Bab 9

939 Words
9. PELET(Terjebak Cinta Terlarang) Kabar Dari Paman Penulis:LUSIA SUDARTI Part 9 ["Maya sayang, aku gak perduli kamu gak suka tapi aku akan terus berusaha]," balasnya lagi. "Dasar keras k3pala!" balasku lagi. Drrrtt! drrrrt! drrrrtt! Tiba-tiba ponselku bergetar, kulihat nomor tanpa nama. "hallo," jawabku. "halo Dek, ini Paman," suara Paman bergetar. "Oh Paman, ada apa Paman? Mau ngomong sama Bapak atau Ibu?" jawabku. "Iya Dek, mau ngomong sebentar," sahutnya. "Baiklah Paman tunggu ya?" balasku. "Siip," jawabnya lagi. "Buukk, ni Paman, anaknya Mbah Herman mau ngomong," teriakku, seraya menyerahkan ponsel kepada Ibu. "Halo Di, eneng opo? (halo Di, ada apa?)," tanya Ibu. "Enggak opo-opo Mbak (gak apa-apa Mbak)," sahutnya. "Guur arep dolan neng Sampean Mbak. (cuma mau main ketempat Mbak)," ujar Paman. "Ooh yo wes (oh ya sudah), kapan?" tanya Ibu. "Besok Mbak," jawabnya. "Iya wes nanti tak bilang Masmu ya?" jelas Ibu... "Iya Mbak..kasihin ke Adek Mbak, Aku mau ngobrol," pinta Paman. "Mayaaa," teriak Ibu. Aku bergegas menghampiri Ibu yang memanggilku. "Apa sih Bu! Teriak-teriak?" ketusku. "Ni loh Pamanmu mau ngobrol," sahut Ibu. "ohhh," jawabku sembari meraih ponsel yang diberikan Ibu. "Halo Paman, ada apa?" tanyaku penasaran. "Enggak kok Dek, Paman kangen sama kamu," ujarnya diseberang telpon. "Ahh masa Paman, kan baru dua hari kami pulang," jawabku cuek. "Beneran Dek, Paman kangen," ujarnya tegas. "Ihh apaan sih Paman, pake kangen-kangen mulu," cetusku. He he he! "Enggak apa kan?" selorohnya lagi. Aku diam saja. "Dek besok Paman ketempatmu," katanya. "Emang ada perlu ya Paman?" tanyaku penasaran.. "Yaahh main aja kok, gak boleh ya?" sahutnya lagi.. Aku pun tergagap. "Eh boleh kok Paman," jawabku kemudian. "Ya udah dulu ya Paman, aku masih ada pekerjaan," ujarku, sembari memutus sambungan telpon tanpa jawaban darinya. Keesokan harinya. Seperti yang diucapkan Paman. sekitar pukul 11 siang. Paman telah sampai kerumah. Di antar tukang ojek yang memang banyak yang tahu rumahku. "Mbaak, Assalamualaikum," ada orang yang mengucap salam. "Waalaikumsalam," jawab Ibu. "Eehh wes teko (eeh sudah sampai )ayo masuk Di," ajak Ibu, ketika mengetahui siapa yang datang. "Iya Mbak, mana Mas sama Adek Mbak?" tanya Sunardi ketika telah memasuki rumah. "Masmu kerja, Maya ada dikamar," jawab Ibu. "Mayaaa, ini Paman sudah datang," teriak Ibu. Aku pun melangkah keluar. "Wah sudah sampai Paman?" tanyaku basa basi, lalu ku ulurkan tangan. Di sambutnya uluran tanganku digenggam dengan erat. "Ya wes istirahat dulu Di," kata Ibu lagi. "Iya Mbak," jawabnya. "Maya bikin teh dulu Bu," aku pamit kedapur. "Iya May," sahutnya. Aku keluar membawa dua gelas teh untuk Ibu dan Sunardi. "Minum Paman, Maya tinggal dulu ya," pamitku. "iya Dek," ucapnya. Sudah satu bulan ini Maya tak kerja diperkebunan.. Istirahat untuk beberapa bulan. Karena sakit yang diderita. "Assalamualaikum, Ma Jani pulang," ucap Anjani didepan pintu. Aku berbaring dikamar, tak ikut Ibu dan Sunardi yang sedang asyik bercerita. "Waalaikumsalam," sahut Sunardi, aku berdiam diri dikamar dan mendengarkan obrolan mereka. "Eh sudah pulang sekolah ya Anjani?" sapa Sunardi. "Iya Mbah," sahut Anjani Anakku. "Mbah Ti, mana Mama?" tanyanya pada Ibu. "Ada dikamar tuh," sahut Ibu. "Mama," teriaknya. "Eh sayang Mama sudah pulang," jawabku. Tanganku dicium dan kupeluk dia dengan penuh rasa sayang. "Ganti baju ya, cuci tangan terus makan," perintahku. "Iya Mah," sahutnya. "Paman makan siang dulu yuk, Ibu juga," aku ajak mereka untuk makan siang. "Iya Dek," ia pun bangkit mengikuti kami. Kami berjalan menuju dapur. Sambil makan Paman bercerita tentang semua pengalamannya merantau. Aku hanya jadi pendengar yang baik, sesekali tersenyum dan tak sengaja pandangan saling beradu. Setelah semua selesai makan. Tinggal aku yang masih membereskan piring bekas makan tadi. Saat mencuci piring, tiba-tiba Paman Nardi menghampiri dan berdiri disampingku. "May," panggilnya. "Ya," jawabku terkejut. Di tarik tanganku dibawa dibalik pintu Dan dikunci dengan kedua tangannya. "May, Paman kangen sama kamu, Paman gak bisa tidur terbayang wajahmu yang cantik," desahnya. Aku terpaku beberapa saat. Di pindai wajahku, ditatap dengan pandangan sendu. Entah mengapa pandangannya seolah menghipnotis dan memaksaku untuk menuruti semua ucapannya. Perlahan aku menutup mata, seolah menanti apa yang akan dilakukan Sunardi. Di buka sedikit bibirnya yang merah alami. Dan perlahan namun pasti, sang Paman pun mendaratkan c1*m4n dibibir sang keponakan, yang seharusnya dilindungi dan dijaga sepenuh hati, yaitu aku. Aku terpaku, mendapat perlakuan tak senonoh dari Sunardi. Aku tak mampu berbuat apa pun untuk mencegahnya. Entahlah... Ternyata firasatku kala itu, benar adanya. Akan ada yang terjadi dalam hidupku. Aku tak dapat berfikir dengan jernih tentang masalah yang kuhadapi ini. Aku hanya bisa berontak dalam hati. Seolah terkena gendam jika berhadapan dengan Sunardi, menuruti apa pun kehendaknya. Di," Suara Ibu mengagetkan kami. Wajah orang yang aku panggil Paman pias, karena takut perbuatannya diketahui Ibuku. Dan aku pun tersadar, kudorong tubuhnya, aku bergegas ketempat cuci piring yang tertunda. "Di," Panggil Ibu sekali lagi. "Iya Mbak aku disini," sahutnya. Rupanya pura-pura habis dari toilet. "Oh tak kira kemana," itu Masmu sudah pulang," kata Ibu. "Sudah pulang Mbak? dimana?" jawabnya gelagapan. "Di depan, sana ditemui dulu," perintah Ibu. "Iya Mbak," sahutnya cepat karena gugup. Lalu Paman bergegas masuk menemui Bapak. POV NARDI Diruang depan. "Mas sudah pulang to?" tanyanya. "Iya Di, baru pulang, kamu sudah lama nyampenya?" tanya Bapak. "Sudah Mas dari jam sebelas tadi," jawabnya sambil tersenyum. "Oh ya sudah, Mas istirahat dulu mau mandi, anggap aja rumah sendiri, jangan sungkan," tukas Bapak? "Iya Mas, makasih," ucapnya. "Sama-sama, temani Maya sana," ujarnya seraya bangkit menuju kamar untuk istirahat. Waduh kaya dapat durian runtuh," bisiknya dalam hati, sembari tersenyum licik. Aku masih berkutat didapur dengan semua masakan untuk makan malam. Anjani menghampiriku didapur. "Mah," teriak Anjani.. "Iya Jani, ada apa?" jawabku dari dapur. "Jani mau berangkat ngaji dulu ya?" sambil dicium punggung tanganku. Lalu kucium pucuk kepala yang berbalut jilbab instan. "Hati-hati sayang," pesanku kepadanya. Dibalas anggukan dari bidadari kecilku itu. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD