Sarah membuka kunci pintu gerbangnya dan masuk. Lelah seharian di kantor baru, kepalanya penuh dengan ide, proposal, dan bayangan Julian yang sabar serta Agam yang tiba-tiba muncul. Namun, semua itu langsung buyar saat matanya menangkap mobil merah yang terparkir rapi di depan garasi.
Mobil siapa? pikirnya, mengernyit. Tamu Papa mungkin?
"Papa, ada tamu?" teriak Sarah sambil melepas sepatunya, lalu masuk ke dalam rumah.
Alvin muncul dari ruang keluarga, membawa secangkir teh. "Bukan tamu, Sayang. Itu mobilmu."
Sarah membeku. "Mobilku? Apa maksudnya, Pa? Mobilku yang warna silver itu kan ada di garasi."
"Mobil yang baru," jelas Alvin dengan senyum ringan. "Hadiah. Untuk merayakan usaha barumu. Supaya kamu mudah ke mana-mana, nggak pakai mobil lama yang sudah sering mogok itu."
Hati Sarah berdegup kencang. Ada firasat buruk. "Hadiah dari ... siapa, Pa?"
"Dari Agam, tentu saja."
Seketika, darah seolah meninggalkan wajah Sarah. Ia menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya, tercampur kecewa. "Pa ... Kenapa Pa menerimanya? Papa tahu bagaimana hubunganku dengan dia sekarang."
Alvin mendekat, meletakkan cangkirnya. "Ayah tahu. Tapi niatnya baik, Sarah. Dia murni senang kamu mulai mandiri dengan usaha sendiri. Dan mobil lamamu memang sudah rewel, bahaya kalau dipaksa untuk mobilitas tinggi. Agam juga cerita, dia sekarang fokus mengembangkan usaha hotel dan resort sama temannya, bukan cuma ngurusin retail warisan keluarga. Mungkin ini caranya menunjukkan dukungan, sekaligus ... permintaan maaf."
Sarah menghela napas panjang, rasa frustrasi menggelegak. Dukungan? Permintaan maaf? Ini lebih terasa seperti strategi, seperti cara Agam untuk menancapkan pengaruhnya lagi dalam kehidupan Sarah. Mobil itu bukan hadiah, itu jejak. Itu pengikat.
"Pa, aku nggak bisa terima ini," kata Sarah, suaranya tegas dan terdengar lelah. Tanpa menunggu balasan ayahnya, ia bergegas menuju kamar.
Di balik pintu kamarnya yang terkunci, Sarah meraih ponselnya. Jarinya membuka daftar kontak yang diblokir. Dengan napas berat, ia membuka blokir untuk satu nomor tertentu. Layar chat kosong terbuka. Berapa kali jemarinya mengetik pesan.
[Terima kasih untuk mobilnya, tapi...]
Dihapus.
[Mas Agam, aku perlu bicara soal mobil...]
Dihapus.
[Kamu tidak seharusnya...]
Dihapus lagi.
Akhirnya, dengan mata terpejam, ia mengirim pesan pendek dan langsung ke inti.
[Besok kita perlu bertemu. Bahas sesuatu. Jam 10 di kafe dekat kantor lama kamu.]
Sementara itu, di sebuah apartemen yang rapi, Agam baru saja melangkah keluar dari sebuah kamar. Sofie, yang sudah menunggu di ruang tamu dengan gaun rumah yang elegant, segera mendekat.
"Kamu mau langsung pergi?" tanyanya, mencoba menahan nada kecewa.
"Iya, Sof. Sudah malam. Aku harus pulang," jawab Agam sambil meraih jaketnya. Suasana terasa agak kaku sejak ia tadi lebih banyak diam.
"Kamu tadi dari tadi murung. Ini masih tentang Sarah?" Sofie tak bisa menahan diri. "Kamu sudah putuskan kapan akan mengurus perceraian siri kalian? Atau ... kamu malah ragu sekarang dia pulang?"
Agam menghela napas, menghindari tatapan Sofie yang tajam. "Ini tidak sesederhana itu, Sof. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan."
"Seperti perasaanmu yang masih ada untuknya?" sofie menyelidik, suaranya mulai tinggi.
"Sudah, jangan mulai lagi. Aku capek," potong Agam dengan kasar. Ia merasa terkepung. "Aku pamit. Tidak baik aku lama-lama di sini begini."
Tanpa menunggu respon lebih lanjut, Agam berbalik dan meninggalkan apartemen itu. Udara malam yang dingin menyambutnya di parkiran, namun tidak lebih dingin dari sikapnya pada Sofie tadi.
Baru saja menyetir mobilnya keluar, ponsel di dashboard bergetar. Notifikasi pesan masuk. Saat matanya menatap nama pengirim, Sarah, jantungnya langsung berdebar kencang, campuran harap dan cemas.
Dia membalas pesan itu dengan cepat, setuju untuk bertemu.
Kegugupan yang tadi tertutupi oleh kesal kini muncul sepenuhnya. Senang karena Sarah akhirnya membuka komunikasi, namun ketakutan yang lebih besar menghantam.
Bagaimana jika pertemuan besok adalah untuk menyatakan niat cerainya secara resmi?
***
Keesokan harinya di Kantor "Cahaya Kreatif".
Mobil merah itu menarik perhatian bahkan sebelum Sarah masuk. Julian, yang sedang mengambil kopi di dekat jendela, menyaksikan Sarah turun dari mobil baru yang kinclong. Ada sedikit kerutan di dahinya saat dia memperhatikan betapa Sarah memandang mobil itu dengan raut masam, bukan sukacita.
"Wah, hari ini sudah naik level nih, mobil barunya?" sapa Julian saat Sarah masuk, mencoba bersikap riang.
Sarah menghela napas, meletakkan tasnya. "Bukan beli. Hadiah."
"Hadiah? Dari ...?"
"Dari Agam," jawab Sarah singkat, menghindari tatapan Julian.
Julian bersiul pelan. "Dia tahu cara mentreat istri. Mobilnya bagus, spesifikasies pasti tinggi. Dia serius nih dukung usaha kamu."
"Atau cara dia menandai wilayah," gumam Sarah tanpa sadar.
Julian duduk di hadapannya, serius. "Sarah, jujur aja, sebagai orang luar ... Agam itu pria yang capable. Bisnisnya maju pesat, dari retail bisa kembangkan ke hospitality yang sukses. Dan dia jelas masih sangat perhatian sama kamu. Mungkin ... kamu perlu pertimbangkan lagi. Melanjutkan pernikahan kalian, membangun keluarga. Itu bisa jadi jalan menuju kebahagiaan."
Sarah menatap Julian, matanya berkaca-kaca bukan karena nasihat itu, tapi karena memori lama yang menyakitkan. "Julian, kamu nggak tahu semua cerita. Aku pernah, benar-benar ingin mencoba. Saat pertama kali nikah siri, aku pikir ini bisa jadi awal. Aku berusaha menerimanya."
Lalu suaranya bergetar. "Tapi cara dia ... dia memanfaatkan situasi. Malam pertama kami, dia memberiku obat. Aku terbangun dengan perasaan hancur, linglung, dan tahu bahwa dia ... mengambil sesuatu yang seharusnya diberikan dengan cinta dan kesadaran penuh, bukan dengan tipu daya. Itu pelanggaran kepercayaan yang paling mendasar. Aku sangat kecewa."
Julian terdiam, wajahnya pucat. "Aku ... aku nggak tahu, Sarah. Aku minta maaf udah ngomong begitu."
"It's okay," bisik Sarah, menyeka sudut matanya. "Tapi sekarang, aku punya kekuatan untuk bilang tidak pada hadiah dan manipulasi lainnya."
Sore Hari, di Kafe.
Agam sudah duduk lebih setengah jam, matanya tak lepas dari pintu masuk. Jantungnya berdebar tak karuan. Di otaknya sudah ada rencana yang dia susun, ajak Sarah nonton film baru, lalu belanja dan ditutup dengan makan malam romantis di restoran favorit mereka dulu. Dia harus merebutnya kembali.
Ketika Sarah akhirnya muncul, dengan langkah tegas dan raut wajah yang dingin, hati Agam sedikit ciut. Tapi dia tersenyum, berusaha tampak santai.
"Sarah, kamu datang. Aku udah pesanin latte favoritmu," sambutnya.
"Terima kasih, Mas. Tapi aku nggak lama," jawab Sarah langsung duduk. Dari tasnya, dia mengeluarkan kunci mobil merah dan meletakkannya di atas meja. "Aku balikin mobilnya. Aku nggak bisa terima."
Agam tersentak. "Kenapa? Itu kan untuk dukung kamu. Mobil lamamu sudah—"
"Aku tahu kondisi mobil lamaku. Tapi terima kasih, aku nggak butuh yang baru," potong Sarah. "Aku nggak mau terikat hutang budi."
"Ini bukan hutang budi, Sayang. Ini dari suamimu," bujuk Agam, suaranya lunak. "Aku cuma mau memudahkan kamu. Lihat, kamu kan butuh mobilitas tinggi sekarang. Bayangin kalau mobil lamamu mogok di jalan saat kamu mau ketemu klien penting?"
Sarah terdiam. Itu adalah skenario yang ditakutkannya.
"Pokoknya, mobil itu sudah atas nama kamu. Nggak bisa dikembalikan. Anggap aja pinjaman. Pinjam dulu sampai kamu merasa cukup nyaman secara finansial untuk beli mobil sendiri, lalu kembalikan uangnya padaku. Gimana?" Agam mencari celah kompromi.
Perlawanan Sarah mulai melemah. Logika Agam masuk akal, dan dia memang tidak ingin usaha barunya terbengkalai karena masalah transportasi. Setelah tarik ulur beberapa saat, akhirnya dia menghela napas.
"Baik. Tapi ini pinjaman. Aku akan pakai, dan akan aku kembalikan uangnya secepat mungkin. Dan jangan berharap aku akan kembali padamu hanya karena mobil ini, Mas."
Sekedar mendengar panggilan diucapkan Sarah 'Mas' membuat Agam tersenyum kecil. Itu kemajuan. "Deal. Nggak ada ekspektasi. Murni bisnis."
Ketegangan sedikit mereda. Agam hampir membuka mulut untuk mengajak nonton, ketika tiba-tiba...
"Papa!"
Suara cilik yang riang memecah kesunyian. Seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun, dengan rambut ikal dan mata berbinar, berlari ke arah meja mereka dan langsung memeluk kaki Agam.
"Papa!"
Wajah Agam mendadak pucat pasi. Darah seolah beku di nadi Sarah. Dia menatap gadis kecil itu, lalu menatap Agam yang wajahnya dipenuhi panik yang tak terbendung.
"Mas Agam," bisik Sarah, suaranya datar dan hampa, lebih menakutkan daripada teriakan. "Siapa ... ini?"