Setelah Sarah menghilang dari balik kaca, kekacauan sejenak menyergap Agam. Detak jantungnya berdegup kencang, antara khawatir pada Talia dan panik karena Sarah menyaksikan adegan yang pasti disalahartikan itu.
"Agam, tolong fokus!" desis Sofi, menarik lengan Agam saat perawat mendekat. "Dokter mau memberi tahu kondisi Talia."
Agam memaksakan dirinya untuk berpaling dari pintu kosong itu. Napasnya masih berat. "Oke. Maaf Sof."
Kemudian, Agam mengikuti Sofi ke ruangan dokter jaga dan mulai mendengar penjelasan dokter.
Seorang dokter muda mulai menjelaskan dengan tenang. "Pasien, Talia, usia lima tahun. Hasil pemeriksaan sementara, kemungkinan besar patah tulang kecil atau raktur hairline di pergelangan kaki kanan akibat salah mendarat. Untuk kepalanya, ada benjolan dan luka lecet, tapi CT scan menunjukkan tidak ada perdarahan atau fraktur tengkorak. Kita akan observasi 24 jam untuk memastikan tidak ada gejala gegar otak yang terlambat. Intinya, kondisi stabil, tapi perlu rawat inap."
"Terima kasih, Dok," ucap Sofi, melepas napas lega meski ia masih gemetar.
"Boleh kami temani?" tanya Agam, pikirannya masih membelah.
"Tentu saja, peran orang tua memang sangat perlu agar anak tidak trauma nanti," jawab dokter sebelum beranjak.
Agam mengangguk. Talia sudah dipindahkan ke ruang rawat untuk observasi. Gadis kecil itu terlihat pucat dan ketakutan, tapi sudah tidak menangis. Saat melihat Agam, matanya berbinar lemah. "Papa Agam …."
Panggilan itu menyentak Agam kembali ke realita. Dia mendekat, menggenggam tangan mungil Talia. “"Di sini Papa Agam. Talia pemberani ya. Nanti tidur dulu, besok sembuh."
Sementara itu, Sarah di dalam mobil yang baru saja menepi yang tak ia ingat bagaimana cara menyetir sampai ke tempat itu. Tangannya masih memegang kemudi dengan kaku. Bayangan adegan romantis di ruang UGD tadi seolah berputar-putar di pikirannya.
Bagaimana pelukan erat Agam, tepukan lembut di punggung Sofi, cara Agam menunduk mendekati telinga Sofi, sebuah keintiman yang terbangun dari kebiasaan dan kepercayaan. Ia yakin itu.
"Dia cuma menolong. Sofi dalam keadaan panik. Itu wajar," gumam Sarah pada bayangannya di kaca spion. Tapi suara hatinya menjerit lebih keras, 'Tapi kamu tidak pernah memelukku seperti itu lagi. Bahkan saat aku menangis karena Sultan, yang kau ulurkan adalah saputangan, bukan pelukan.'
Dia mencoba mengelak. Ini bukan cemburu. Ini hanya bentuk kelelahan. Kelelahan melihat bagaimana orang lain dengan mudah mendapatkan sisi Agam yang lembut, sementara dia harus bernegosiasi dengan sisa-sisa pernikahan mereka yang dingin.
Lalu, ingatannya melayang ke masa lalu. Sultan, yang dulu juga bersamanya dengan manis, akhirnya memilih Rumaisyah. Kini, Agam, yang selalu terlihat kuat dan terkendali, justru menunjukkan sisi pelindungnya pada Sofi yang tampak rapuh dan sangat membutuhkan. Sama seperti Sultan yang akhirnya memilih Rumaisyah yang tak berdaya waktu itu.
Polanya sama. Dan Sarah berada di posisi yang sama, ia merasa akan ditinggalkan lagi.
Air mata akhirnya tumpah. Bukan hanya untuk Agam, tapi untuk dirinya sendiri yang terjebak dalam lingkaran rasa tidak cukup baik.
Kemudian, malam harinya, di Ruang Observasi Anak.
Talia akhirnya tertidur lelap, kelelahan setelah kejadian. Dan tadi sempat tak mau ditinggalkan oleh Agam.
Sofi duduk di samping ranjang, sementara Agam berdiri di dekat jendela, memandang keluar ke kota yang berkelap-kelip. Ponselnya di tangan, berulang kali ia buka layar chat dengan Sarah. Tidak ada pesan masuk. Ia ketik, "Sarah, kita perlu bicara." Lalu hapus. "Aku bisa jelaskan." Hapus lagi. Semua terasa tidak cukup. Begitu berulang.
"Dia marah, ya?" suara Sofi tiba-tiba memecah kesunyian.
Agam menoleh. "Aku tidak tahu. Kau lihat tadi? Dia pergi sebelum aku sempat jelaskan."
Sofi menunduk, memeluk tubuhnya sendiri. "Aku minta maaf, Gam. Aku … saat panik tadi, aku langsung mencarimu. Itu refleks. Aku lupa kalau sekarang kamu sudah punya kehidupan sendiri. Aku buat Sarah salah paham."
"Bukan salahmu, Sof. Aku yang harusnya lebih aware," jawab Agam, suaranya lelah. "Dia.… Sarah punya luka lama. Melihat kita tadi, pasti membangkitkan semua ketakutannya."
"Apa kamu ingin aku yang jelaskan padanya? Aku bisa temui dia, katakan bahwa tidak ada apa-apa antara kita, bahwa Talia hanya menganggapmu seperti figur ayah karena ayahnya tidak ada," tawar Sofi.
Agam menggeleng pelan. "Jangan. Aku yang harus menyelesaikan ini. Ini antara aku dan dia. Melibatkanmu akan membuatnya merasa semakin terpojok." Dalam hatinya, ia tahu penjelasan dari Sofi justru akan terdengar seperti pembenaran yang diatur.
Sofi mengamati sahabat specialnya itu. Wajah Agam penuh beban yang tidak biasa ia tunjukkan. "Agam," bisiknya, hati-hati. "Apa kamu masih yakin Sarah akan menerima penjelasanmu? Menerima … kamu? Setelah semua yang terjadi, setelah pernikahan kalian yang dipaksakan?"
Pertanyaan itu menggantung di udara yang dingin, tajam, dan menusuk langsung ke inti ketakutan terbesar Agam.
Agam memandang wajah Talia yang sedang tidur, lalu kembali ke cahaya kota di luar jendela. Jawabannya tenggelam dalam diam yang panjang. Keyakinan yang dulu teguh, kini retak oleh tatapan penuh kekecewaan Sarah di balik kaca tadi.
***
Dua Hari Kemudian, Kantor Cahaya Kreatif terasa seperti bunker. Ia menyibukkan diri dengan papan mood, konsep, dan dokumen tender untuk proyek kolaborasi dengan perusahaan Agam. Pekerjaan adalah pelariannya yang paling tepat.
Namun, konsentrasinya buyar. Setiap notifikasi ponsel membuat dadanya berdebar, berharap sekaligus takut itu dari Agam. Tapi tidak ada. Hanya email-email bisnis dan chat dari timnya.
Agam tak ada menghubunginya lagi. Hanya mengirim satu pesan singkat dua hari lalu.
[Talia butuh teman, aku rawat inap di sini. Proyek tetap lanjut, timku akan menghubungimu. Kita bicara nanti.]
"Bicara nanti." Kata-kata yang sama yang selalu menunda segala sesuatu di antara mereka.
Sekretarisnya masuk membawa segelas kopi. "Bu Sarah, tim dari ABJaya sudah mengirim draf kontrak awal. Mereka meminta review kita sebelum rapat koordinasi besok."
"Taruh di meja," jawab Sarah tanpa menoleh. Suaranya datar.
"Ada … satu hal lagi, Bu. Bunga ini datang untuk Anda." Sang sekretaris meletakkan buket kecil lavender yang sederhana dan elegan. Tanpa kartu.
Sarah menatap bunga itu. Lavender. Bunga yang selalu ia suka. Hanya satu orang yang tahu dan pernah mengingatnya di tengah kesibukan tak berujung, Agam. Karena dulu, saat bersama Sultan, ia lebih menyukai Mawar Merah. Hanya Agam yang tahu dia juga suka Levender.
Dadanya sesak. Ini bukan permintaan maaf melalui kata-kata. Ini sebuah isyarat bahwa di tengah semua kekacauan, dia masih mengingat hal kecil tentangnya.
Tapi apakah itu cukup? Di balik bunga yang wangi itu, bayangan pelukan di UGD, seperti awan yang menutupi langit sebelum badai benar-benar pecah.
Sarah menarik napas dalam, memutuskan untuk fokus pada draf kontrak di depannya. Proyek harus berjalan. Pernikahan mungkin goyah, tetapi dunia bisnis tidak boleh ikut runtuh. Untuk saat ini, itu saja yang bisa dipegangnya.
Sarah mendekati bunga Lavender itu dan mencium aromanya. "Ini tidak cukup untuk meyakinkanku."
Tiba-tiba, satu notifikasi pesan masuk dari nomor asing. Sarah tak berpikir panjang dan langsung membukanya. Tiba-tiba matanya langsung melebar membaca pesan itu.
[Lavender kesukaanmu. Selamat atas dibukanya Cahaya Kreatif. Semoga sukses.]
Bunga dan Pesan itu, jelas bukan dari Agam.