelah Mama lebih dulu berpulang setelah melahirkan Kean. Wajar, jika kepergian Papa cukup membuat jiwa Zafran terguncang.
Sekilas, pemuda tujuh belas tahun memang terlihat tenang. Dukanya tersamarkan dengan wajah datar yang selalu menjadi topeng andalan. Namun, jauh di dalam d**a, pemuda itu hancur. Wajar, karena Zafran memang begitu bergantung pada Papa. Wajar, karena dibandingkan Kean, Zafran memang lebih dekat dengan mendiang.
Dan semuanya tak lagi sama sejak Papa tiada. Tidak ada yang baik-baik saja dengan itu semua, baik Kean juga dirinya. Zafran tahu Kean tidak kalah hancur. Hanya saja, Zafran memang butuh lebih banyak waktu untuk belajar merelakan. Dia hanya belum bisa menerima kenyataan bahwa sekarang, di dunia yang keras ini, hanya tersisa mereka berdua.
"Minum, Zaf."
Zafran refleks mendongak dan dengan sigap menangkap satu kaleng soda yang dilempar ke arahnya. Sendy, melenggang di hadapannya lalu duduk di bibir jendela yang dibiarkan terbuka.
Salah satu perubahan besar yang terjadi sejak kepergian Papa adalah Zafran yang lebih suka menginap di rumah teman-teman daripada tinggal di rumah sendiri. Seperti dua minggu ini, Zafran memilih menginap di rumah Sendy yang orang tuanya sibuk melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Meninggalkan Kean di rumah dengan belenggu rasa sepi yang sangat Zafran benci. Bukannya Zafran tak peduli, hanya saja ... dia butuh lebih banyak waktu untuk menata hati.
"Malem ini lo masih nginep di sini, kan?" tanya Sendy. Zafran mengangguk singkat kemudian membuka dingin soda itu meluruhkan dahaganya.
"Lo nggak keberatan, kan?"
"Ya nggak, sih. Santai aja. Lo boleh tinggal di sini sampai kapan pun lo mau."
" Thanks ."
Sendy membalasnya dengan senyuman, walau masih ada satu hal yang membuat perasaan cowok itu tak nyaman. Dia meneguk sodanya lagi, matanya masih memandang Zafran namun pikirannya terlempar pada sosok lain di seberang. Sosok yang tak terlalu dekat ia kenal, tapi ia mengerti betul besar perannya dalam hidup Zafran.
"Masalahnya, adek lo emang nggak nyariin?"
"Dia tau gue nginep sini, kok."
"Dia nggak nyuruh lo pulang?"
"Nyuruh. Tapi masih gue diemin. Lagian tanpa dia suruh juga gue bakal pulang kok ntar." Zafran memberi jeda, kemudian mulai dengan suara pelan, "kalau gue udah bisa nerima kenyataan."
Sendy baru akan kembali bersuara saat ponsel Zafran yang tergeletak di tempat tidur berdering kencang. Zafran meraihnya, membaca sekilas nama yang tertera di sana sebelum akhirnya memutuskan untuk menggeser tanda warna hijau di layar.
"Ya. Kenapa, Pak?"
Pak Rudi, satpam yang sudah resah begitu Zafran selesai berucap. Zafran sontak menegakkan badan, bersiap mendengarkan setiap kalimat yang akan Pak Rudi sampaikan.
"Maaf, mas Zafran . Saya cuma mau mastiin , mas Kean lagi sama mas Zafran apa nggak, ya?"
Mendengar nama Kean disebut, Zafran semakin mempertajam pendengarannya. "Nggak tuh, Pak. Saya lagi sama Sendy. Kenapa emang? Dia belum pulang?"
"Iya, mas. Dari tadi siang saya belum melihat mas Kean pulang. Saya pikir pulang lagi ke rumah temannya, tapi sampai malam begini kok masih belum pulang juga. Makanya sekarang saya nanya ke mas. Saya pikir mas Zafran tau. "
Zafran diam sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk membicarakan itu dengan cepat.
"Oke, saya coba cari dia Sekarang. Bapak stand by terus aja, kalo dia udah pulang langsung kabarin saya. Saya tutup dulu."
Zafran tidak menunggu kalimatnya dibalas untuk memutus panggilan. Dia segera menyambar jaketnya kemudian berpamitan pada Sendy yang sejak tadi menatapnya heran.
"Gue pergi dulu, Send."
"Mau kemana?"
Tapi Zafran tidak perlu dan segera melesat keluar, menghambur ke garasi untuk mendapatkan motornya yang terparkir di sana. Kemudian memacu si kuda besi dari pelataran rumah Sendy yang luasnya lebih memudahkan lapangan sepak bola.
Zafran tidak punya tujuan. Tapi satu yang ada di pikirannya sekarang; dia harus menemukan Kean.
•••
Hampir dua jam berjalan Zafran berputar kota, mencari setiap sudut yang mungkin didatangi adiknya. Namun, usahanya masih belum membuahkan hasil apa-apa. Sekarang, perjalanan panjang itu membawa Zafran tiba di tujuan terakhir dari sekian banyak tempat yang terlintas di benaknya.
Motor Zafran menepi di sisi jalan yang malam ini tampak lengang. Dia melepaskan helm dan membuka mata menjelajah, memandang lama bangunan di depan sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dan berjalan mendekat.
Zafran ragu, namun dia tak ingin mengurungkan niat. Tidak ada salahnya mencoba dan kali ini dia mengharapkan keberuntungan. Zafran menarik napas panjang, memantapkan langkah menuju gerbang tinggi yang tampak begitu sunyi di malam hari. Gerbang yang setiap hari ia datangi. Karena saat ini, dia berada di depan gedung sekolahnya sendiri.
Lagi, helaan Breath kasar terdengar. Manik gelap Zafran menyapu sekitar dan tepat saat keraguan di kembali kembali, pria itu segera menepisnya dengan memanjat pagar lalu mendarat dengan aman. Tanpa berpikir panjang, dia segera membawa langkahnya menjelajah setiap sudut sekolah. Dengan pencahayaan remang, Zafran memperbaiki setiap ruang kelas, berharap akan menemukan adiknya di antara temaram yang semakin kelam.
Langkah panjang Zafran berhasil tiba di lapangan indoor yang gelap tanpa penerangan. Sejenak Zafran berhenti, melihat-lihat, hingga satu siluet di sudut lapangan berhasil memfokuskan fokusnya. Mata Zafran memincing untuk memastikan apa yang dilihatnya dan sedetik kemudian dia mendesah lega.
Meski pekat di sana, Zafran yakin tidak mungkin salah mengembalikannya. Punggung yang selalu terlihat tegak namun rapuh di baliknya. Perlahan, kaki Zafran tertuntun maju. Malam yang begitu sunyi membuat derap langkahnya menggema, hingga akhirnya mengangkat wajah dan memandang ke tempat Zafran berada.
"Kenapa nggak pulang?" Suara Zafran terdengar sangat tajam malam ini. Melebur bersama deru napas yang mengiringi. Dia menatap Kean, namun hanya bisa tersenyum dan kembali diam.
"Kenapa nggak pulang?" ulang Zafran dengan intonasi yang lebih tinggi. Zafran tidak mengerti mengapa dia sangat marah. Yang besar tahu, besar tidak suka melihat adiknya suka ini.
"Di rumah yang sama di sini yang sama aja, kok. Sama-sama sepi.
Zafran diam saat akhirnya Kean bersuara. Ada sesuatu yang membuat dadanya berdenyut, namun dia tak bisa menjelaskan apa alasannya. Yang Zafran tahu, ketika Kean membuka suara, Zafran bisa kekosongan luar biasa di setiap penggalan kalimatnya. Sesuatu yang sangat Zafran benci karena ia jelas tahu dirinya adalah salah satu penyebab kosong itu ada.
Beberapa saat hening membalut tempat itu. Kean masih asyik memerhatikan udara di depan dan Zafran pun masih diam. Sampai helaan napas panjang dari yang lebih tua akhirnya terdengar dan suaranya berhasil memecah kebisuan.
"Jangan kayak anak kecil gini, Key. Lo udah gede, udah bisa mikir. Gue rasa gue nggak perlu jelasin ke lo tentang gue yang mau sekarang."
"Gue? Kayak anak kecil?" Kean terkekeh pelan, sebelum kembali dilanjutkan. "Lo sendiri pergi dari rumah kayak pecundang. Sekarang terima kasih tau gue, siapa yang lebih kekanakan di sini?"
"Gue udah diperlihatkan berkali-kali sama lo, gue butuh waktu. Semua ini terlalu mendadak buat gue. Tolong , lo ngertiin posisi gue, Key."
"Gue kurang ngerti gimana, sih, kak? Oke, gue tau, dari dulu emang lo deket banget sama papa. Lo yang paling disayang, lo yang paling bisa diandalin di segala hal. Tapi mau sampe kapan lo kayak gini? Papa udah pergi, kayak gimanapun lo buat buat nggak percaya, lo nggak akan pernah bisa ngerubah mimpi kalau papa udah ada
"Gue tau, dan karena itu gue butuh waktu buat nerima kenyataan kalau Papa udah nggak ada. Gue bukan lo yang bisa nerima kepergian Papa gitu aja, Key"
"Tapi gue juga butuh lo, Kak." Suara Kean menurun. "Gue mau lo pulang."
Zafran bisa mendengar suara itu bergetar hingga membuat ia diam dan merenungkan semua. Setelahnya tak ada kata, hanya hening yang memeluk nyaman keduanya. Zafran masih menatap adiknya, membiarkan pikirannya bebas berkeliaran, bahkan sampai menembus ruang-ruang kelam di mana rasa itu ada. Tempat dimana dia menyimpan segala luka.
Dan di antara bungkamnya, dia akhirnya sadar ... ada luka lain yang jauh lebih lebar. Ada rasa sakit yang selama ini ia abaikan. Kean. Anak itu sudah banyak menderita, Zafran seharusnya tidak mencampakkannya begitu saja. Kean butuh dukungan, bukannya penolakan.
Bodoh ! Zafran mengumpati dirinya sendiri.
Perlahan, Zafran kembali bergerak maju sampai dia berdiri tepat di depan Kean yang masih menunduk menatap lantai. Sekilas, Zafran memerhatikan adiknya untuk kemudian berjongkok dan mensejajarkan posisi mereka. Selanjutnya, tangan Zafran terulur pelan, meraih tali sepatu Kean yang terlepas lalu mengikatnya dengan benar.
Sementara Kean hanya diam, memerhatikan bagaimana jemari Zafran bergerak lihai di sana. Sampai kegiatan selesai dan Zafran kembali berdiri tegak di depan Kean dengan wajah datarnya.
"Ayo pulang!"
Kean mendongak, tapi masih belum beranjak dari tempat. Mata sendunya memandang Zafran bimbang, seolah meminta penjelasan dari kalimat yang baru saja ia dengar.
"Gue hitung sampai tiga, kalau lo masih diem, gue berubah pikiran. Satu-"
Mendengar itu, Kean buru-buru bangkit. "Lo juga pulang?"
Zafran hanya berdeham singkat kemudian melangkah lebih dulu meninggalkan tempat itu. Membiarkan Kean mengekor dengan langkah kecil di belakangnya.
Diam-diam Zafran menghela napas panjang. Sejenak memejam untuk meredam pedih dari luka yang belum sepenuhnya hilang. Lalu ia mulai membisikkan kata-kata penenang bahwa keputusannya benar. Bahwa sekarang memang sudah saatnya ia kembali ke rumah yang beberapa hari ini ia tinggalkan. Tapi satu hal yang pasti; Zafran kembali, bukan karena ia telah benar-benar sanggup menerima kenyataan, melainkan karena sebuah tuntutan.
Karena dari awal, dia memang tidak pernah bisa menolak permintaan Kean.