Four

1450 Words
Kamar Billy berantakan dengan berbagai setelan jas hitam, abu-abu dan putih. Well, wajah tampan Billy memang membuatnya pantas memakai setelan jas manapun. Tapi bukan hal itu yang membuatnya mengeluarkan semua setelan di dalam lemarinya. Saat Galuh masuk ke dalam kamar Billy--hanya sekedar memastikan kalau Billy tidak bunuh diri sebenarnya--dia melihat kamar Billy sudah jadi kapal pecah. "Kau ini! Kenapa semuanya di keluarkan?!" "Menurutmu aku harus pakai yang mana?" Tanya Billy. "Aku pikir kalau hanya pakai kemeja, akan membuatku terlalu biasa. Kalau batik, terasa terlalu formal." Galuh mengambil jas hitam. "Ini. Pakai yang ini untuk membalasnya. Datang ke pernikahan mantan kekasihmu itu, lebih baik kau membuatnya menyesal karena meninggalkanmu dari pada membalas dendam." "Kenapa yang hitam?" Tanya Billy sambil mengernyitkan dahinya. "Diana bilang kau tampan memakai jas hitam, dan kau tidak suka memakai jas hitam. Jadi, pakailah jas hitam, agar dia menyesali keputusannya meninggalkanmu." Ah, betul juga. "Kau ikut kan?" Tanya Billy. Resepsi pernikahan itu di selenggarakan di Gran Camila Hotel. Iya, betul, itu adalah hotel favoritnya Mira untuk menongkrong. "Iya. Aku ikut," katanya malas-malasan. Hal itu membuat Billy menyunggingkan senyum meledeknya. "Hei, kau tahu? Kau bisa mengajak Cindy kalau kau mau." "Dia sibuk membuat artikel," jawab Galuh singkat. "Mira juga datang sendiri. Dia minta untuk di jemput di asrama dulu." Kali ini Billy mendesah. "Dasar manja. Baiklah, kita berangkat jam tiga sore sebelum macet-macetan nanti. Oke?" "Siap, Kapten!" Sahut Galuh sambil memberikan hormatnya. ----- Dari asrama, mereka bertiga berangkat jam lima lewat, bahkan sudah hampir setengah enam. Bukan sepenuhnya salah Mira, karena jalanan memang macet. "Kalau saja kau tidak lama dandannya, Mir," keluh Billy. Mira mendesis di kursi belakang mobil Mazda CX-7 itu. "Hei, biar aku tidak dandan terlalu lama. Lagi pula aku memang memiliki wajah yang bagus, jadi untuk apa berdandan terlalu lama?" "Kalian berdua selalu saja ribut," timpal Galuh. "Tidak bisakah kalian diam saja? Ini sudah hampir jam tujuh, dan kita masih berada di tol dalam kota." "Kita tinggal keluar kan dikit lagi? Hotelnya ada tak jauh dari situ bukan?" Tanya Billy. "Memang tidak jauh. Tapi waktunya tidak akan keburu kalau keadaannya seperti sekarang ini," balas Galuh. "Eh, sudah lancar." Tak lama setelahnya, Galuh mengambil arah keluar tol, lalu menuju arah hotel. Niat mereka bertiga bukan untuk makan-makan lewat kondangan mantan Billy itu. Tapi, mereka bertiga sebenarnya juga ingin ke restorannya. Restoran yang punya menu kopi dan alkohol favorit Billy dan Galuh. Walaupun Abdi Negara tidak diperbolehkan meminum alkohol, tapi terkadang mereka memerlukannya untuk sekedar hiburan. Karangan bunga di sepanjang lobby Gran Camila Hotel itu dipenuhi oleh tulisan yang kurang lebihnya sama semua. Selamat Berbahagia Cakra Oeriputra ♡ Aldiana Victaria "Seharusnya aku kirim karangan bunga juga ya untuknya?" Gumam Billy saat membenarkan dasi merahnya di lobby hotel. "Lihat betapa banyaknya karangan-karangan bunga untuk mereka." "Kalau dia menikah denganmu, dia akan sedih melihat foto pernikahannya nanti," desis Mira, "Kau kan harus pakai seragam saat menikah nanti. Ah, ralat, kalau kau menikah dengan perawan." Billy melirik tajam. "Maksudmu aku akan menikah dengan janda?" "Mungkin?" Balasnya. "Secara tidak langsung kau ingin agar aku tidak pernah menjadi jenderal? Dan aku harus turun pangkat?!" "Hei, sudahlah, ini di hotel, kawan! Tidak bisakah kalian berdua lebih tenang sedikit?" Keluh Galuh. "Ayo kita ke ballroomnya. Sepertinya kita datang di saat yang pas. Acara makan-makannya sudah mulai harusnya." Billy masih tidak terima kalau Mira mengatakan dia akan menikahi janda. Sebagai salah satu anggota Angkatan Darat juga, Mira jelas paham kalau menikahi seorang janda—untuk laki-laki—hukumnya adalah aib bagi Si Tentara itu. Karena seorang perwira lajang hanya boleh menikahi perawan yang masih gadis. Menikah dengan janda? Itu berarti mengubur cita-citanya untuk menjadi jenderal. Hal ini pun juga berlaku untuk Angkatan Laut dan Udara. Di dalam ballroom itu, dekorasinya persis warna favorit Diana. Dan Billy tahu betul kalau ballroom seperti inilah yang menjadi idaman Diana saat menikah. Warna tiffany blue, yang di campur dengan tosca dan merah muda. Sempurna. Satu kata itu muncul di benak Billy. Beruntung karena Diana menikahi pengusaha real estate yang banyak uangnya itu. Pernikahan seperti ini, di hotel mewah ini hanya akan menguras tabungan Billy. Memangnya berapa banyak sih gajinya tentara? Makanan pilihannya, juga merupakan makanan favorit Diana. Playlist yang di mainkan orkestra juga pasti pilihan Diana. Ratu perfeksionis itu tidak akan membuat malamnya hancur dengan membuat impian pernikahannya berantakan bukan? "Makanannya enak. Kau tahu? Aku dengar O's Orchestra punya tarif yang mahal untuk per lagunya. Satu lagu di hargai sepuluh juta untuk pernikahan," kata Galuh, "Kau hitung saja berapa lagu yang sudah dimainkan orkestra disana." "Betul," tambah Mira. "Oakatering juga punya rekor katering termahal beberapa tahun terakhir. Hebat bukan? Aku rasa hanya untuk musik dan makanannya saja dia sudah mengabiskan hampir empat ratus juta. Belum lagi sewa gedung, baju pengantin, baju keluarga, dekorasi, souvenir, undangan dan harga EOnya?" Billy menelan ludah. Diana memang cantik dan berbahaya. Dia tahu kalau Diana seorang artis dan model yang terkenal sosialita. Tergolong sebagai artis high maintenance nomor dua, versi salah satu media infotainment di stasiun TV swasta. Heran juga kalau dipikir-pikir kenapa Billy mampu bertahan dengan perempuan macam Diana dulu. Saat ini, lagu yang sedang di mainkan oleh O's Orchestra adalah I Love You Baby-nya Frank Sinatra. Sementara layar proyektor besar itu menampilkan foto-foto dari kedua mempelai. Saat bagian refreinnya, ada satu foto yang mengejutkan. Fotonya adalah foto Billy yang sedang mengecup puncak kepala Diana sewaktu mereka berada di Tangkuban Parahu. Lalu di foto berikutnya, ada foto mereka lagi yang saling berpelukan. "Ini siapa yang ngatur proyektornya deh?" Bisik Galuh. Billy langsung menaiki panggung orkestra. Dia meminta agar orkestra untuk berhenti sejenak, dan dia mengambil alih mikrofon dari Si Penyanyi. "Diana, selamat atas pernikahanmu. Entah kau mau jadi istrinya yang nomor satu, dua atau tiga atau berapapun itu! Aku tidak peduli." Billy menarik napas dalam-dalam. "Bersamamu, aku tidak pernah menyesal. Saat kau memutuskan untuk meninggalkanku, aku juga tidak menyesal. Yang aku sesali adalah kehadiranku disini. Untuk apa kau memasang foto-foto itu?!" Billy menunjuk layar proyektor besar yang (masih) menampilkan foto mereka berdua. "Semoga kalian bahagia. Dari mantan kekasihmu, Billy." Lalu Billy turun dari panggung, dan meninggalkan ballroom. Suasana di dalam sana masih mendadak hening, tapi host pernikahan pun dengan cepat mengambil alih. Namun, Diana yang terlanjur malu, malah meninggalkan pelaminannya dan lari entah kemana. "Billy lari ke mana?" Tanya Mira. "Tidak jauh dari sini seharusnya," gumam Galuh. "Tidak kusangka dia berhasil membalas dendamnya. Padahal aku bilang untuk membuat Diana menyesal saja." "Sudahlah, abaikan dulu bagian itu. Sekarang kita harus mencari Billy." ----- Billy berada di Gran Café, yang ada di lantai lobby hotel. Dia sudah meminum dua seloki red wine. Mahal, dan sesuatu yang memang sedang dia butuhkan. Toh, dia sedang dibebas tugaskan bukan? Anak buahnya, atau perwira bawah, biasanya lebih memilih rokok untuk melampiaskan kesedihan hati mereka saat putus cinta. Atau, di tinggal mantannya menikah--seperti kasus hari ini. Hanya, Billy memang tidak pernah merokok. Eh, ralat, dia merokok saat benar-benar sakit hati, dan itu terjadi saat dirinya putus dari Diana. "Tambah satu lagi red wine-nya," kata Mira, mengambil tempat duduk di kanan Billy. "Dan s atu botol vodka juga tequila," tambah Galuh. "Biar aku yang bayar untuk vodka dan tequilanya." Mira tertawa, "Biar aku yang bayar pesananku, dan pesananmu, Bill. Anggap saja ini sebagai hiburan untukmu. Aku juga ingin membantumu walaupun tak berarti besar." Tak lama tiga botol pesanan mereka datang. "Setidaknya aku puas melihatnya hari ini," gumam Billy sambil tertawa dan terisak. "Ya, kau tidak merokok kali ini," tambah Galuh. "Minumlah sepuasmu, Kapten. We're off from duty now." "Aku harus tugas besok. Paling aku minum dua atau tiga gelas saja." "Besok hari Minggu, Mir," kata Billy. "Klinik tutup di hari Minggu. Kau mau tugas di rumah sakit besok?" "Tidak, aku harus ikut bakti sosial bersama yang di adakan oleh Kemenkes di Cirebon. Heran juga, kenapa harus di Cirebon." Mira menenggak gelas anggur merah pertamanya. "Karena di sana banyak orang sakit," kata Billy asal. "Memang. Tapi personel dokternya pas-pasan, kalian tahu?" Keluhnya. "Hanya ada enam dokter untuk tiga ribu pasien. Setelah mengambil dokter asal, akhirnya dari Angkatan Darat mendapat tambahan empat dokter. Satu dokter untuk tiga ratus? Itu tugas yang cukup berat." "Kau pulang besok juga?" Tanya Galuh. Mira menenggak gelas keduanya. "Ya. Justru karena pulang hari itu juga. Aku rasa kegiatannya bisa sampai malam, belum lagi macetnya. Aku mau tutup klinik saja hari Senin nanti." "Hei aku mau mengganti perban perut dan bahuku lagi hari Senin," kata Billy. "Kau pergi saja ke rumah sakit," kata Mira. "Aku malas ke rumah sakit. Disana ramai. Pokoknya, kau harus praktik hari Senin nanti..." Billy mengatakannya sambil setengah melantur. "Sepertinya dia mulai mabuk," kata Mira. "Kalau kau juga mabuk, jangan harap aku akan membopong kalian ke mobil!" "Kau kan perempuan kuat, Mir," kata Galuh, "Masa kau tidak mau membopong kami ke mobil?" "Astaga, kau juga sudah ikutan mabuk!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD