Gavin tahu jika Rayhan dan Asti menyukainya. Jadi tidak sulit baginya untuk mendapatkan izin dari mereka berdua mengantar jemput` Naya ke kampus. Persis seperti waktu sehabis kecelakaan dulu. Inilah salah satu strateginya. Ia akan membuat Naya bergantung padanya, walaupun ia harus membuang-buang waktu berharganya untuk itu!
“Mas Gavin tidak perlu melakukan ini. Aku bisa berangkat ke kampus sendiri kok!” ujar Naya pagi itu.
“Pacaran dengan orang sibuk seperti saya, kita tidak punya waktu kencan yang fleksibel seperti orang lain. Setidaknya inilah cara saya untuk bisa menghabiskan waktu lebih lama denganmu.”
“Wah, aku jadi terharu..” Naya melirik manja Gavin.
Gavin hanya tersenyum tipis. Di dalam hatinya, Gavin tengah memupuk kebencian terhadap Naya. Jadi apapun tindakan Naya sekarang tidak lebih dari omong kosong dan kemunafikan bagi Gavin.
“Nanti pulang jam berapa?”
“Nanti sampai sore sih! Tapi siangnya aku kosong.”
“Mau makan siang bersama?”
“Ngg, gak usah deh! Aku ada rencana mau ke toko kosmetik.”
“Sama Cila?”
“Iya dong mas, sama siapa lagi? Lagian yang ngerti kosmetik itu kan Cila. Aku mau minta tolong dia milihin kosmetik buat acara lusa.”
“Oh, kirain sama teman yang kemaren!”
Naya ternganga, ia mendekatkan mukanya kepada Gavin. Sebuah senyum menggoda tercetak di bibirnya.
“Mas Gavin gak lagi cemburu kan?”
Gavin gelagapan, namun ia cepat mengontrol ekpresinya. Buat apa harus mencemburui seseorang yang hanya mempermainkannya?
“Siapa yang cemburu? Bukannya kemaren kamu bilang dia cuma teman? Lagipula saya yakin saya lebih tampan dari dia!” jawab Gavin dengan percaya diri.
Naya tertawa, namun ia setuju. Gavin memang lebih ganteng dari Kenzo, si nakama pecicilan itu!
***
Sorenya hujan lebat. Gavin yang tengah melancarkan strategi menaklukkan Naya bersikeras ingin menjemput gadis itu walaupun Naya sudah berkata ia bisa naik taksi online saja.
Sialnya Gavin tidak membawa payung. Dan dengan sok gentle-nya ia melepas jasnya hanya untuk melindungi kepala Naya supaya tidak kehujanan. Malamnya, Gavin demam. Badan Gavin memang tidak bisa mentoleransi hujan.
Pagi harinya Naya sudah bolak balik ke depan rumah menanti kedatangan Gavin yang tak kunjung tiba. Padahal setengah jam lagi ia ada kuliah statistik dengan pak Amir yang super galak.
“Gavin belum datang Nay?” tanya Rayhan yang sudah bersiap akan pergi.
“Belum pa! Aku bakal telat ini. Aku bawa mobil aja kali ya?” sahut Naya.
“Nanti kamu pergi Gavinnya malah datang. Tunggu aja sebentar lagi atau telpon dia! Siapa tahu lagi macet. Udah, mending bantuin papa bukain pagar gih!” ujar Rayhan sambil masuk ke dalam mobilnya.
Setengah cemberut Naya berjalan ke pagar dan menggesernya hingga terbuka lebar. Ia nyengir sekenanya saat pak Rahman, sopirnya Rayhan mengklakson dan melewatinya.
Naya memutuskan mencari nomor Gavin dan menelponnya. Naya menggerutu saat dua kali panggilan itu tidak tersambung. Akhirnya Gavin mengangkat di panggilan ketiga.
“Maaf Naya.. saya lupa kasih kabar. Saya tidak bisa jemput.. saya sedang demam..” suara Gavin terdengar sangat lemas.
Naya langsung kaget dan khawatir.
“Mas Gavin sekarang dimana?”
“Di apartemen..”
“Aku kesana sekarang!”
Tanpa menunggu persetujuan Gavin, Naya segera memutuskan panggilan dan langsung membuka aplikasi ojek online.
Kurang dari satu jam Naya sudah sampai di apartemen Gavin. Ia masuk begitu saja karena sudah tahu kode pin apartemen Gavin. Dulu Gavin pernah memberitahu alamat apartemen dan kode pin pintu apartemennya. Entah untuk apa cowok itu memberitahunya, mungkin untuk keadaan darurat seperti sekarang ini.
Naya langsung lemas saat melihat Gavin tengah menggigau dan menggigil dalam tidurnya. Dengan lembut ia menggoyang badan Gavin berusaha menyadarkan cowok itu.
“Mas Gavin.. ini Naya! Mas Gavin, kita ke rumah sakit ya!” bisik Naya.
Gavin terbangun. Setengah sadar ia menggeleng dan meracau tak jelas. Naya meraba dahi dan leher Gavin. Sangat panas!
Panik! Anak mami macam Naya, seumur-umur tidak pernah mengurus orang sakit. Ia segera membuka ponselnya dan bertanya kepada om google bagaimana cara menangani orang yang demam tinggi.
Setelah tahu, Naya segera berlari ke pantry dan mencari baskom kecil. Ia mengisinya dengan air hangat. Tanpa permisi Naya mengobok-obok lemari Gavin dan menemukan sebuah handuk kecil. Untung saja! Karena kalau tidak ketemu Naya berencana akan menggunakan salah satu sempak Gavin sebagai pengganti handuk.
Setelah mengompres dahi Gavin, Naya mencari kotak P3K. Ia begitu frustasi saat tidak kunjung menemukan apa yang dia cari, bertanya pada Gavinpun sia-sia. Pacarnya itu hanya mengerang tak jelas.
Naya langsung ingat, kalau di samping apartemen Gavin deretan toko. Siapa tahu salah satu nya ada apotik. Tanpa berpikir panjang Naya langsung pergi membeli obat.
Ponsel Naya berdenting, sebuah chat dari Cila masuk.
Cila: [Nay, lo gak masuk kelas?]
Naya: [Hari ini gue bolos! Mas Gavin lagi demam.]
Cila: [Ciee.. yang jadi suster pribadi..]
Naya: [Berisik lo! Fokus sama pak Amir noh! Nanti dilempar spidol baru tau rasa!]
Naya mengantongi ponselnya dan berjalan ke deretan toko di dekat apartemen Gavin.
Sementara di kamar, Gavin mulai tersadar sepenuhnya.
Dengan kepala yang terasa berat, Gavin berusaha duduk. Ia kaget saat sebuah handuk kecil jatuh kepangkuannya. Gavin merasa heran, siapa yang memberinya kompres?
Namun rasa penasarannya cepat terjawab saat meihat tas Naya di atas nakas. Gavin tertegun, jadi benar yang ia lihat tadi adalah Naya? Gavin ternyata tidak bermimpi.
Gavin buru-buru merebahkan badannya dan kembali pura-pura tidur saat mendengar langkah kaki seseorang datang.
Dengan membuka sedikit matanya, ia melihat Naya masuk ke kamar sambil membawa sebuah nampan. Gadis itu tampak panik dengan muka yang memerah dan berkeringat.
Naya meraba dahi Gavin.
Deg! Sentuhan lembut Naya sukses membuat darah Gavin berdesir.
“Mas Gavin, bangun dulu yuk!” Naya menepuk pipi Gavin dengan lembut.
Tak mau berlama-lama, Gavin segera membuka mata.
“Naya..” panggil Gavin nyaris tak terdengar.
“Mas Gavin makan dulu ya! Naya sudah belikan bubur, habis ini minum obat ya..”
Naya membantu Gavin duduk dan meletakkan satu bantal lagi di punggung Gavin.
“Mas Gavin tim diaduk atau enggak nih?” gurau Naya saat menuangkan kuah kaldu ke dalam bubur ayam.
Gavin tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis.
“Ayo buka mulutnya. Aaa... aaa..” Naya memain-mainkan sendoknya seperti membujuk anak kecil.
Dengan enggan Gavin membuka mulutnya, satu suapan lolos. Begitu pula dengan suapan berikutnya. Naya sibuk bercerita untuk mengembalikan mood Gavin.
“Mas Gavin pasti demam karena kehujanan menjemput aku kan? Mas Gavin sih bandel, udah dibilangin aku bisa pulang naik taksi aja! Udah tau besok ada acara kantornya mas Gavin. Pokoknya kalau sampai nanti siang panasnya gak turun, mas Gavin harus mau aku ajak ke rumah sakit. Titik!”
Naya sibuk berceloteh seperti ibu yang sedang memarahi anaknya.
“Sekarang minum obat!” Naya menyerahkan sebutir paracetamol ke tangan Gavin dan menunggui hingga cowoknya itu menelan obatnya.
“Udah.. yee! Mas Gavin hebat! Sekarang tiduran ya!” Naya membantu Gavin kembali ke posisi tidur dan kembali mengompres dahinya.
“Naya..” Gavin memegang tangan Naya yang bersiap hendak bangkit.
“Terima kasih ya..” ujarnya dengan lirih.
Naya tersenyum dan membereskan semua peralatan makan lalu pergi meninggalkan kamar Gavin dengan nampan yang sudah kosong.
Gavin kembali membuka matanya begitu Naya menghilang dari pandangannya. Ia menghela napas melepas sesak yang sejak tadi ia tahan. Pikirannya bercampuk aduk. Ada rasa cinta yang menggebu di tengah rasa benci yang sedang dipupuknya.
“Apa ini perhatian yang tulus atau sekedar taktik saja Naya? Kejam sekali kamu andai ini hanya pura-pura! Karena andai saya tidak tahu, saya bisa jatuh cinta setengah mati dengan segala perhatian ini..”
***
Dan hari ulang tahun perusahaan Gavin pun tiba. Berkat Naya, demam Gavin sembuh dalam sehari. Sekarang bos muda yang tampan itu sedang menunggu Naya di rumahnya. Ia mengobrol dengan Rayhan dan Asti sembari menunggu Naya turun.
Tak berselang lama, seorang gadis cantik turun dengan anggun. Gavin terpana melihat keindahan di depannya.
Gadis yang biasanya berdandan seadanya kini tampil sangat cantik. Badan ramping yang biasa tertutup kaos kedodoran kini tampak seksi dengan balutan dress berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Rambut yang biasa diikat atau dicepol kini dibiarkan tergerai. Wajah imut yang biasanya hanya dipoles lipgloss itu kini terpoles make up, minimalis namun sangat cantik!
Cila yang berdiri di belakang Naya tersenyum puas melihat hasil karyanya. Respon semua orang yang terpana membuat Cila semakin yakin kalau dia sudah salah jurusan, harusnya ia masuk tata rias bukannya manajemen!
Naya begitu salah tingkah saat ditatap Gavin tanpa berkedip, “Ke-kenapa mas? Dandanan aku kaya badut ya?” tanyanya malu-malu.
Gavin menggeleng tanpa melepaskan pandangannya, “Sangat cantik!”
Hanya dua kata, tapi itu sudah bisa membuat Naya melayang ke awang-awang.
Tak lama berselang, sepasang kekasih itu sudah meninggalkan rumah Naya. Dan kurang dari satu jam mereka sudah sampai di tempat acara.
Naya meremas tangannya yang berkeringat. Ia menatap pintu masuk dengan nanar.
“Ayo masuk!” Gavin menggenggam tangan Naya.
“Kamu gugup?” Gavin merasakan tangan Naya yang dingin dan berkeringat.
“Sejujurnya sangat gugup mas! Aku belum pernah bertemu orangtua mas Gavin. Bagaimana kalau mereka tidak suka? Aku juga takut kalau nanti bertemu Sandra dan kami ribut. Aku gak mau merusak acaranya mas Gavin!” lirih Naya sambil menatap Gavin.
Gavin meraih kedua tangan Naya dan meremasnya pelan, “Naya, dengar! Papi sama mami memang belum pernah ketemu kamu, tapi percayalah mereka akan menyukai kamu. Dan untuk Sandra, kamu tenang aja. Dia nggak akan macam-macam kalau ada papi.”
“Ayo!”
Naya memantapkan hatinya dan mulai melangkah sambil menggandeng tangan Gavin. Kegugupan mulai kembali melanda saat puluhan pasang mata memperhatikan kedatangan mereka. Tentu saja, Gavin kan bintang acara ini. Naya berdoa dalam hati semoga wedges yang sedang dipakainya ini tidak membuatnya terjengkang dan jadi bahan tertawaan semua orang.
Naya langsung lega karena ternyata orang tua Gavin sangat ramah dan menyukainya. Mereka mengobrolkan banyak hal dan diselai tawa. Berbeda dengan Sandra yang menatap Naya dengan pandangan benci dan menusuk seperti biasa.
Naya meneguk ludah melihat intimidasi Sandra. Naya bertekad, untuk malam ini ia akan mengalah kepada Sandra. Ia tidak akan akan mengubris segala bentuk provokasi Sandra andai gadis itu melakukannya. Ia harus tampil menjadi partner yang sempurna bagi Gavin.
Gavin mengajak Naya berkeliling menyapa para tamu. Naya sibuk jadi ibu negara. Bertingkah anggun dan menebar senyum kemana-mana.
Tanpa ia sadari, seorang lelaki tengah memperhatikannya sambil terkikik.
“Naya, saya ke toilet sebentar ya! Kamu pergilah ambil minum, nanti saya menyusul.” Bisik Gavin sambil menunjuk meja prasmanan.
Naya mengangguk dan berjalan menuju meja prasmanan. Dengan sigap ia meletakkan beberapa potong cake ke piring kecil. Rasa gugup membuatnya kelaparan!
“Ehem, cengiran mulu bikin lapar ya?” sapaan seseorang membuat Naya kaget dan menoleh. Ia langsung membelalakkan mata saat melihat siapa yang tengah menyapanya.
Gavin kembali dari toilet. Namun langkahnya langsung terhenti dan mendengus kesal saat melihat Naya tengah cekikikan dengan seorang cowok.
“Ternyata kamu memang cewek gampangan Naya!” gumamnya sambil menyeringai sinis.