Bertemu Kembali

875 Words
"Diminum Julian." Sarah tersenyum tipis sembari menyuguhkan segelas air minum pada pria yang duduk di depannya. Julian, pria berambut pirang dan mata coklat itu menerimanya dengan senyum ramah. "Terima kasih. Kamu tampak sangat bersemangat hari ini," ujar Julian. "Ya, ini kan hari pertama kita benar-benar memulai segalanya di sini. Aku sudah tidak sabar," jawab Sarah, matanya berbinar. Mereka lalu membicarakan detail persiapan peresmian perusahaan periklanan mereka, "Cahaya Kreatif". Sarah yang selama ini lebih banyak berperan sebagai investor pasif, kini bersemangat untuk terjun langsung. Julian, dengan pengalamannya, dengan sabar mendengarkan dan menambahi ide-ide Sarah. Tiba-tiba, pintu ruang tamu terbuka dan Alvin masuk. Matanya langsung menyapu ruangan, menganalisis situasi antara putrinya dan pria yang sedikit tak asing tersebut. "Sarah, tamunya?" tanya Alvin, suaranya datar namun penuh kewaspadaan. Sarah yang menangkap nada suara ayahnya segera berdiri. "Ini Julian, Papa ingat. Teman sekaligus partner bisnis aku." Julian segera berdiri dan menjabat tangan Alvin dengan sopan. "Selamat pagi, o*******g akhirnya bisa bertemu lagi dengan Om." "Selamat pagi," sahut Alvin singkat, lalu berpindah pandangan pada Sarah. "Kalian akan ke kantor?" "Iya, Pa. Kami harus memastikan semuanya ready untuk launching minggu depan," jawab Sarah cepat, merasa sedikit tegang. Ia tak ingin ayahnya salah paham atau menginterogasi Julian lebih lanjut. "Baiklah. Hati-hati di jalan." Mereka berjalan menuju mobil Julian yang terparkir di halaman. Sarah masih merasa sedikit gemetar, bukan karena Julian, tapi karena bayangan pertemuan dengan Agam masih menghantuinya. Tepat saat Julian membukakan pintu passenger untuknya, sebuah mobil hitam melaju cepat dan berhenti persis di belakang mobil Julian. Jantung Sarah berdebar kencang. Ia tak perlu menebak, ia tahu persis siapa pemilik mobil itu. Agam turun dari mobilnya. Wajahnya tampak sedikit kusut, matanya langsung menatap Sarah, lalu beralih ke Julian dengan pandangan penuh pertanyaan dan sedikit sikap posesif. "Sarah," sapa Agam, suaranya berat. "Mas Agam," balas Sarah, berusaha tenang. "Apa kabar?" "Baik." Agam mengangguk, lalu menatap Julian lagi. "Kau punya tamu?" Julian, yang merasa suasana menjadi canggung, maju sedikit dan mengulurkan tangannya. "Julian. Teman dan partner bisnis Sarah." Agam menjabatnya, cengkeramannya kuat. "Agam." Hanya itu yang ia ucapkan. Ia tak perlu memperkenalkan diri lebih dari itu. Statusnya sebagai suami Sarah, meski siri, adalah fakta yang tak terbantahkan dan ia yakin, Julian tahu. Sarah merasa suasana semakin tidak nyaman. "Kami harus pergi, Mas. Ada rapat penting." Agam menghela napas. "Aku sebenarnya mau menjenguk Papa. Tapi ... baiklah. Kita lain kali bicara." Matanya menatap dalam-dalam pada Sarah, seolah menyampaikan pesan bahwa 'lain kali' itu akan segera datang dan tidak bisa dihindari. Sarah hanya mengangguk cepat, lalu masuk ke dalam mobil. Julian mengangguk hormat pada Agam sebelum berbalik dan masuk ke sisi pengemudi. Agam berdiri tegak, menatap mobil itu meluncur pergi meninggalkannya. Perasaan cemburu, penasaran, dan rasa sedikit tersingkir menggerogoti hatinya. Siapa sebenarnya Julian itu? Dan mengapa Sarah terlihat begitu nyaman dengannya? Sementara di dalam mobil, Sarah menarik napas dalam-dalam. "Maaf soal tadi," ujarnya pada Julian. "Tidak apa-apa. Itu ... Agam? Suamimu?" tanya Julian penasaran. Sarah mengangguk pelan, menatap jalanan di depan. "Ya. Itu dia." Julian bisa merasakan ketegangan yang masih menyelimuti Sarah. Ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Tapi dalam hatinya, ia tahu, dinamika antara Sarah dan pria tadi akan menjadi halangan lain yang harus mereka hadapi, bukan hanya dalam urusan bisnis, tapi juga dalam hati Sarah. *** Agam yang baru saja sampai kantornya, melemparkan jasnya ke atas kursi dengan gerakan kesal. Pikirannya masih dipenuhi bayangan Sarah yang masuk ke mobil pria asing itu, dan senyum ringan yang ia tangkap di wajahnya sebelum ia mendekat. "Wah, jarang sekali lihat kamu datang dengan muka seperti baru kalah perang." Agam menoleh. Bayu, sahabatnya itu, sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum kecut, kedua tangan dikantongi. "Lagi bete, Bay. Jangan ganggu," jawab Agam pendek sambil membuka laptopnya dengan kasar. Bayu malah mendekat dan duduk di depan meja kerjanya. "Bete? Atau cemburu? Sarah udah pulang. Apa tadi kalian ketemu?" Agam menghela napas panjang, menatap layar laptop yang masih kosong. "Iya, ketemu. Tapi cuma sebentar." "Dia langsung minta cerai?" tanya Bayu penasaran. "Bukan. Dia malah buru-buru pergi sama pria lain," gerutu Agam, matanya berbinar dengan kecemburuan yang tak bisa ia sembunyikan. "Pria lain? Siapa?" Bayu menyipitkan matanya. "Julian. Katanya teman dan partner bisnis. Diajaknya pergi buat rapat, Sarah malah tampak nyaman banget sama dia," keluh Agam, jari-jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan tak sabar. Bayu mengangguk-angguk, memahami sumber kekesalan sahabatnya. "Ooh ... paham. Jadi sainganmu sudah muncul rupanya. Tapi, kamu kan suaminya, masak cuma bisa duduk di sini dan cemburu buta?" "Lalu aku harus apa, Bay? Maksa mau ngejar mobilnya? Dia jelas-jelas menghindariku." "Gini, Gam," Bayu maju ke depan, bersemangat memberi ide. "Dia buka usaha periklanan, kan? Perusahaan kita ini kan butuh banget jasa periklanan. Mending kita alihkan kontrak iklan kita ke perusahaannya. Itu alasan yang bagus buat kau ketemu dia, interaksi, dan sekaligus menunjukkan bahwa kau dukung usahanya. Daripada kau cuma ngincer-ngincer dari jauh, mending kau serbu langsung medan pertempurannya." Agam terdiam sejenak, mempertimbangkan ide itu. Matanya yang tadi redup mulai berbinar lagi. "Jadi ... aku pesan jasa dia? Lalu aku yang jadi kliennya?" "Bener banget! Dengan begitu, kau punya alasan resmi buat ketemu, telepon, atau bahkan 'mengawasi' progress kerja mereka. Kau bisa deketin Sarah tanpa dia bisa menghindar karena ini urusan bisnis." Bayu tersenyum puas. "Gimana? Ide gue brilian, kan?" "Hmm boleh juga sih, tapi ...." "Tapi apa lagi?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD