"Papa lagi apa?"
Seorang gadis kecil yang Sarah perkiraan usianya baru 5 tahun. Memakai dress merah motif polkadot dengan rambut sebahu berhias pita. Satu hal yang membuat Sarah bingung adalah, gadis kecil itu memanggil Agam, Papa.
Agam mengusap kepala anak kecil itu. Lalu melirik Sarah yang terlihat bingung.
"Mas, dia siapa?" tanya Sarah. Wanita itu menatap gadis kecil di depannya yang ia pikir sedikit mirip dengan Agam.
"Papa, Tante itu siapa, Pa?" tanya gadis kecil itu.
Agam tersenyum. "Talia, Mama mana?" tanyanya, pertanyaan yang justru membuat Sarah semakin bingung.
"Mama lagi meeting di sana." Talia menunjuk ke arah sudut cafe.
"Mas," ucap Sarah lagi.
"Oh." Agam lalu mendekatkan Talia ke arahnya. "Namanya Talia, dia anak temanku."
Sarah semakin tak mengerti. "Anak teman? Tapi kenapa dia ...?"
"Orang tuanya bercerai, dia kurang kasih sayang papanya, jadi—"
"Aku mengerti." Sarah memotong ucapan Agam. Dalam benaknya sekarang adalah, ada wanita lain dalam hidup Agam. Entah, apa seorang janda seperti cerita Agam, atau jangan-jangan gadis kecil bernama Talia ini adalah anak Agam.
"Sarah, me-mengerti apa?" Agam menatap Talia, ia berpikir sejenak hingga satu dugaan muncul dalam pikirannya, yaitu Sarah salah paham, mengira Talia adalah putrinya.
Agam langsung menggeleng dengan tegas. "Sarah, sepertinya kamu salah paham. Talia ... dia bukan putriku!" ucap Agam.
"Papa ...," ucap Talia, gadis kecil itu menatap bingung pada pria di depannya.
Agam menghela napasnya sambil mengusap kepala Talia, lalu dia mendekat ke arah Sarah dan berbisik, "Tolong jangan salah paham, dia benar-benar bukan putriku!"
Sarah langsung mundur, ia tiba-tiba sedikit gugup, ada rasa lega karena ucapan Agam terasa begitu bisa dipercaya.
Sampai tiba-tiba, seseorang memanggil Talia membuat Agam dan Sarah menoleh. Seorang wanita memakai dress tanpa lengan selutut yang sedikit ketat berwarna hitam membuat kulitnya terlihat putih mulus dan tubuh ideal, berjalan ke arah mereka.
"Mama ...!" seru Talia langsung melepaskan diri dari Agam dan menghampiri ibunya, lalu menuntun wanita yang terlihat cantik itu menghampiri meja mereka.
"Kau di sini, Gam?" tanya Sofi. Ya, Talia adalah Putri Sofi.
"Sofi," ucap Agam, pria itu berdiri, begitu juga dengan Sarah.
Sofi menatap pada Sarah, dia pun mengangguk.
"Sofi, dia Sarah, istriku."
Sofi sedikit terkejut, lalu ia memaksakan senyumnya dan mengulurkan tangan pada Sarah. "Hai Sarah, aku sering mendengar namamu, ternyata kau sangat cantik!" puji Sofie terdengar begitu lembut.
Ragu-ragu Sarah menerima jabat tangan Sofi. "Sarah," ucapnya mengenalkan diri.
"Mama, siapa Tante ini? Dan kenapa dia sama Papa?" tanya Talia.
Sofi langsung mendekatkan putrinya ke arahnya, dia menatap Sarah dan mengeleng. "Jangan salah paham, Talia putriku, dia ... dia biasa memanggil Agam Papa karena—"
"Hm, tidak perlu dijelaskan," ucap Sarah menyela. "Mas Agam sudah menjelaskannya."
Sofi mengangguk pelan, lalu menatap pada Agam. "Em, kalau begitu kami tidak akan mengganggu." Kemudian Sofi mengajak putrinya itu untuk kembali ke ruangan tempat dia meeting tadi.
"Sarah, jangan salah paham," ucap Agam.
"Iya iya, dia temanmu dan Talia adalah putrinya, bukan putrimu, Talia punya ayah hanya saja kedua orang tuanya bercerai, gadis kecil itu kurang kasih sayang Ayah sehingga memanggil teman dekat ibunya dengan sebutan Papa, begitu bukan?" tanya Sarah dengan nada suara naik satu oktaf.
"Ya, ya begitu, tapi tidak sepenuhnya benar begitu," ucap Agam. "Aku dan Sofia hanya teman."
"Iya teman dekat!" kata Sarah.
"Iya tapi tidak seperti yang kamu pikirkan!" ucap tegas Agam.
Sarah sedikit tertawa. "Apa yang aku pikirkan? Oh, Mas kira aku cemburu?" tanya Sarah, wanita itu menggeleng, mengelak perasaan yang tiba-tiba menggerogoti relung hatinya, tidak, dia tidak cemburu, dia tidak mencintai Agam, untuk apa cemburu? Terserah laki-laki itu mau dekat dengan siapapun, toh nanti pada akhirnya mereka akan bercerai, hanya menunggu waktu yang tepat untuk berbicara tentang perceraian dengan Agam. Hanya saja, Sarah pikir tidak tepat waktunya sekarang. Bagaimanapun, Agam baru memberinya mobil meskipun berdalih pinjaman.
Agam yang melihat istrinya melamun, menggunakan kesempatan itu untuk menggenggam tangan istrinya membuat Sarah tersadar dari segala pikirannya.
"Sarah, bisakah kita—"
"Sudahlah Mas!" Sarah melepaskan genggaman tangan Agam. "Aku rasa urusan kita sudah selesai, mobilnya ...," ucap Sarah sambil mengambil kunci mobilnya kembali. "Ini aku anggap pinjaman. Terima kasih, tapi jangan harap karena mobil ini aku akan luluh padamu, enggak, enggak semudah itu Mas."
"Aku tahu dan aku tidak ada niat untuk mengambil hatimu dengan mobil ini ataupun materi lainnya nanti, aku ingin kamu melihat bahwa aku tulus mencintaimu dari segala yang aku lakukan untukmu, bukan hanya dari materi!"
Ucapan Agam benar-benar menyentuh hatinya, tapi rasa sakit akibat masa lalunya dengan Sultan, juga apa yang Agam lakukan padanya setelah pernikahan mereka, membuat pikirannya terus menolak untuk membuka hati untuk Agam atau pria manapun. "Kalau begitu, aku pulang dulu Mas!"
Sarah langsung berdiri, berniat pergi tapi Agam langsung menahan tangannya. "Lusa adalah ulang tahunku ... bisakah kita ... makan malam berdua?"
Sarah terdiam, ia menatap tangannya yang digenggam suaminya. Ragu-ragu, akhirnya Sarah mengangguk, lalu melepas genggaman tangan suaminya itu.
"Aku pulang dulu!"
Setelah kepergian Sarah, Agam tersenyum lebar. "Yes!" serunya. Sungguh, Agam sangat senang, ia baru saja mendapat peluang untuk mendekati istrinya meskipun ia tahu, Sarah masih menjaga jarak.
Sementara itu dari ruangan lain, Sofi melihat betapa senangnya Agam sekarang. "Apa memang gak ada kesempatan untuk kita, Gam?" gumamnya.
Agam kemudian menyusul Sarah. Pria itu melihat bagaimana Sarah duduk di balik kemudi dan ekspresi terlihat puas dengan mobilnya. Agam tau, mobil itu adalah mobil impian Sarah dulu.
"Aku akan buat kamu bahagia, Sarah. Jadi ... tolong beri aku kesempatan itu," gumamnya.
Setelah melihat kepergian mobil Sarah. Agam berniat langsung pulang. Namun tiba-tiba Sofi memanggilnya.
"Dia, tidak salah paham, kan?" tanya Sofi.
Agam menggeleng, lalu melihat pada Talia yang sudah terlihat mengantuk. "Kenapa kau membawanya kerja sampai selarut ini?"
"Hm, terpaksa, Mbak Rina gak masuk, sekolahnya juga libur," jawab Sofi.
Agam mengangguk pelan. "Ayo, aku antar kalian pulang."
Dalam perjalanan pulang, Talia pun tertidur di pangkuan Sofi. Beberapa saat dalam diam, akhirnya Sofi membuka suara.
"Kalian akan kembali bersama?"
Agam mengangguk. "Hm, sejauh ini dia belum meminta cerai. Padahal, kata Papanya dia mau pulang asal diizinkan cerai dariku. Jadi, kurasa ya, kami akan mempertahankan pernikahan kami."
Sofi menunduk. "Jadi ... apa aku gak ada kesempatan, Gam?"
Untuk sekali Agam menoleh pada Sofi. "Sofi, aku sudah berapa kali bilang, kan?"
"Ya, aku tau, tapi ... Talia sudah anggap kamu papanya. Bagaimana kalau nanti dia lihat kamu malah sama perempuan lain?"