Mobil Agam berhenti di depan apartemen tempat Sofi tinggal. Talia masih terlelap. Dengan hati-hati, Agam menggendong gadis kecil itu, sementara Sofi membukakan pintu.
Dengan gerakan lembut Agam menidurkan Talia di atas tempat tidur princessnya, melepas sepatunya, dan menyelimutinya. Sofi memandang dari balik pintu, hatinya berdesir. Adegan seperti inilah yang selalu ia impikan. Seorang ayah yang penuh kasih bagi putrinya, dan seorang suami yang perhatian.
Setelah memastikan Talia nyaman, Agam keluar dari kamar dan menutup pintu pelan-pelan. "Sudah. Dia tidur pulas," ujarnya pada Sofi yang terlihat di dapur.
"Terima kasih, Gam. Mau minum aku buatkan sesuatu dulu?" tawar Sofi, berharap Agam mau tinggal lebih lama.
"Enggak, Sof. Aku harus—"
"Aduh!"
Teriakan kesakitan dari dapur memotong ucapan Agam. Dengan langkah cepat, Agam bergegas ke sumber suara. Sofi berdiri di depan teko listrik, memegangi pergelangan tangannya yang memerah. Air panas tumpah di lantai.
"Kena air panas?" tanya Agam, segera menarik tangan Sofi ke wastafel dan membuka keran air dingin. "Biarkan mengalir dulu."
Sofi meringis kesakitan. "Maaf, aku ... tanganku belum terlalu kuat. Ingin buatkan kamu teh."
Di bawah aliran air, terlihat jelas bekas luka lama di pergelangan tangan Sofi, bentuknya tak wajar. Agam mengenali itu. Bekas patah tulang akibat kekerasan yang dilakukan mantan suami Sofi dulu. Raut wajahnya berubah sedih dan geram sekaligus.
"Kamu harus lebih hati-hati, Sof. Luka di pergelangan tanganmu kan belum pulih seratus persen," tegur Agam, suaranya lembut penuh perhatian.
"Sudah coba terapi, tapi kadang masih gemetar kalau angkat sesuatu yang agak berat," ujar Sofi, menahan isak. Bukan hanya karena sakit fisik, tapi juga karena kenangan buruk itu dan kepedihan hati yang tak kunjung sembuh.
Setelah beberapa menit, Agam mematikan keran dan dengan cermat mengeringkan tangan Sofi dengan handuk bersih. Ia mengambil kotak P3K dari lemari dan mengoleskan salep luka bakar, lalu membalutnya perban dengan teliti.
"Jangan dulu masak atau pegang barang panas selama beberapa hari. Besok kamu boleh berangkat setengah hari, pergi ke rumah sakit dulu untuk periksa lukanya," instruksi Agam dengan nada yang tak bisa dibantah.
"Tapi pekerjaan—"
"Urusan kesehatan lebih penting. Aku yang akan urus izinnya," ujar Agam menyela. Setelah selesai membalut luka itu, ia menepuk punggung tangan Sofi dengan ringan. "Sudah. Jaga baik-baik."
Agam kemudian berbalik, mengambil jaketnya. Niatnya untuk langsung pergi semakin kuat. Melihat kerapuhan Sofi hanya membuatnya lebih yakin untuk segera menjauh dari wanita itu. Ia tak mau terjebak rasa iba. Ia tak ingin memberi harapan palsu.
"Sofi, aku pulang dulu," ucapnya di depan pintu.
"Gam ...." Sofi memanggil, air mata akhirnya tumpah. "Dia ... Sarah benar-benar beruntung."
Agam menahan diri untuk tidak berbalik dan menghapus air mata Sofi. Itu hanya akan memperkeruh keadaan. "Aku yang beruntung masih diberi kesempatan olehnya. Tidurlah, Sof. Jangan lupa ke dokter besok."
Pintu tertutup dengan perlahan, meninggalkan Sofi sendirian di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sangat luas dan dingin. Ia meremas perban di tangannya, masih terasa hangat dari sentuhan Agam. Air mata jatuh tak terbendung. Ia tahu, pria itu benar-benar pergi, bukan hanya dari apartemennya, tapi juga dari hidupnya.
"Dulu saat kita masih kecil, kamu pernah berjanji akan selalu melindungiku, Gam."
***
Agam tidak langsung pulang. Ia memutar arah ke sebuah kafe 24 jam yang sering dikunjunginya bersama Bayu. Benar saja, sahabatnya itu masih duduk di sudut favorit dengan laptop terbuka.
"Belum balik?" sapa Agam, menarik kursi.
"Ngumpulin deadline. Kamu? Kok muka cerah banget?" jawab Bayu, menutup laptopnya.
Agam tak bisa menyembunyikan senyum lebar. "Sarah terima mobilnya. Dia sempat nolak, tapi aku bilang itu pinjaman, dia akhirnya mau pakai."
"Wah! Selamat, bro!" Bayu mengangkat gelas kopinya untuk memberi salut. "Langkah pertama berhasil. Terus rencananya?"
"Makan malam berdua lusa, ulang tahunku," Agam bersemangat. "Dia setuju."
"Good job! Tapi jangan terlalu PD dulu. Ingat, Sarah tipe yang sakitnya dalam."
Agam mengangguk, wajahnya serius sejenak. "Aku tahu. Makanya aku mau pelan-pelan, tunjukkan kalau aku benar-benar tulus mencintainya."
"Oh iya, terus Sofi gimana? Tadi di kantor dia nanyain kamu terus."
Agam pun bercerita tentang pertemuannya dengan Sofi saat bersama Sarah tadi.
"Terus, kau antar Sofi dan Talia pulang?"
Agam menghela napas. "Iya. Tadi ... ada insiden kecil. Sofi tangannya kena air panas. Aku bantu obatin."
Bayu menyipitkan mata. "Hati-hati, Gam. Sofi itu ... dia suka sama kamu. Talia juga udah anggap kamu ayah. Jangan sampe bikin mereka berharap lebih."
"Udah aku tegasin kok, Bay. Aku bilang aku akan pertahankan pernikahanku sama Sarah. Aku gak mau kasih harapan ke Sofi," jawab Agam tegas. Tapi di matanya, ada sedikit rasa bersalah. Ia peduli pada Sofi dan Talia, tapi tidak dengan cara itu.
"Bagus kalau begitu. Fokus aja ke Sarah sekarang. Tapi, tetap waspada. Perasaan wanita itu kompleks. Sofi bisa sakit hati dan melakukan sesuatu yang nggak terduga."
Agam mengangguk, menyeruput kopinya. Pikirannya sudah melayang ke dua hari lagi, pada makan malam dengan Sarah. Ia harus mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Namun, di sudut hatinya, bayangan Sofi yang menangis sendirian dan Talia yang memanggilnya Papa meninggalkan rasa berat yang tak mudah ia usir.
Sementara itu di rumah Sarah, ia baru selesai mandi. Wanita itu turun ke dapur untuk membuat kopi.
"Suka mobilnya?"
Sarah menoleh. "Papa belum tidur?"
Alvin menggeleng. "Belum."
Sarah duduk di meja makan setelah membuat kopi. "Jangan salah sangka ya Pa, itu mobil aku utang sama Mas Agam. Nanti aku udah ada uang, aku bayar ke dia."
"Hm, utang?"
Sarah berdecak. "Iya, orang dia maksa! Gak mungkin dibalikin, udah atas namaku katanya."
Alvin menahan tawanya melihat gengsi putrinya yang amat besar. Tapi tak apa, ini merupakan bentuk kemajuan hubungan Sarah dan Agam. Pria paruh baya itu merasa lega.
Tiba-tiba, Sarah teringat dengan Sofi dan putrinya. "Oh ya Pa, Papa tau Mas Agam dekat sama Sofi?" tanyanya.
Alvin mengangguk pelan. "Hm, ibunya Talia?"
Mata Sarah melebar. "Papa kenal?"
Alvin mengangguk. "Kenal Sofi si tidak, tapi Papa kenal putrinya. Beberapa kali Agam membawanya ke sini. Dia anak yang sangat lucu."
Sarah mengangguk perlahan. "Jadi mereka sedekat itu?"
Alvin langsung menggeleng. "Tidak-tidak, Agam hanya dekat dengan Talia, tidak dengan Sofi."
"Dari mana Papa tahu kalau Mas Agam tidak dekat dengan Sofi? Orang tadi Sarah ketemu sama mereka, kok. Dan Mereka terlihat sangat dekat, persis seperti keluarga kecil yang sangat bahagia."
Alvin mengernyitkan dahinya, ia heran dengan sikap putrinya dan pria itu menahan tawanya.
"Wah, jadi putri Papa sedang cemburu?"