"Tapi Pa ...," bantah Sarah lemah, matanya masih menghindar.
"Tidak ada tapi!" potong Alvin, suaranya tegas dan terdengar lelah. "Dia keluarga kita, Sarah, suamimu. Baik kamu terima atau tidak, dia telah menjadi bagian dari hidup kita selama dua tahun terakhir ini. Kebaikannya bukan sesuatu yang bisa kita abaikan begitu saja. Pergi. Sekarang juga."
Sarah menarik napas dalam. Tatapan ayahnya yang penuh harapan dan sedikit kekecewaan itu menusuknya. Dia mengangguk pelan, tak kuasa menolak. "Baik, Pa. Aku akan pergi."
"Ambil jaket. Malam ini dingin," saran Alvin, wajahnya sedikit relaks.
Sarah berbalik, mengambil jaket dan tasnya. Di depan pintu, dia menoleh sekali lagi. Alvin memberi isyarat agar dia segera pergi. "Kabariku keadaan dia."
Akhirnya, mobil meluncur di jalan yang relatif sepi. Pikiran Sarah tak bisa tenang. Di persimpangan lampu merah, matanya tertumbuk pada baliho besar yang terang benderang. Foto Sultan yang tampan dan percaya diri, dengan logo perusahaan "Atmajaya Group" dan tagline "Membawa Terang, Menciptakan Masa Depan". Bisnisnya sedang melesat. Hati Sarah terasa seperti diremas.
"Andai dulu tak ada Rumaisyah ... andai Sultan memilihku ... mungkin aku yang sekarang ada di sampingnya, tersenyum bangga dalam setiap konferensi pers, menjadi istri tercinta yang dia sebut-sebut dalam setiap kesuksesannya. Bukan hanya sekedar jadi penonton dengan menahan perih seperti sekarang."
Air matanya tanpa sadar menetes. Dia mengusapnya dengan kasar. Kenangan pahit itu datang menerpa, janji-janji Sultan yang pupus, senyum manis Rumaisyah, dan dirinya yang tertatih meninggalkan segalanya. Dia menangis dalam hening, tangisan untuk masa lalu yang tak bisa direbut kembali, untuk cinta yang berakhir menjadi abu.
Lalu, pikirannya beralih ke Agam. Pernikahan mereka yang lebih seperti hukuman baginya, pelariannya ke Jerman untuk menghindari kenyataan, dan keputusannya pulang dua bulan lalu dengan niat awal yang jelas mengajukan cerai. Tapi kenapa sekarang, saat mendengar Agam celaka, dadanya sesak? Kenapa setiap ingat kebaikan Agam pada ayahnya, rasa bersalah itu membesar? Dan kenapa bayangan Agam bersama Sofi dan Talia bisa membuatnya begitu kesal?
Dia tidak siap menghadapi perasaannya yang kacau ini.
Pukul setengah sembilan malam, Sarah sampai di RS Mitra Sejahtera. Jantungnya berdebar kencang. Dia langsung menuju Bangsal Melati, kamar 712. Setelah menarik napas panjang, dia mengetuk pintu lalu membukanya perlahan.
Pemandangan yang terlihat membuatnya membeku.
Agam, dengan kaki kiri dibalut gips, sedang berdiri dengan susah payah, bersandar pada bahu Sofi yang memapahnya dengan tangan melingkar di pinggang Agam. Mereka sedang beringsut pelan menjauhi tempat tidur, mungkin menuju kamar mandi.
"Maaf, ini aku cuma bantuin Agam ke ...," sahut Sofi cepat, wajahnya polos.
Agam langsung panik melihat Sarah. Wajahnya pucat. "Sarah! Tunggu, ini bukan seperti yang kamu lihat! Aku cuma mau ke kamar kecil dan dia cuma bantu karena ...."
Sarah memotong dengan suara datar dan sedikit gemetar. "Karena apa? Karena istrimu tidak ada di sini? Karena istrimu tidak peduli?" Rasa kesal, cemburu, dan sakit hati bercampur jadi satu. Tapi dia ingat statusnya, ingat perkataan ayahnya. Dengan langkah tegas, dia masuk dan mendekat.
"Lepaskan dia," perintah Sarah pada Sofi, tangannya mengambil alih lengan Agam yang melingkari bahu Sofi.
Sofi terlihat bingung, tapi perlahan melepaskan Agam. "Aku ... aku tunggu di luar saja."
"Tidak usah. Kau pulang saja. Terima kasih sudah menjaganya," kata Sarah tanpa menatap Sofi, fokusnya pada bagaimana memapah Agam yang lebih tinggi dan besar dengan posisi yang tidak membuat kakinya terseret.
Sofi akhirnya mengangguk, mengambil tasnya dan pergi dengan wajah sedih.
Setelah Sofi pergi, Sarah merasa sedikit canggung.
"Kamu mau ke kamar mandi untuk buang air kecil?" tanya Sarah, suaranya masih sarkastik. "Wajar sekali dibantu sampai berpelukan seperti tadi."
"Sarah, aku bersumpah, dia cuma memapah. Aku susah seimbang dengan gips ini," bantah Agam lemah, wajahnya kesakitan.
"Sudah, diam," gerutu Sarah. Dengan susah payah, dia memapah Agam ke kamar mandi kecil di dalam kamar. Begitu sampai di depan kloset, mereka berdua terdiam.
"Em ... aku bisa lanjut sendiri," kata Agam, pipinya memerah.
"Bisa? Tadi saja hampir jatuh," sahut Sarah, menatapnya dengan ragu. Tapi dia juga merasa sangat canggung. "Apa ... apa kamu butuh bantuan membuka celana?" tanya itu meluncur sebelum dipikir.
Wajah Agam merah padam. "Tidak! Ah, tidak ... aku bisa. Cuma ... tolong jangan pergi jauh. Aku takut jatuh."
Sarah mengangguk, berbalik membelakangi Agam tapi tetap berada dalam jangkauan. Suara gesekan celana dan desahan kecil Agam memenuhi keheningan yang canggung itu. Pipi Sarah juga terasa panas. Ini sungguh situasi yang memalukan dan tidak pernah dia bayangkan.
"Sudah selesai?" tanya Sarah setelah mendengar suara flush.
"Iya. Terima kasih," jawab Agam, suaranya kecil, pria itu membungkuk, berusaha meraih celananya yang ternyata turun terlalu jauh.
"Masih lama?" tanya Sarah.
Agam semakin gugup, pria itu pun kehilangan keseimbangan dan merintih.
Sarah segera berbalik dan mendapati Agam hampir jatuh. Dia dengan cepat meraih suaminya dan membantunya.
"Tidak apa, aku bisa sendiri."
"Bisa apa?" Sarah dengan ragu membantu Agam membuat pipinya merah padam melihat semuanya. Bagaimana milik Agam bereaksi di depannya, sungguh, itu membuatnya malu. Meski mereka suami istri dan Sarah pun pernah melihat, tapi dulu tak jelas.
Sedangkan Agam, ia hanya bisa berdiri dengan canggung, dia memalingkan wajahnya karena malu ditambah reaksi tubuhnya.
"Ma-maaf itu, itu naluri alami," ucap Agam tak enak hati.
Sarah tak menanggapi, jantungnya berdebar bukan main. Ia kembali memapah Agam ke tempat tidur. Saat Agam sudah terbaring nyaman, Sarah tak tahan lagi.
"Jadi, selama dua hari ini, yang menjagamu siapa? Sofi? Setia sekali ya, sampai mau memapah ke kamar mandi di malam hari."
Agam menarik napas. "Sarah, Talia demam tinggi. Sofi kebetulan ada di rumah sakit yang sama, di poliklinik anak. Dia yang lihat aku dan kadang menengok. Aku tidak minta dia jaga. Dan aku ... aku tidak menghubungimu karena ... aku tidak mau kamu datang karena kasihan." Matanya menatap Sarah penuh arti.
Sarah diam, menatap lantai. Kecemburuan yang tadi menyala-nyala sedikit mereda, digantikan oleh kesadaran bahwa mungkin dia sendiri yang menjauh.
"Kamu ... cemburu?" tanya Agam penuh harap, sebuah senyum kecil mulai mengembang di bibirnya.
Sarah menatapnya tajam. "Jangan berhayal. Aku cuma melakukan kewajiban sebagai istri yang sah, atas perintah Papa." Tapi nada suaranya tidak lagi sepedas tadi.
Di dalam hati, Agam merasa senang bukan main. Dia datang. Dia cemburu. Ini awal yang baik. Harapan yang lama tertahan mulai menyembul di hatinya. Mungkin, justru setelah luka ini, hubungan mereka bisa mulai disembuhkan.
"Jadi, apa malam ini kamu mau menjagaku?"