“Kenapa kamu malam-malam datang ke sin—” Ucapan seseorang yang membukakan pintu untuk Sheril pun menggantung di udara tatkala melihat wajah Sheril yang biasanya ceria kini terlihat sembab, berlinang air mata. “KAMU KENAPA, SHERIL?!” tanyanya lagi. Kedua telapak tangannya menangkup wajah Sheril. Rasa paniknya semakin bertambah saat mengetahui ternyata kemeja Sheril bagian atas juga sobek. “Apa yang sebenernya terjadi, Sheril?!” Kenapa Sheril malah diam saja. Setidaknya, katakanlah sesuatu supaya dia tidak khawatir. Sheril tidak mampu menjawab pertanyaan orang tersebut, dia hanya mampu menangis sesenggukan. “Mahennn… hiks.” Itulah yang keluar dari mulut Sheril. Kemudian Sheril memeluk Mahen. Menumpahkan segala tangisnya di sana. Mahen merasa tidak enak apabila ada orang lain yang mel

