Entah ada dimana dirinya sekarang. Tapi ketika Juwita sadar dari pingsannya, dia melihat bahwa langit sudah gelap. Dahinya berdarah, mungkin terkena benda tajam saat tsunami menerjangnya tadi sore. Seluruh tubuhnya basah, dan dia juga mengnai puing rumah yang berhasil membuat kaki kirinya terluka. Juwita tidaj bisa mendapati dimana ponselnya berada. Ini bencana. Mungkinkah dia harus mati dalam keadaan yang mengenaskan begini? Dari semak-semak yang bergerak, Juwita mendengar ada langkah seseorang di sana. Siapapun itu, Juwita hanya berharap agar dia dapat menyelamatkannya. "Juwita?" Lho? Suara itu kan suaranya Ferdi. "Kak Ferdi?" Ferdi dengan sigap menyalakan senternya, dan mengarahkannya pada seluruh tubuh Juwita. Lelaki itu menyingkirkan ranting dan puing lainnya yang menutupi tu

