"Juwita mau jadi apa waktu udah besar nanti?" Tanya Dad pada anak perempuan kesayangannya itu.
"Jadi tentara! Seperti Dad! Biar Juwita bisa nemenin Dad waktu Dad lagi tugas!" Seru bocah berusia tujuh tahun itu.
"Kalau Juwita ikut Dad, yang jagain Bunda siapa?" Tanya Dad, "Juwita kan selalu bilang mau jaga Bunda selama Dad nggak ada."
Juwita berpikir sejenak. Bocah itu memutar otaknya dan menemukan jawaban yang sederhana. "Kalau Juwita jadi tentara, berarti Kak Jelita dan Jeremy kan sudah besar! Nanti yang jaga Bunda Kak Jelita sama Jeremy. Biar Juwita yang jaga Dad!"
Juwita kemudian berhambur dalam pelukan ayahnya. Dia amat menyayangi ayahnya. Cinta pertamanya, dan akan selalu menjadi lelaki yang membuatnya takkan menangis. Itulah yang ada di benaknya kala itu.
-----
Drrtt... Drrtt..
"Halo?" Juwita menjawab dengan suara paraunya sambil mengucek matanya yang berat. Seandainya dia tidak mendengar ponselnya berbunyi, dia pasti akan melanjutkan mimpinya. Dia kangen ayahnya, dan hanya lewat mimpilah dia bisa bertemu ayahnya. "Ini masih pagi. Kenapa kau meneleponku?"
"Juwita, kau dimana dan kapan kau pulang?"
Begitu dia mendengar siapa yang menelepon, Juwita buru-buru mengutuki dirinya sendiri. Bodoh! Kenapa dia tidak melihat dulu siapa yang memanggilnya sebelum mengangkatnya tadi?
Ingin rasanya dia langsung mematikan sambungan telepon itu. Dia sedang malas berdebat dengan Jelita.
"Kapan Boneka Negara itu pergi? Aku baru pulang."
"Juwita! Rumah ini punya Ferdi. Dia berbaik hati menampungmu dan Jeremy. Kenapa kau tetap bersikap seperti ini pada kakak iparmu sendiri?"
Suara Jelita yang melengking tinggi membuat telinga Juwita pekak. Dia menjauhkan ponselnya buru-buru.
"Kalau aku tidak salah tangkap, berarti makna tersirat dari ucapanmu barusan adalah untuk menyuruhku keluar dari rumah Boneka Negara itu." Juwita tidak bodoh, dan dia cukup pahan ucapan kakaknya sebenarnya agar Juwita pulang, dan tidak bersikap seperti ini pada Ferdi. "Kalau itu maumu, baiklah aku akan keluar dari rumah itu."
"Juwita itu bukan maksudku! Ini rumahmu juga, Juwita!"
"Kau sendiri tadi yang bilang kalau itu rumah Boneka Negara itu bukan? Kenapa sekarang bilang kalau itu rumahku juga?" Juwita ingin segera memutus sambungan teleponnya tapi Jelita berhasil mengatakan hal lainnya.
"Juwita, sampai kapan kau mau seperti ini? Kakak tahu ini bukan dirimu. Aku tahu adikku tidak seperti ini."
Juwita pun juga tidak mau seperti ini. Tapi, tiap kali dia melihat baju tentara, melihat pangkat militer, dia segera merasakan kebencian itu. Benci akan Abdi Negara yang selalu setia pada negaranya. Menurutnya itu bodoh, dan dia benci hal itu.
"Saat Dad dan Bunda kembali. Saat aku bisa merasakan kehadiran mereka lagi. Aku akan berhenti seperti ini."
Sambungan di putus. Juwita meletakkan ponselnya di nakas. Tubuhnya kembali dia rebahkan di atas tempat tidur empuk hotel berbintang tujuh itu.
Kalau kalian bertanya bagaimana biss pengangguran macam Juwita kenapa bisa mendapatkan kamar di hotel mewah seperti ini, jawabannya simpel. Karena nama Juwita terdaftar sebagai tamu VIP di hotel ini. Salah seorang temannya adalah pemilik hotel ini. Walaupun pengangguran, tapi Juwita punya banyak channel dan pergaulan yang luas. Termasuk, bermain piano di hotel ini juga terjadi karena temannya.
Juwita menyalakan televisi. Dia malas untuk melakukan aktivitas apapun hari ini. Dia ingin tidur saja di kamar hotel. Namun setelah jam delapan, dia lapar.
Dia putuskan untuk mandi dulu.
Ting-tong!
Itu bunyi bel kamar. Siapa yang mau mengunjunginya di pagi hari ini?
Rambut hitam lurus nan lembutnya itu masih berantakan, dan pakaiannya masih menunjukkan kalau dia baru bangkit nyawa.
"Ada apa?"
"Juwi, main piano di acara pernikahan hari ini ya?" Pinta Clarissa. Dia bukan pewaris hotel ini, tapi pewaris Gran Camila Event Organizer. Dia masih saudaranya Clement, yang mewariskan hotel.
"Memangnya ada masalah apa sama Si Pianis?" Tanya Juwita malas-malasan. "Tangannya keseleo? Jarinya kena saraf kejepit? Atau alasan bodoh apa lagi, Clar?"
Clarissa memasang puppy eyes-nya. "Ayolah... aku tidak tahu harus minta tolong siapa lagi untuk bermain piano di acara pernikahan nanti malam. Tiba-tiba saja, pianis yang bertugas untuk orkestranya kecelakaan kemarin malam setelah pulang latihan."
Clarissa tahu kalau meminta tolong pada Juwita sama dengan bunuh diri, karena tarif yang dimintanya bukan harga yang normal. Apalagi dadakan, dan untuk hari ini juga. Tapi dari pada acara nanti malam hancur?
"Memangnya siapa sih yang menikah?" Tanya Juwita mengerutkan dahinya sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Yang beritanya ada di TV hari ini. Pasti kau sudah tahu," balas Clarissa.
Juwita sempat menonton acara infotainment nggak jelas sekilas tadi. "Aldiana Victaria dan Cakra Oeriputra? Yang punya bisnis real estate itu?" Tanya Juwita. "Itu istri keempatnya bukan?"
"Bodoh amat deh istri ke berapa Aldiananya. Tapi aku mohon, bantu aku. Aldiana itu artis, Cakranya pengusaha. Banyak media yang akan meliput! Masa kau tega sekali sih, Juwi?"
Juwita menunduk, membiarkan rambutnya jatuh bebas. Tak lama, tangan kanannya mengelurkan jari telunjuk, tengah dan manisnya. Menunjukkan sebuah tanda. "Tiga. Aku mau."
Clarissa melemas. "Hei, mahal sekali? Pakai rupiah saja, Juwi!"
"Aku bilang tiga," ulang Juwita.
"Dua saja? Bagaimana?"
"Tiga."
Clarissa mendesah. "Oke, dua ribu dollar, dan free-pass dua minggu bebas pakai kapanpun?"
Juwita mengangkat kepalanya, "Buat free-passnya untuk satu bulan."
"Baiklah, baiklah. Satu bulan! Tapi dua ribu saja."
Juwita menjulurkan tangan kanannya. "Deal. Untuk jam berapa?"
"Jam enam sudah harus siap. Kau bisa latihan dengan orkestranya dari jam tiga di ballroom. Oh ya, kepala orkestranya Oscar--hanya memberitahu agar kau tidak canggung."
"Oscar juga temanku. Kau tenang saja. Baju hitam?"
"Aku siapkan," jawab Clarissa.
"Baiklah. Aku mau mandi, makan, lalu latihan oke? Daftar lagunya mana ya?"
"Di Oscar. Kau hubungi saja."
Juwita mengangguk.
-----
Aldiana & Cakra Wedding Song List:
1. Because of You, Keith Martin
2. When You Tell Me That You Love Me, Diana Ross
3. Thinking Out Loud, Ed Sheeran
4. L-O-V-E, Nat King Cole
5. Like I'm Gonna Lose You, Megan Trainor & John Legend
6. I Love You Baby, Frank Sinatra
7. Because You Loved Me, Celine Dion
8. Thank God I Found You, Mariah Carey
9. Marry You, Bruno Mars
10. Close To You, The Carpenters
11. All of Me, John Legend
12. You're The Inspiration, Chicago
"Lagunya ini saja?" Tanya Juwita pada Oscar di dalam ballroom yang masih di dekor sana-sini. "Tidak ada tambahan lagu lain, kan?"
"Hanya ini saja," balas Oscar, "Beruntung sekali Clarissa bisa menemukanmu di dalam salah satu kamar hotel disini. Kalau tidak ada pianisnya, aku yakin Clarissa bisa di maki habis-habisan oleh mempelainya."
Juwita tertawa renyah. "Karena aku tahu dia akan mendapat kesusahan, makanya aku memilih untuk memasang tarif tinggi."
Oscar ikut tertawa juga. "Itu baru Juwita yang aku kenal. Omong-omong ada lagu yang mau di tes dulu atau tidak? Atau ada lagu yang belum pernah kau dengar sebelumnya?"
Mata gadis yang sudah mandi itu menjelajahi kertas yang di pegangnya. "Nope. Aku tahu semua lagunya. Oh ya, nada dasarnya dimana saja?"
"Kau ikuti saja nanti saat sudah mulai." Oscar tahu betul kalau perempuan di hadapannya ini memiliki kemampuan bermusik yang hebat. Dia memiliki perfect pitch. Suaranya pun juga indah, walaupun bukan sopran. "Bagaimana kabarmu sekarang, Juwi?"
Juwita melirik Oscar. "Sejak kapan kau jadi penasaran dengan ceritaku, Car?"
"Just curious, Juwita. Apa kabarnya denganmu kini? Yang ku dengar, saat ini kau tak lagi dengannya."
Senandungan itu membuat Juwita terkekeh. Itu merupakan salah satu lagu favoritnya dari grup band Yovie and Nuno. Alasannya, apalagi kalau bukan namanya yang sama dengan judul lagu itu?
"Aku baik, Car. Dan dia memang tak lagi denganku. Seperti yang kau lihat, aku masih menjalani hidupku dengan baik, dan aku masih bertahan."
Oscar menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku kenal kau sejak SD, Juwita. Jangan bilang kalau kau baik-baik saja setelah kau kehilangan semangat hidupmu."
"Semangat hidupku?"
"Your Dad. I knew it well, Dear. Kau pikir aku tidak tahu alasanmu mati-matian masuk paskibra waktu SMP dan SMA? Karena Dad-mu kan?"
Juwita tersenyum tipis. "Ya. Itu alasanku dulu. Tapi sekarang aku menyesal pernah begitu gilanya menjadi paskibra, menderita dua minggu di Istana Negara hanya untuk ‘diperbudak.’"
"Kau yang bilang kalau Dad-mu bangga saat melihatmu menjadi baki."
"Sudahlah Car, itu masa lalu yang perlu di lupakan dan tak usah lagi diingat-ingat. Oke?"
Juwita memasang wajah asam, lalu keluar dari ballroom. Dia meninggalkan Oscar sendirian. Yang dia inginkan sekarang, hanyalah sendirian, tanpa adanya orang lain.
"Car, thank you banget ya!" Seru Clarissa.
Oscar mengangguk. "Iya. Biasa aja, Clar. Lagi pula Juwita nggak bisa selamanya nutupin bakat dia."
"Heran sama Juwita," gumam Clarissa. "Tipikal kehidupan impian perempuan dia punya semua. Cantik, pintar, sosialita, punya uang, dan pacarnya—maksudku mantannya itu—Gio, arsitek hebat. Secara dunia, dia sempurna. Tapi, kenapa sih dia masih bersikap gitu?"
Oscar menoleh melihat Clarissa, "You'll never understand other's heart. Kau tidak akan tahu perasaan terdalam seseorang."
Clarissa mengerucutkan bibirnya, lalu dia membereskan dekorasi ballroom, dan Oscar mengatur tatanan tempat duduk orkestranya.