Bab 8

687 Words
8. PELET(Terjebak Cinta Terlarang) Cium Jauh Sang Paman Penulis: Lusia Sudarti Part8 ************* Kucoba menepis semua dia pamanku, lebih muda dariku dan yang pasti bukan tipeku. Akhirnya kami pun berpamitan, satu-persatu menyalami kami, saling memeluk. Kami menuju mobil setelah semua siap, mobil pun berjalan perlahan. Entah hanya penglihatanku entah apa? Kulihat dari jauh, Paman melambaikan tangan sembari tersenyum manis dan memberikan k3cupan jauh (kiss bye). Jantungku serasa mau lepas, melihatnya. Lalu kualihkan pandanganku kedepan. Oh iya!..apa kabar ponselku ya? karena sibuk hampir lupa pada benda pipih kesayanganku itu. Ternyata begitu banyak panggilan tak terjawab dan SMS dari sahabatku. Kubuka satu-satu sms dari sahabatku, ada sms dari Arga. [Hai Maya? Lagi apa nih?] [Kok nggak balas sih?] [Kamu marah ya sayang?] [Pliisss jangan gitu donk?] [Balas sayang]. Rentetan SMS Arga. Heeem banyak sekali smsnya! Sebel banget deh. Masih aja panggil sayang! Aku jadi muak males balasnya," gerutuku dalam hati. "Mam," panggil bocilku. "Iya sayang, kenapa?" tanyaku. "Ngantuk mam," rengeknya manja. "Ya udah bobo sini," pintaku taruh kepalanya diatas pangkuanku. "Anjani mabuk?" kata Ibuku. "Nggak kok Mbah, cuma ngantuk," jawabnya. "Oh ya sudah bobo aja," sambung Ibuku lagi. Drrrttt! Drrrttt! Ponselku bergetar, memang sih aku silent dan hanya getar saja. "Arga," gumamku, Males angkatnya.. Drrrrttt! Drrrrttt! Kliik..! ku riject Tiing! notifikasi SMS. [Maya...Tega ya kamu?]," pesannya. Ku abaikan pesan Arga.. klik! Lebih baik begini. Akuu nonaktifkan ponselku. Aman deh," gumamku dalam hati. "May...ngomong-ngomong lagu. Orang desa kemaren kok pas banget kamu ganti syairnya, Mbah Uti beneran sedih loh," katanya sembari tersenyum kepadaku. "Iya Mbah, kan cocok Bapakku tukang, si Mbok tukang Pijet," jawabku seraya cengengesan. Ha ha ha." Semua tertawa terbahak-bahak. "Oh iyo May?" sambung Mbak Fatim. "Kamu ini, selalu benerr," sahut Bapak.. he he he," "Ya iyalah Pak," sahutku sombong. Sekitar 2 jam perjalanan lagi kami sampai, karena kami bawa bekal dari Mbah Herman, jadi tidak berhenti dirumah makan. Berhenti dipom bensin untuk menambah bahan bakar supaya tidak kehabisan dijalan. Kemudian berhenti tak jauh dari pom bensin untuk beristirahat. Kami istirahat sembari menyantap bekal dari Mbah Herman, kami memilih tempat dipinggir sawah yang terdapat saung disisi jalan, menikmati pemandangan sawah juga jalan raya. Setelah tiga puluh menit beristirah, kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Suasana hening, sopir mengendarai mobil dengan kecepatan sedang membelah jalan raya, yaitu jalinsum. Pemandangan indah dikota baturaja tak terlewatkan olehku. Kemudian daerah batumarta tempat kelahiranku. Para Embah dan Bapak, Ibu juga Mbakku semuanya terlelap, pun dengan Anjani. Hanya aku dan sopir yang tetap terjaga. Fikiranku kalut, gundah, was-was dan lain-lain. Entahlah... Aku merasa sepertinya akan ada hal buruk yang akan menimpaku. Tetapi aku tak tau hal apa, semoga aku dan keluargaku selalu dalam lindungan-Nya. Amiiin," aku memanjatkan doa. Aku mencoba untuk memejamkan kedua netraku, yang tiba-tiba terserang kantuk. Untuk beberapa saat lamanya aku terlelap. "May, bangun, kita sudah sampai," pipiku terasa ditepuk perlahan. Aku membuka kedua kelopak mataku, rupanya Ibu yang membangunkan aku, kemudian ku edarkan pandangan. Semua sudah bersiap untuk turun dari mobil. Aku pun bersiap untuk turun. Pukul menunjukkan 17:30, kami sampai rumah dengan selamat. "Alhamdulillahirobil alamin, kita sampai," ucap Bapak. Bapak mengantar tetangga yang ikut, kerumahnya masing-masing. ??? Aku menghempaskan bobot dikursi teras, merenggangkan otot-otot yang terasa kaku. 11A1njani menyalakan televisi untuk menonton film k1artun spongsbob favoritnya. Ibu dan Bapak pun duduk diteras, sedang Mas dan Mbak langsung pulang kerumahnya yang terletak dibelakang rumah Bapak. "Mandi dulu Pak, Bu capek!" Aku beranjak tanpa menunggu jawaban mereka yang masih bersantai, sembari ngobrol. "Mandi dulu sayang, biar seger," titahku kepada Anjani yang masih asyik didepan televisi. "Bentar lagi Ma," Aku hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Sebelum mandi, semua pakaian kotor kutaruh dikeranjang, kemudian aku mandi, tubuhku terasa lengket semua. Setelah membersihkan tubuh aku langsung rebahan, si bocil pun sudah terlelap. Kuraih ponsel yang ada dinakas, dan kunyalakan. Arga masih saja telpon dan sms. Nggak ada kapoknya nih bocah," gerutuku. "Apa sih telpan telpon," balasku sengit. Ting! Terdengar notifikasi terkirim. [Akhirnya kamu balas sayang]," balasan Arga. ("Iihh bukankah sudah kubilang, jangan telpon atau sms!") balasku lagi. Ting! Terkirim lagi. Dilayar sedang mengetik... Ting..! Balasannya datang kembali. [Maya sayang, aku gak perduli kamu gak suka tapi aku akan terus berusaha]," balasnya lagi. Dasar keras k3pala!" balasku lagi. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD