Kean, menjatuhkan kepalanya di atas meja kantin karena bosan. Berkali-kali dia meniupi poni rambutnya sendiri, berharap dengan begitu rasa jenuhnya akan berkurang. Tapi percuma. Bukannya merasa baikan, Kean justru semakin kesal karena tindakannya yang tidak berguna dan kekanakan. Dia mengembuskan napas keras lalu duduk dengan tegak, membiarkan matanya menyisir seluruh penjuru kantin. Tapi hanya sebentar, sebelum dia menjatuhkan kembali kepalanya di meja dan mulai mengabaikan sekitar. Dia benar-benar merasa setengah mati kebosanan. Kakaknya tidak ada di kantin, tidak datang untuk makan, tidak pula untuk sekadar menemaninya duduk menghabiskan sisa waktu istirahat siang. Zafran seperti menghilang, padahal belakangan ini lelaki itu tidak pernah lagi meninggalkannya sendirian. Wajar. Ini sem
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


