Bab 9. Kenzo, si Agen 007!

1618 Words
Seorang cowok tampan berjas rapi berdiri di depan Naya sambil menebar senyum manis dengan lesung pipi andalannya. Naya terpana melihat teman barunya yang tampil sangat beda dengan terakhir mereka bertemu. “Topi jerami? Lo Kenzo kan?” “Enggak! Gue Zayn Malik!” jawab Kenzo asal. “Gila! Lo beda banget Ken! Lo gak lagi cosplay jadi Sanji kan?” Naya menyebutkan nama salah satu karakter di komik kesukaan Kenzo. Kenzo terkikik saat ia disamakan dengan Sanji, si koki yang suka berdandan modis. “Ngeledek lo ya! Emang biasanya tampilan gue kaya apa sampai lo pangling begini!” “Ya secara tempo hari gue ketemu lo dengan tampilan mendekati gembel. Celana pendek yang udah sobek, kaos yang lehernya udah melar.. “ “Gak gitu-gitu banget Nay!” pekik Kenzo protes dan ditimpali tawaan oleh Naya. “Kalau cakep begini udah bisa bikin lo naksir belum?” Kenzo menaik-naikkan alis nya menggoda Naya. Naya mencibir dan menyilangkan tangannya, “No! Cowok gue lebih ganteng!” “Huuu!” ejek Kenzo, “Jadi cowok lo itu si Gavin?” “Iya, kebanting kan lo?” canda Naya. “Tapi lo kenal mas Gavin Ken? Lo ngapain sih di sini? Lo gak lagi jadi koordinator pramusaji kan?” “Sialan! Gue tamu Naya! Gue temannya Gavin!” sungut Kenzo kesal. Naya tertawa karena berhasil menggoda Kenzo. Kegugupan yang tadi meliputi dirinya mendadak sirna berkat Kenzo. “Gak nyangka gue mas Gavin mau temenan sama bocah. Gue sangka CEO itu circlenya sesama CEO!” Kenzo begitu gemas. Tanpa sadar ia menyentil dahi Naya. Naya mengaduh dan langsung mempelotori Kenzo. “Enak aja gue bocah! Gue ini sebaya Gavin tau! Trus siapa bilang gue gak CEO?” Naya sukses ternganga, “Lo sebaya mas Gavin? Lo CEO?” Naya langsung tertawa ngakak, lupa kalau tengah berada di acara formal. “CEO macam apa yang kelayapan nyari komik di jam kerja?” Kenzo semakin gemas, ingin rasanya ia menguyel-uyel pipi Naya dan mencubitnya sampai merah. Tapi sebenarnya dalam hatinya Kenzo tersenyum melihat Naya yang sudah kembali ke Naya yang ia kenal beberapa hari lalu. Tadinya ia kasihan gadis ini tampak begitu tidak nyaman dengan suasana pesta. Sayang sekali, ia kalah cepat dari Gavin mendapatkan gadis seunik ini! Dengan hati yang bercampur aduk antara cemburu dan benci, Gavin datang mendekati Naya yang masih sibuk bercanda dengan Kenzo. Bisa-bisanya Naya tertawa selepas itu bersama Kenzo sementara saat bersama dirinya Naya cenderung menjaga sikap. Dasar munafik! “Ehem!” Gavin berdehem mencuri atensi mereka. “Oii Vin! Dari mana aja lo?” Kenzo langsung bersalam tinju dengan Gavin. Sekarang Naya percaya kalau Gavin dan Kenzo berteman. “Dari toilet! Mana partner lo? Lo gak bawa Anggie?” Gavin pura-pura celingukan mencari seseorang, padahal ia tahu kalau Kenzo tengah sendiri. Gavin juga sengaja membahas Anggie, mantannya Kenzo sekedar mengultimatum Naya kalau Kenzo sudah ada yang punya. “Jiaah! Anggie kan udah lama ke laut! Gue sengaja datang sendiri sekalian nyari jodoh. Eh, pas ketemu yang nyantol di hati ternyata dia udah ada yang punya!” Kenzo melirik Naya. Naya mempelototi Kenzo dan buru-buru melirik Gavin. Takut Gavin marah. Benar saja, Gavin langsung menarik pinggang Naya merapat padanya. Sementara Kenzo sukses mengulum senyum, godaannya berhasil. “Lo udah kenal Naya?” tanya Gavin melepas kecanggungan. “Udah lah! Dia kan besti gue!” Gavin menoleh kepada Naya, mengangkat alisnya seolah minta penjelasan, “Kamu kok nggak cerita kenal sama Kenzo?” “Aku kan gak tau kalau mas Gavin temenan sama Kenzo!” jawab Naya tanpa beban. “Kamu panggil Kenzo aja? Nggak pakai mas?” tanya Gavin heran. “Lo mau gue panggil mas Ken?” Naya balik bertanya kepada Kenzo. Kenzo mencibir dan menggeleng, “Gue bukan mas-mas! Lagian kita jadi gak akrab lagi kalau lo panggil gue mas Kenzo. Tapi kalau ayang Ken boleh deh!” seloroh Kenzo. Bukan hanya Naya, mata Gavin juga sukses membulat. Ia tahu Kenzo adalah orang yang suka becanda. Tapi hatinya panas kalau ceweknya digoda di depan matanya. Walaupun cewek itu hanya berpura-pura padanya. “Kalian lanjut pacaran gih! Gue mau ketemu bokap lo dulu!” Kenzo menepuk lengan Gavin dan buru-buru kabur. Ia tahu Gavin tengah panas. “Naya, walaupun kamu akrab dengan Kenzo tapi malam ini tolong batasi sikap kalian! Kamu tahu kan mata orang-orang sedang tertuju kepadamu sebagai partner saya?” tegas Gavin. Dingin, itulah sikap Gavin yang sedang tiba-tiba dirasakan Naya. Naya hanya bisa mengangguk menanggapi Gavin. Nyalinya menciut dan kembali gugup, bahkan lebih gugup dibandingkan pada saat baru datang tadi. Naya mengekori Gavin kemana-mana. Berusaha tetap menebar senyum walaupun sekarang tampak sumbang. Ia juga mulai pusing dan lapar, tadi tidak jadi makan cake karena sibuk mengobrol dengan Kenzo. “Mas Gavin, aku ke toilet sebentar ya..” Naya berbisik kepada Gavin yang tengah berbincang dengan salah seorang tamu. Gavin hanya mengangguk sambil melirik Naya dari sudut matanya. Ia memastikan Kenzo berada dalam jarak pandangnya dan tidak mengekori Naya. “Huuff..” Naya menghembus napas panjang begitu memasuki toilet. Sambil memperhatikan riasannya di cermin, Naya sibuk menenangkan diri. Entah kenapa Gavin terlihat agak aneh malam ini. “Masa mas Gavin cemburu cuma gara-gara Kenzo ngomong begitu sih?” gumam Naya pelan. Pintu salah satu toilet langsung terbuka. Naya terkejut begitu melihat pantulan wajah Sandra di cermin. Ia segera berbalik dan langsung merasa tertekan begitu Sandra mendekat. “Wah, si cewek siaal! Ngelunjak lo ya jadi pusat perhatian malam ini!” ejek Sandra dengan sinisnya. Ia sibuk merapikan riasannya yang cantik paripurna tanpa menoleh ke Naya. Tapi Naya tahu dialah orang yang Sandra maksud karena cuma ada mereka berdua di toilet ini. “Maksud lo apa San? ” tanya Naya berusaha sabar. Ia tidak pernah merasa melunjak. “Lo jangan kegatelan ke cowok lain kalau lagi jadi partner kakak gue! Tolong jaga kehormatan kakak gue!” tekan Sandra sambil memepet ke Naya. Sebenarnya bukan hanya hati Gavin yang tengah panas, hati Sandra juga! Ia naksir berat kepada Kenzo, tapi sahabat kakaknya itu selalu bersikap dingin padanya. “Lo-lo mau apa San?” Naya berusaha menjauh. Ia takut kalau Sandra nekat mengerjainya seperti di film-film. Menyiramnya dengan air atau mencoret mukanya dengan lipstik, misalnya. Sandra tertawa remeh, “Lo lagi takut ceritanya? Tenang aja, lo selamat malam ini! Gue gak akan macam-macam di acara keluarga gue!” Usai memoles bibirnya dengan lipstik, Sandra kembali melirik Naya dengan jijik sebelum akhirnya keluar dari toilet. Naya menarik napas lega begitu Sandra menghilang dari pandanganya. Andai ini bukan acara kantornya Gavin, ia pasti sudah mengobrak-abrik muka Sandra! “Kak, ikut aku sebentar!” Sandra menarik lengan Gavin ke tempat yang agak sepi. “Kenapa dek?” “Aku greget banget nih kak. Boleh gak aku ngerjain Naya sedikit?” tanya Sandra penuh harap. “Terserah kamu aja! Dia kan musuhmu! Tapi ingat, jangan sampai merusak acara.” Ucap Gavin dengan teganya. Naya tersenyum puas mendapatkan izin dari Gavin. Tanpa sengaja ternyata Kenzo yang kebetulan lewat mendengar omongan dua saudara ini. Ia begitu kaget, tidak mungkinkan ada Naya lain di ruangan ini? Kenapa Gavin tega mengerjai pacarnya sendiri. Diam-diam Kenzo mengikuti Sandra. Ia ingin tahu kira-kira apa yang akan dilakukan Sandra kepada Naya. Jika rasanya membahayakan Naya, maka ia harus menggagalkannya. Entah apa masalah antara orang-orang ini, tapi Naya adalah temannya! Kenzo harus melindungi Naya! Sandra menyeret seorang pramusaji ke lorong sepi. Ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil yang berisi bubuk putih dan pramusaji itu memasukkannya ke dalam minuman yang berada dalam nampan yang sedang di pegangnya. “Ingat ya! Kamu harus memastikan gelas ini berada di tangan Naya. Cewek yang menjadi partnernya kak Gavin malam ini. Dia pakai dress warna hitam.” Bisik Sandra. “Saya tau mbak! Yang cantik dan selalu berjalan di sisi pak Gavin kan?” ucap si pramusaji. “Jangan bilang dia cantik!” sembur Sandra. “Ma-maaf mbak!” “Kamu tidak boleh membuka mulut andai gagal, mengerti?” ancam Sandra. Pramusaji itu mengangguk dan menunduk ketakutan. Sandra menyelipkan sejumlah uang ke kantong pramusaji itu dan menyuruhnya pergi. Seolah tidak melakukan apa-apa, Sandra juga kembali ke tempat acara dengan wajah tanpa dosa. Kenzo mengangguk paham. Jadi ini cara Sandra mengerjai Naya? Entah obat apa yang dimasukkan ke dalam minuman itu, tapi yang jelas akan berbahaya bagi Naya. Ia harus mencegah Naya meminumnya bagaimanapun caranya! Kenzo bergegas ke tempat acara. Ia mencari keberadaan Naya, dan langsung lega saat Naya belum memegang apa-apa di tangannya. Tapi kelegaan itu langsung lenyap saat pramuniaga yang disuruh Sandra tadi berjalan mendekati Naya. Dan dengan cepat gelas yang di nampan itu pindah ke tangan Naya. “Sial! Kenapa gue berasa jadi James Bond malam ini?” rutuk Kenzo sambil berjalan dengan tergesa-gesa. ‘Jangan diminum sampai gue datang Naya!’ jerit Kenzo dalam hati. Sementara di tempat Naya.. “Terima kasih ya mbak!” Naya menerima gelas dari seorang pramusaji. Ia memang haus, dan tidak menolak jika diberi minum. “Tante, aku minum sendirian gak apa-apa nih?” Naya tertawa sungkan kepada Jenny, maminya Gavin. “Bukan hanya minum, kamu boleh cicipi semua makanan yang ada!” ujar Jenny sambil tersenyum kepada Naya. Naya mengangguk dan mulai menggeser gelas ke mulutnya, namun.. “Hai guys!” tiba-tiba Kenzo datang entah dari mana menepuk pundak Naya dan Gavin dengan kuat. PRAANGG!! Gelas yang sedang dipegang Naya jatuh dan pecah di lantai. Kejadian itu mengundang atensi semua orang. “Aww!” pecahan gelas mengenai kaki Jenny dan sukses membuatnya terluka. Tiga pasang mata milik Jenny, Abian dan Gavin melotot kepada Kenzo. Kenzo hanya membalasnya dengan cengiran lebar. “Ups! Maaf..” ucapnya sambil meringis. Sementara Naya sudah pias hampir menangis. Ia menangkap kilatan amarah di mata Gavin yang bukan hanya ditujukan kepada Kenzo tapi juga kepada dirinya. Saat itu ingin rasanya Naya menghilang saja dari bumi ini!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD