"Papa sebenarnya tidak setuju, tapi ... kemarin Papa iyakan."
Alvin menghela napasnya. "Nak Agam, Papa mohon kamu jangan ceraikan Sarah."
Agam menatap pada ayah mertuanya. "Tapi Pa, sepertinya Sarah memang tidak mau mempertahankan pernikahan kami."
Alvin menggeleng. "Sejak kalian menikah, kan kalian belum mencoba tinggal bersama. Sarah itu keras kepala, dia marah pada Papa karena waktu itu melarangnya kembali pada Sultan."
"Padahal, keputusan Papa benar, jika Papa mengiyakan waktu itu, memberi restu, Sarah akan terluka dua kali dan pasti itu lebih sakit, tapi sayang, Sarah tidak mau melihat hal baik itu."
Alvin menatap pada foto putrinya di dinding ruang tamu. "Besok saat dia pulang, kamu kejarlah dia, buat dia mencintaimu."
Pria paruh baya itu kembali menatap pada sang menantu. "Papa tau, kamu masih mencintai Sarah, bukan?"
Agam diam sejenak, lalu ia mengangguk pelan. "Agam juga berpikir seperti itu. Kami butuh waktu bersama untuk membangun rasa. Sayangnya kesempatan itu belum ada."
Pria 29 tahun itu menarik napasnya panjang. "Agam janji Pa, akan buat Sarah cinta sama Agam, kami akan pertahankan pernikahan ini dan bahagia nanti, Papa tidak perlu khawatir, Agam akan jaga Sarah sebaik mungkin."
Agam bicara dengan penuh keyakinan. Saat ini, ia sudah membayangkan pertemuannya dengan Sarah nanti. Mungkin, istrinya itu akan menolaknya, tidak apa, satu kali ditolak, Agam akan maju dua langkah, ditolak lagi, ia akan kembali maju dua langkah.
"Baiklah, sakarang Papa tenang, setidaknya kamu gak akan kaget denger permintaan Sarah nanti."
"Iya Pa."
Malam itu, Agam pulang ke rumahnya dengan perasaan lega karena istrinya akhirnya mau kembali. "Aku harus memikirkan bagaimana caranya agar Sarah gak langsung kabur, tapi apa ya?"
Agam yakin jika mereka langsung bertemu, lalu Sarah meminta cerai dan ia menolak, istrinya itu pasti akan langsung pergi kembali. Karena itulah, Agam harus berpikir agar Sarah tidak melakukan hal itu nanti.
"Oh, aku tau apa yang harus aku lakukan." Pria itu tersenyum menyeringai nan penuh arti.
***
Bandara Soekarno Hatta.
Agam berdiri di tengah kerumunan orang-orang yang tengah menunggu kedatangan keluarga mereka di terminal kedatangan internasional. Mata pria itu tak lepas menanti dari salah satu pintu kedatangan. Ia tak mau terlewat jika Sarah tiba nanti.
Apa Agam sengaja datang menjemput? Tentu tidak, dia hanya ingin melihat istrinya dari kejauhan, begitu rencananya, ia akan mengikuti wanita itu bahkan sampai pulang ke rumah nanti.
"Mana sih, padahal pesawatnya udah mendarat," gumam Agam tak sabar.
Hingga kemudian setelah cukup lama menunggu, yang ditunggu akhirnya tiba juga. Agam tersenyum lebar. Pria yang memakai topi, masker dan kacamata itu hanya berdiri di tengah kerumunan sambil mengamati kedatangan istrinya.
Sarah, wanita itu memakai blouse hitam, celana jins biru, rambut sebahunya digerai bebas. Sarah, wanita cantik itu berhenti melangkah, ia melepas kacamata hitamnya dan terlihat melihat ke sekelilingnya seperti mencari seseorang.
Tidak, Agam tidak mau ketahuan dan menggagalkan rencananya. Pria itu pun segera bersembunyi dengan jantung yang berdebar semakin cepat karena takut ketahuan.
Beberapa saat kemudian, Agam melihat lagi ke arah Sarah dan tidak mendapati wanita itu di sana. "Ke mana dia?" gumamnya.
Akhirnya Agam memutuskan kembali ke mobilnya setelah dia tak menemukan Sarah di manapun. Pria itu langsung menuju rumah Sarah. Namun, ia tidak akan bertamu, hanya menelepon pada ayah mertuanya dan meminta dikabari jika Sarah sudah sampai rumah dengan selamat.
Kurang dari 1 jam kemudian, setelah mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, Agam memarkirkan mobilnya di jalanan komplek perumahan Sarah, tidak jauh dari rumah Sarah.
"Sudah sampai belum ya?"
Sampai kemudian sebuah pesan masuk dari ayah mertuanya.
[Belum sampai.]
Membaca pesan itu, Agam pun berdecak kecewa, ia terus mengamati rumah Sarah. "Dia gak punya tempat pulang lain, kan?"
Hingga kemudian, sebuah taksi berhenti di depan rumah Sarah. "Nah, itu pasti Sarah," gumam Agam.
Akhirnya, pria itu tersenyum lega setelah melihat Sarah keluar dari taksi dan dibantu oleh sopir taksi mengeluarkan kopernya. Rasanya, Agam ingin sekali keluar mobilnya dan menghampiri Sarah lalu melepas kerinduannya dengan memeluk wanita itu.
Sementara itu di dekat mobil taksi, Sarah baru saja berterima kasih pada sopir taksi. Ia lalu melihat ke arah jalan tak jauh darinya. Bisa ia lihat mobil yang asing baginya. Namun, jenis mobil itu ia curigai sebagai mobil seseorang yang ia kenal.
"Apa itu Mas Agam?" gumamnya.
Tadi, di Bandara ia seperti melihat seseorang dengan perawakan seperti pria yang menikahinya dua tahun lalu. Namun, saat ia ingin memastikan apa benar pria dengan topi dan masker itu Agam atau bukan, seseorang itu menghilang. Ia sempat mencari, tetapi tidak ketemu.
"Kayaknya Mas Agam, kalau iya kebetulan, aku bisa langsung meminta cerai darinya!"
Sarah pun berjalan menghampiri mobil itu. Ia ingin bercerai dari Agam. Sungguh, dulu ia harap Agam menolak menikahinya saat ayahnya meminta hal itu dari pria itu. Waktu itu ia sudah menolak, tetapi ayahnya justru mengancamnya, harapan Sarah waktu itu hanya Agam. Jika Agam menolak, maka ayahnya tak akan lagi memaksa dan dia tinggal membujuk Sultan, begitu keinginannya.
Sayangnya tindakan Agam membuatnya kecewa. Karena itulah, Sarah memutuskan pergi setelah pernikahannya. Dia marah pada Agam, juga ayahnya.
"Mas Agam."