Bab 10. Ciuman Penurun Panas

1746 Words
“KANAYA!” Bentakan Gavin sukses membuat setitik air mata lolos di pipi Naya. Bentakan memalukan yang lebih lantang dari pada pecahan gelas tadi, membuat semua tamu berbisik-bisik dan melirik Naya. Dan itu berhasil membuat mental Naya langsung down. “Maaf, tante.. Naya tidak sengaja..” Naya buru-buru berjongkok dan menyeka darah yang menetes di pergelangan kaki Jenny dangan ujung jarinya. “Apa yang kamu lakukan Naya? Bangun!” desis Gavin sambil menarik kasar tangan Naya. Naya bergeming, ia terus berjongkok karena sebenarnya ia tengah mati-matian menahan tangisan. “Naya, bangunlah.. Tante tidak apa-apa!” Jenny membantu Naya berdiri. Perlahan Naya bangkit tanpa mengangkat muka, “Naya benar-benar tidak sengaja tante..” “Hanya goresan kecil, tidak apa-apa Naya.” “Naya!” Gavin kembali berteriak saat Naya tanpa izin berlari ke toilet. Entah kenapa ia merasa sangat kesal dan tidak bisa mengendalikan emosinya. Sementara itu tak jauh dari situ, Sandra yang tadinya berdecak kesal kini menyeringai kesenangan. Usahanya untuk mengerjai Naya memang gagal. Tapi melihat Naya yang tengah menanggung malu seperti saat ini rasanya tidak begitu buruk. ‘Maaf Naya! Gue terpaksa melakukan ini. Gue gak tau apa yang udah dimasukkan Sandra ke minuman itu. Entah lo bakal lebih malu dari ini jika sampai meminumnya’ batin Kenzo yang menatap Naya dengan iba. Suasana kembali tenang saat sisa kerusuhan sudah dibersihkan pramusaji. Acara terus berlanjut dan Gavin tampak sibuk karena harus memberi sambutan. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Kanaya tidak kunjung kembali dari toilet. Hingga akhirnya Jenny bertanya “Vin! Kok mami perhatiin Naya nggak balik-balik dari toilet ya?” Gavin tersadar kalau Naya tidak ada di dekatnya. Dia memang tidak begitu peduli kepada Naya setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Gavin mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dan langsung mengumpat dalam hati begitu tak kunjung melihat penampaka Naya. “Biar aku susulin mi!” Gavin berjalan ke toilet dan menunggu di pintu toilet dengan resah. Tangannya berkali-kali terangkat hendak mengetuk pintu, tapi sesaat ia ragu dan memilih untuk mundur. Seorang wanita tiba-tiba keluar keluar dan melongo melihat Gavin yang sedang berdiri sambil bersandar ke dinding. “Permisi pak Gavin!” wanita yang ternyata salah satu karyawannya Gavin itu meminta izin untuk lewat. Seperti biasa, Gavin hanya mengangguk dengan gaya cool. Namun begitu ingat apa tujuannya menunggu di sana ia langsung memanggil wanita itu. “Mbak! Lihat ada gadis yang pakai dress hitam di dalam toilet?” “Wah, seingat saya tadi cuma ada saya di dalam toilet pak!” Gavin kembali mengangguk dan membiarkan wanita itu pergi. Ia berdecak kesal. Kemana gadis itu? Tidak mungkinkan dia pulang duluan tanpa pamit? “Naya! Kamu dimana?” akhirnya Gavin memutuskan untuk menelpon Naya. “Aku lagi cari angin mas! Acaranya sudah selesai?” suara Naya terdengar di antara deru angin. “Dimana?” Gavin mulai cemas. “Di-di rooftop—“ Tanpa menunggu Naya menyelesaikan kalimatnya, Gavin langsung berlari ke lift dan memencet nomor lantai paling atas. Ia langsung menarik napas lega begitu melihat Naya yang tengah bertopang tangan ke pagar pembatas. Tadinya Gavin sempat berpikiran buruk kalau gadis itu tengah frustasi karena malu dan memutuskan untuk loncat dari atap. Tapi ia langsung sadar kalau itu tidak mungkin, Kanaya kan sedang bersandiwara! “Naya..” Gavin memanggil dengan lembut. Walaupun ia tengah kesal, ia tidak mau membentak seperti tadi. Takut gadis ini kaget dan benar-benar melompat ke bawah. Kanaya menoleh. Di bawah minimnya penerangan, Gavin melihat wajah cantik kini sudah memerah dengan mata yang sedikit sembab. “Maafkan saya..” Gavin meraih tubuh Naya dan membawanya ke dalam pelukannya. Gavin langsung merasakan pundak Naya yang terbuka terasa begitu dingin. Tapi ia tidak peduli, gadis ini tidak patut dikasihani! ‘Apa berpura-pura terluka juga harus setotal ini Naya? Seberapa keras usahamu untuk menangis agar matamu terlihat sembab begini?’ batin Gavin. Sementara Kanaya tetap bergeming di dalam pelukan Gavin, ia sama sekali tidak membalas pelukan itu. Hatinya terluka karena malu dan dibentak di keramaian. Dan makin sedih karena Gavin baru saja mencarinya sekarang, padahal ia sudah lebih dari satu jam berdiri di rooftop ini dengan perut kelaparan dan kedinginan. “Mas Gavin, aku mau pulang..” lirih Kanaya. “Tunggulah sebentar lagi, saya tidak bisa meninggalkan acara.” “Mas Gavin tidak perlu mengantar, aku naik taksi saja.” “Naya, kamu marah sama saya?” Gavin menangkup pipi Naya dan menatap dalam kedua mata Naya. Kanaya berusaha tersenyum agar tampak baik-baik saja, “Enggak mas! Naya cuma gak nyaman di ruang pesta. Bolehkan kan mas?” “Nggak! Kamu harus menunggu saya!” “Tapi Naya mau pulang mas! Naya malu dan capek!” Naya bersikeras. “Saya akan marah besar kalau kamu pulang!” ancam Gavin. “Terserah mas Gavin!” Naya berjalan meninggalkan Gavin. Naya berharap Gavin akan mengejar dan mencegah kepergiannya. Tapi yang diharapkan itu tidak pernah terjadi. Nyatanya Gavin masih terpaku di rooftop dan melampiaskan kekesalannya dengan berteriak. . . Kenzo meninggalkan acara lebih cepat dari yang lain. Ia bosan, tidak ada yang menarik di sana. Lagipula ia hanya tamu, ia bisa pergi kapan saja. Mobil Kenzo yang sudah bersiap hendak melaju di jalanan jadi urung saat ia seorang gadis tengah menyantap semangkok mie ayam di warung tenda depan gedung. Ia menyunggingkan senyum dan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. “Kalau lagi pakai baju kaya gini gak cocok makan di emperan! Lo harusnya makan di resto bintang 5!” Mata Naya langsung membulat saat melihat Kenzo sudah berdiri di depannya. “Kenzo? Ngapain lo di sini? Bukannya harusnya lo di dalam?” “Lo sendiri ngapain di sini? Harusnya lo itu di samping Gavin, bukannya makan mie di warung tenda!” balas Kenzo sambil tertawa. “Nih pakai!” Kenzo menyerahkan jas yang dipakainya kepada Naya. “Lo sadar gak bahu mulus lo jadi konsumsi publik dari tadi?” Naya tertegun, ada rasa haru yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Bahkan Gavin saja tadi tidak menawarkan jasnya untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan. “Makasih Ken!” Naya langsung memakai jas pemberian Kenzo. Hangat! “Pak! Saya juga mau satu mie ayam pakai bakso!” Kenzo bersorak ke abang jualan sambil mencomoti kerupuk kulit di atas meja dan langsung memakannya. “Lapar gue ngeliat lo lahap begitu Nay! Lo kelaparan banget ya?” Naya mengangguk dengan mulut yang penuh. Ia makan tanpa jaim dan itu membuat Kenzo semakin suka. “Gue gak sempat makan di dalam karena udah keburu malu!” Kenzo menatap Naya yang terus khusuk dengan mangkok di depannya. Walaupun gadis itu kini nampak begitu santai, tapi Kenzo masih bisa melihat sisa bengkak di mata Naya. Ia merasa bersalah karena sudah membuat malu Naya. “Nay, gue minta maaf buat yang tadi—“ “Santai Ken!” potong Naya. “Lo kan gak sengaja! Gue aja yang gak kuat pegang gelasnya!” Andai Naya tahu apa yang diisi Sandra dalam minuman di gelas itu, mungkin ia akan lebih memilih memecahkan selusin gelas lagi. Gigi Gavin langsung gemeletuk saat tanpa sengaja melihat Naya dan Kenzo sama-sama keluar dari warung tenda. Dan hatinya makin panas saat melihat jas Kenzo sudah tersampir di bahu Naya. “Dasar gadis jahat! Sia-sia saja aku khawatir! Kamu memang tidak bisa dipercaya!” Dengan kesal Gavin kembali memundurkan mobilnya ke parkiran. Ia membanting pintu dan kembali ke tempat acara. Padahal ia sudah bela-belain meminta izin ke papinya untuk pulang duluan karena mengkhawatirkan Naya. Tahu-tahunya gadis itu malah asyik makan di emperan bersama Kenzo! Temanan macam apa yang begitu? Mereka pasti janjian, tidak mungkin tak sengaja bertemu. Jadi alasan ingin pulang cepat karena malu dan tidak nyaman itu hanya modus! Berbagai pikiran buruk menari-nari di otak Gavin. Dia bersumpah tidak akan terperdaya akting Naya lagi. setelah ini ia hanya akan membalas kelakuan jahat Naya kepada dirinya! *** Mobil Gavin telah terparkir di depan rumah Naya. Seperti rutinitasnya setiap hari, Gavin akan mengantar Naya ke kampus pagi ini. Beberapa menit menunggu, Naya tak kunjung keluar. Padahal biasanya gadis itu akan langsung menghampirinya bahkan sebelum mesin mobil dimatikan. “Apa dia masih pura-pura ngambek karena semalam ya? Dan ingin saya membujuk begitu?” Gavin berdecak kesal sambil keluar dari mobil. “Naya nggak kuliah hari Vin! Sejak subuh tadi dia meriang dan tidak mau bangun.” Jelas Asti yang menyambut kedatangan Gavin pagi itu. “Saya boleh ketemu Naya ma?” Asti mengangguk dan membawa Gavin ke kamar Naya. “Ma, maaf semalam saya tidak bisa mengantar Naya karena acara tidak bisa ditinggal!” sambil menaiki tangga Gavin memberi alasan kepada Asti. “Tidak apa-apa Vin! Yang penting Naya pulang dengan selamat. Lagipula yang mengantarnya kan asisten kamu, sama saja itu!” sahut Asti yang sedikit kerepotan membawa nampan yang berisi sarapan untuk Naya. Gavin tertegun, sejak kapan Kenzo jadi asistennya? Tapi masa bodohlah, yang penting orang tua Kanaya tidak marah kepadanya. “Naya, bangun.. Lihat nih siapa yang datang?” Asti mengguncang tubuh anaknya, sementara Naya hanya menggeliat sambil tetap bergulung di balik selimutnya. “Biar saya yang bangunkan ma. Mama temani saja om sarapan di bawah.” tawar Gavin. “Kamu gak buru-buru ke kantor?” Gavin tersenyum, “Kalau bos boleh telat kan ma?” “Baiklah! Kalau bisa sekalian tolong paksa dia sarapan dan minum obat.” Sambil tersenyum penuh arti, Asti menutup pintu kamar Naya dan membiarkan Gavin dan Naya berdua. Dia juga pernah muda, dan sangat paham kalau Gavin sedang ingin mencurahkan perhatiannya kepada Naya. “Naya, ini saya.. “ Perlahan Gavin menarik selimut Naya dan menampilkan Naya yang sedang menangis dengan sebuah plester penurun panas di dahinya. Hati Gavin sedikit meluruh. “Maafkan saya untuk yang semalam..” “Sudah Naya maafkan. Sekarang mas Gavin pergilah ke kantor!” Naya berbalik memunggungi Gavin karena ia masih kesal kepada cowok itu. “Saya tidak akan pergi sebelum kamu sarapan dan minum obat!” “Naya bisa sendiri! Mas Gavin pergi aja! Bukannya urusan mas Gavin lebih penting dari Naya..?” “Naya, lihat ke sini!” Gavin membalikkan badan Naya dan sebuah ciuman langsung mendarat di bibir gadis itu. Mata Naya sukses membulat. Ia mendorong tubuh Gavin menjauhinya. “Mas..? Naya sedang demam..” “Lalu..?” Gavin kembali mendekat dan mengecup bibir Naya. “Naya belum gosok gigi!” Naya kembali berusaha mengelak. “Saya tidak peduli!” “Nanti demamnya bisa pindah ke mas Gavin!” “Maka kamu harus merawat saya! Sekarang berhentilah protes..” bisik Gavin dengan s*nsual. Ia kembali melumat bibir Naya dengan lembut. Amarah dan kewarasan Naya langsung menguap entah kemana. Ia mulai membuka mulutnya dan memberi izin penuh kepada Gavin untuk menjelajah di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD