"A-apa dia tau?"
Agam panik saat melihat Sarah berjalan ke arahnya. Ia belum siap bertemu Sarah sekarang, ia yakin wanita yang masih berstatus istri sirinya itu akan segera meminta cerai padanya.
"Gak, sekarang belum saatnya."
Agam pun menyalakan mobilnya bersiap pergi, tetapi kemudian ia melihat Sarah berbalik ke arah rumahnya. Hal itu membuat Agam sedikit lega karena sesekali Sarah melihat ke arahnya.
"Huufft, sepertinya Papa Alvin memanggilnya."
Benar, Sarah baru saja masuk ke halaman rumahnya. Rupanya tadi, Alvin memanggil putrinya itu.
"Ya Pa."
"Kamu baru saja sampai, mau kemana?" tanya Alvin.
Sarah menyalami tangan ayahnya, lalu ia melihat ke arah jalan tadi, tetapi mobil yang ia curigai tadi sudah tidak terlihat.
"Nyari siapa, apa ada yang ketinggalan di taksi?"
Sarah menggeleng. "Enggak Pa, ya sudah ayo masuk!"
"Ya, ayo."
Di dalam rumah setelah Sarah minum, wanita itu bertanya pada ayahnya. "Mas Agam biasanya ke sini jam berapa, Pa?"
Alvin tersenyum. "Kenapa, kamu merindukan dia?"
Sarah berdecak. "Pa, kita udah sepakat ya, Papa izinin aku cerai dari dia!"
Alvin menghela napasnya. "Agam sedang di Bali, dia ada proyek pekerjaan di sana."
Agam sudah mengkoordinasikan rencananya pada Alvin. Di mana Agam akan pura-pura sibuk beberapa hari, atau mungkin minggu demi menunda bertemu dengan Sarah sampai wanita itu membuka usahanya secara resmi.
"Bali ya?" gumam Sarah.
"Ya, kamu mau menyusulnya?" tanya Alvin.
Sarah berpikir, tetapi kemudian ia menggeleng. "Gak Pa, minggu depan mau launching periklanan kita."
Kita, ya, Sarah membuka perusahaan periklanan tidak sendiri, melainkan bersama temannya. Seorang pria yang dulu pernah sama-sama bekerja bersamanya di Jerman. Namanya, Julian.
"Minggu depan, cepet banget?" Alvin pikir, Sarah baru akan memulai usahanya.
"Iya Pa, Julian sudah memulainya sejak hampir setahun lalu, mulai survey tempat, izin usaha. Sarah awalnya hanya menanam modal, dia terus bujuk Sarah untuk ikut terjun langsung, tapi sebelumnya Sarah nolak, berhubung Papa setuju dengan permintaan Sarah, ya sudah, Sarah akan memulainya bareng Julian."
Alvin pun mencoba mengingat Julian, ia tak asing dengan nama itu. "Julian ... siapa?"
"Julian Pa, teman Sarah di Jerman, pernah besuk Papa di rumah sakit terakhir kali," jawab Sarah.
"Ah ya, Papa ingat." Pria paruh baya itu mengangguk pelan, tadinya ia khawatir jika ada pria lain yang mendekati putrinya, tetapi sekarang ia lega, tembok perbedaan antara Sarah dan Julian sangat tinggi, mereka tak mungkin bersatu.
"Ya sudah, Sarah ke kamar dulu Pa, mau istirahat."
"Ah ya, istirahat lah Nak."
Masuk ke dalam kamarnya, Sarah mendekati jendela dan berdiri di sana. Ia memandang halaman rumahnya dari lantai dua.
"Tadi ... sepertinya Mas Agam," gumam Sarah yang kembali teringat dengan pria misterius di Bandara yang ia lihat saat sedang mencari Agam.
Sarah pikir pria itu pasti akan menjemputnya, bagaimanapun dulu Agam selalu siap sedia untuknya. Bukan Sarah tak menghargai segala kebaikan Agam dulu, hanya saja dengan pria itu menerima permintaan ayahnya untuk menikah dengannya, itu yang Sarah tidak suka, ia pikir Agam memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, ditambah yang Agam lakukan malam itu.
"Mobil tadi juga, tapi ... kenapa dia tidak menemuiku langsung?"
"Apa karena dulu aku menolaknya saat dia menyusulku ke Jerman?"
Sarah menggeleng. "Tapi kata Papa Mas Agam lagi di Bali."
***
Keesokan paginya di rumah Agam. Pria itu baru saja turun ke meja makan. Di sana sudah ada Pak Sudirman, ayah angkat Agam yang merawat Agam sejak kecil.
Agam hanya anak panti asuhan yang diadopsi oleh seorang pengusaha yang tak pernah menikah apalagi memiliki anak. Kondisi Pak Sudirman yang hanya memiliki satu kaki membuat pria paruh baya itu tak percaya diri untuk menikah. Ia takut jika istrinya hanya inginkan hartanya, tidak tulus mencintainya. Maka dari itu, Pak Sudirman memilih untuk mengadopsi seorang anak dan menyekolahkannya lalu menjadikannya penerusnya kelak.
"Pagi Ayah." Agam menyapa.
Sudirman menoleh. "Pagi," sahutnya. "Oh ya, kemarin Sofi ke sini, kau kemana? Ayah telepon tidak diangkat."
Agam menghela napas panjang. "Ke Bandara, jemput Sarah."
"Sarah?" Sudirman meletakan sendoknya. "Dia kembali?"
Agam baru menyeruput s**u hangatnya. "Ya," jawabnya.
Sudirman mengangguk pelan. "Bagus, kau bisa segera menceraikannya lalu menikah dengan Sofi."
Agam baru saja akan memakan roti bakarnya, ia diam lalu menatap pada ayahnya. "Ayah, harus berapa kali Agam bilang, Agam tidak mencintai Sofi."
"Hah, kau mencintai Sarah, lalu apa balasan dia?" Sudirman berdecak. "Ayah tidak setuju dengan pernikahan kalian."
"Ayah ...." Agam merasa tak sanggup membantah ayahnya. Bagaimanapun, Sudirman sudah sangat baik padanya selama ini.
"Ingat bagaimana dulu wanita itu memperlakukan Rumaisyah, keponakanku!" Sudirman sedikit naik emosinya.
"Maaf Ayah, Agam harus ke kantor!" Pria itu bangkit.
"Segera akhiri pernikahan kalian, kalaupun tidak dengan Sofi, maka dengan wanita lain, yang penting bukan Sarah!"
Agam mengepalkan tangannya, lalu pergi begitu saja meninggalkan ayahnya. Ia ingin membantah, tetapi hutang budinya pada Sudirman tak memberinya nyali. Ia hanya berharap, seiring berjalannya waktu, ayahnya itu mau menerima Sarah.
Agam duduk di dalam mobilnya, pria itu berpikir, mungkin lebih baik ia temui saja Sarah dan jika istrinya itu tetap meminta perceraian, tak akan ia lakukan, bagaimanapun mereka hanya menikah siri, Sarah tak bisa ajukan gugatan ke Pengadilan Agama. Hak talak, sepenuhnya ada pada dirinya dan Agam tak akan mewujudkan keinginan Sarah itu. Setidaknya, saat ini dan mungkin beberapa waktu ke depan yang belum ia tahu batasnya. Agam belum mau menyerah meski ada banyak rintangannya untuk mempertahankan pernikahannya itu.
Tak lama kemudian, di rumah Sarah, wanita itu masih berkutat di depan cermin demi memastikan penampilannya.
"Udah cukup," gumam Sarah, ia cukup puas dengan penampilannya.
Hari ini, Sarah akan pergi ke kantor, ia akan bertemu Julian dan mempersiapkan peresmian pembukaan perusahaan mereka.
"Rasanya deg-degan, ini bisnis pertama aku, bahkan Julian. Semoga gak mengecewakan nanti."
Tiba-tiba, terdengar suara mobil memasuki halaman. Sarah yang penasaran pun segera menuju jendela dan melihat siapa yang datang.
"Itu ...."