Five

1458 Words
Pagi harinya, Billy bangun dari tidurnya. Mulutnya masih bau alkohol, matanya pun berat, seberapa banyak yang dia minum sih semalam? Tak hanya itu, Billy dikejutkan oleh Galuh yang berada di sampingnya. Tapi, ini bukan di kamarnya! Ini di... hotel? "Gal, bangun, Gal!" Kata Billy sambil menepuk-nepuk pipinya Galuh yang masih pulas tertidur. "Gal, ini di hotel Gal. Kau mau tidur berapa lama lagi?! Tarifnya mahal tahu?" Galuh membuka matanya. Dia juga bau alkohol. "Kenapa aku bisa ada disini?" "Harusnya aku yang tanya. Aku kan mabuk duluan kemarin!" Balas Billy sambil memegangi dahinya. "Ini surat apaan lagi?!" Pagi Kapten! Pagi Sersan! Semoga kalian tidak kaget saat melihat keadaan kalian ada di kamar hotel Gran Camila. Aku buru-buru meninggalkan kalian di cafe karena aku sudah bilang aku tidak kuat membopong kalian ke mobil. Soal mobil, aku minta tolong Timmy untuk membawa mobilnya dan menjemput kalian jam 12 nanti. Kalian bayar sendiri ya kamar hotelnya! -dr. Mira Billy menarik napas. Sial sekali dia. Kemudian, dia menyalakan TV. Kalian tahu? Nyaris seluruh media di TV menayangkan acara resepsi pernikahan Diana dan Cakra semalam yang berakhir dengan Diana marah-marah tak jelas. "Woah, hebat juga kau, Bill," kata Galuh, "Lihat betapa kacaunya resepsi pernikahan mantanmu itu." Billy terkekeh. "Setidaknya aku puas untuk saat ini. Ayolah, kita mandi. Biar pakaian di dry-clean oleh room service saja. Terus kita makan. Kamarnya kau yang bayar ya?" "Enak saja!" Balas Galuh. "Oke, oke, aku yang bayar." ----- "A big mess, huh?" Tanya Juwita sambil memasukkan panekuk madu yang menjadi menu sarapannya pagi ini di lounge hotel ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya perlahan. "Ternyata mantan pacarnya Diana datang dan mengganggu jalannya acara kemarin." "Itu benar-benar memalukan. Untung saja bukan salah EO kalau ada pengacau di pestanya," kata Clarissa, "Lagi pula, tim proyektor kan menampilkan foto-foto yang sudah di pilih duluan oleh pasangannya." Juwita masih tertawa kalau mengingat kejadian semalam. Baginya, hal itu justru lucu. Bukan suatu hal yang menjadi bencana. Toh, ada atau tidaknya lelaki semalam yang naik ke atas panggung orkestra, dia akan tetap di bayar bukan? "Ini tarifmu," kata Clarissa ogah-ogahan. "Transfer saja, Clar." Clarissa melotot. Bukannya berterimakasih, malah Juwita membuatnya tambah susah. Ada beberapa alasan kenapa Juwita memintanya untuk di bayar dengan dollar. Salah satunya, agar saat harga dollar tinggi, dia bisa menukarkannya dengan rupiah. Licik memang, tapi cara yang digunakan Juwita memang masuk akal untuk menutupi kebutuhannya sendiri, termasuk membayar pajak mobilnya, dan tagihan kartu kreditnya. "Aku mau ambil sushi dulu." Juwita meninggalkan Clarissa sendirian. Dia menuju tempat dimana ada banyak sushi segar yang di buat di Gran Lounge. Sushi di sini adalah favoritnya Juwita. Tiba-tiba saja, saat dia membalikkan tubuhnya, hampir saja saus kecap asinnya tumpah dan sushinya jatuh. "Punya mata nggak sih?" "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut," ujar lelaki yang tinggi semampai. Wajahnya familier, dan sepertinya Juwita pernah melihat lelaki ini di suatu tempat lain. "Juwita?" "You knew my name," jawab Juwita. "Siapa kau?" "Aku Billy, yang bertemu denganmu di restoran hotel minggu lalu kalau tidak salah," balasnya. "You said that you'll give your phone number if we meet each other once again?" Mimik wajahnya berubah. "Oh iya, Billy. Aku ingat. Maaf, aku lelah bermain piano di acara semalam." "Tenang saja. Apa kau bermain piano di resepsi tadi malam?" Tanya Billy, sambil mengambil beberapa potong sushi. Juwita mengangguk kecil, seraya mengingatnya. Mengingat kejadian konyol semalam yang membuat Clarissa pusing pagi ini. "Bagaimana kau bisa tahu?" "Hanya melihat wajahmu sekilas membuatku tahu bahwa kau yang bermain. Kau terlihat cantik semalam dengan gaun hitam." Ucapan itu memang tulus di katakan oleh Billy. "Aku serius." "Kau ada di resepsi semalam?" Tanya Juwita. Billy mengangguk. "Aku yang membuat acara semalam kacau--kalau kau sadar." Selesai mengambil sushi, Billy membalikkan tubuhnya dan melihat Juwita. "Aku yakin kau tidak menyadarinya ya?" Juwita membulatkan matanya. Dia tidak menyangka kalau Billy yang membuat acara semalam kacau. "Kau mantan pacarnya Diana?" "Bisa di bilang begitu." Billy berjalan, "Kau duduk di mana? Apa kau sendirian?" "Tidak, aku bersama--" Juwita melihat mejanya tadi yang dia duduki bersama Clarissa. Sial, Clarissa meninggalkannya sendirian. Pasti alasannya ada klien. "Maksudku, tadi aku tidak sendiri. Sepertinya temanku meninggalkanku." "Wanna join me? Aku dengan temanku disana," Billy menunjuk sebuah posisi di dekat area sereal. Tawarannya di sambut dengan anggukkan oleh Juwita. "Gal, ini Juwita. Pianis tempo hari yang aku belum dapatkan nomor teleponnya." Juwita terkekeh. "Kebetulan sekali kau bertemu dengannya Bill. Kau jadi bisa bisa berkenalam dengannya sekarang, bukan?" Tanya Galuh, "Aku Galuh, sahabat dan anak buahnya Billy di tempat kerja. Senang bertemu denganmu." "Juwita. Anindya Vega Juwita," jelas Juwita. Galuh tersenyum meledek, sambil beberapa kali melihat Juwita dan kemudian dia pun berkata, "Lagi-lagi seorang perempuan cantik—tapi kali ini tipikal manis, di banding Diana. Kau beruntung, Bill. Sangat, sangat beruntung." Juwita terkekeh kecil. Dunia pria memang sulit di pahami, tapi bukan berarti dia tidak tahu apa-apa. "Apa kau seorang model? Atau artis macam Diana?" "Hei! Galuh Wirajaya!" Seru Billy. Menurut Billy hal itu malah membuay gadisnya kikuk, dan aneh nantinya. Juwita tersenyum, "Aku sarjana kedokteran yang tidak melanjutkan program profesi dokterku. Dan aku seorang pianis." "Hebat! Apa kubilang, Bill? Nasibmu dan selera perempuanmu memang selalu tepat," keluh Galuh sambil mengunyah nasi goreng, "Seandainya saja aku di lahirkan dengan memiliki selera perempuan dan nasib baik yang kau punya juga—” "Secara tidak langsung, kau sudah mengatakan bahwa selera perempuanmu buruk? Jadi kau mau bilang bahwa adikku buruk? Huh?! Begitu?!" "Wow, aku rasa kita ada tamu di sini," kata Galuh menyadarkan, sambil melirikkan matanya pada Juwita. "Maafkan Billy. Dia memang punya masalah pribadi sendiri. Ngomong-ngomong, aku sudah selesai makan. Aku balik duluan ke kamar ya, dan menelepon Timmy untuk tidak lupa menjemput kita. Aku permisi." Juwita tidak merasa sedikitpun canggung, walaupun itu pertama kalinya dia bertemu Galuh, dan pula, Billy memang memiliki kesan pertama yang indah di mata Juwita sejak pertama melihatnya di restoran hotel tempo hari. "Galuh memang menyebalkan. Aku harap kau bisa memakluminya," kata Billy. Juwita menggeleng, masih dalam keadaan tertawa lepas. "Tidak, aku justru senang melihat orang sepertinya. Menyenangkan dan membuat hidup lebih terasa hidup." Billy menarik salah sudut bibirnya. Wajah tampannya itu berhasil menyihir mata Juwita lagi untuk—entah yang ke berapa kalinya. "Baiklah, Juwita? Apa aku benar memanggilmu Juwita?" "Yap, yap!" "Apa kau memiliki..." "Pacar?" Tebak Juwita, sambil memamerkan rentetan gigi rapihnya hasil behelan selama tiga tahun. "Aku berpacaran dengan seorang arsitek terkenal asal Italia beberapa tahun ini. Namanya Gio, dan aku putus dengannya dua bulan lalu." Dia mengakhiri kalimatnya masih dengan senyum di wajahnya. "Good then. I thought that I might get a broken heart--once more--after last night," gumam Billy. "Galuh tadi... Dia berpacaran dengan adikmu? Dan Timmy...?" "Galuh berpacaran dengan adikku, Cindy. Dan Timmy adikku juga. Singkatnya, aku memiliki dua orang adik dan satu orang kakak laki-laki." Juwita mengangguk paham. Drrt... Drrtt... Juwita merasakan ponselnya bergetar di dalam sakunya. Dia melihat caller ID Si Penelepon dengan cepat. Jeremy Juwita memilih untuk menggeser layar ponselnya ke kiri, memutuskan untuk tidak mengangkatnya. "Siapa?" "Adikku, Jeremy," jawabnya singkat. "Aku punya seorang adik dan seorang kakak." "Mirip sepertiku. Mungkin kita memiliki nasib yang sama juga?" Balas Billy sambil nyengir. "Oh ya!" Billy mengeluarkan ponselnya dari saku kantong celananya. Dia mengangkat ponsel itu dan memberikannya pada Juwita. "Sounds cheesy, isn't? Tapi percayalah aku belum pernah meminta nomor telepon perempuan manapun untuk aku dekati sebelum kau." "Bahkan Diana?" Tanya Juwita, sambil mengernyitkan dahinya. Gadis itu dengan ragu mengambil ponsel Billy. "Ah, kalau yang satu itu tidak masuk hitunganku. Aku tidak perlu meminta nomornya karena aku sudah mengenalnya dari dulu." "Curang." Desisan Juwita cukup kecil, namun Billy masih dapat mendengarnya. "Itu nomorku. Terserah kau mau menyimpannya dengan nama apa." "Bagaimana kalau Cantik?" "Namaku Juwita," balasnya setengah mendesah. "Okelah kalau begitu. Juwita Cantik." Juwita tertawa kecil. "Apa kau selalu begini kepada semua perempuan yang kau pacari?" Billy mengerucutkan bibirnya, dia juga menggeleng. "Hanya kepada perempuan yang menurutku pantas untuk aku katakan cantik." Juwita tersenyum kali ini. "Bill, Timmy sudah datang," kata Galuh yang sudah balik secara tiba-tiba dari kamar hotel. "Aku sudah check-out." Billy mengangguk, dan mengangkat kelima jari tangannya, menandakan, beri dia waktu sebentar saja, Galuh pun membalas dengan memberikan ibu jarinya. "Aku pergi dulu," kata Billy. "Tapi tenanglah, aku akan menghubungimu nanti." Juwita mengangguk. Selepas Billy pergi bersama Galuh, Juwita kembali mendapat telepon yang sama. Jeremy "Halo Jer? Ada apa? Aku masih di hotel kalau kau tanya aku dimana." "Bisa kau pulang sekarang juga, Juwi?" "Kau kenapa, Jer? Begitu kangennya dengan kakak favoritmu ini, ya?" tanya Juwita masih meledek. "Si Boneka Negara itu sudah balik ke asramanya? Sudah berhasil membuat Jelita menangis-nangis lagi, belum?" "Kak Ferdi masih di rumah. Tapi... bukan itu masalahnya, Juwi. Bisa kau pulang sekarang juga?" Pertanyaan Jeremy seperti orang putus asa. "Hei, cepat katakan padaku ada apa? Jangan membuatku frustasi, Jer!" "Engkong pulang, Juwi. Dia ingin bertemu kita. Khususnya, denganmu." Ini baru yang disebut malapetaka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD