Suasana kamar rumah sakit berubah hening setelah percakapan canggung di kamar mandi. Lampu utama sudah dimatikan, hanya tersisa lampu baca di samping tempat tidur Agam dan cahaya bulan yang menyelinap dari balik jendela. Sarah duduk di sofa kecil, pura-pura sibuk dengan tabletnya. Namun, perhatiannya terusik oleh sorot mata yang tak henti-hentinya menatapnya. Dari atas tempat tidur, Agam hanya berbaring, memandang Sarah dengan intens. Senyum kecil tak pernah benar-benar hilang dari bibirnya, meski kakinya masih berdenyut-denyut sakit. Diamnya kamar justru membuat tatapan itu terasa semakin membara di kulit Sarah. Setelah menahan diri selama mungkin, Sarah akhirnya menaruh tabletnya di pangkuan. Dia menatap Agam dengan ekspresi kesal. "Berapa lama lagi kamu mau menatapku seperti itu, Mas

