“Ma-Mas Ais,” cicit Sheril. Sheril menelan ludah. Kenapa bisa suaminya ada di sini? Dia tidak menyangka jika Mas Ais bisa menemukannya secepat ini. “Kamu bilang Sheril nggak ada di sini, hah?! Lalu itu apa!” ucap Ais penuh marah kepada Mahen. Mahen yang ketahuan berbohong pun terlihat kesusahan menelan ludah. Ais melangkah besar-besar menghampiri tempat Sheril berada, ia menerobos begitu saja mengabaikan Mahen yang menghalangi jalannya. Ais menatap tajam ke arah Sheril. Amarahnya sudah di ambang batas ketika melihat istrinya semalaman berada di tempat lelaki lain. “Ayo kita pulang!” ucap Ais saksama. Sebelum Sheril sempat menjawab, suaminya tersebut tanpa ba-bi-bu langsung memegang kuat lengannya menariknya dengan paksa agar keluar dari sini. “Akh, sakit Mas!” teriak Sheril. Kenapa

