Kecelakaan

1154 Words
Agam tiba di cafe. Matanya langsung mencari Sarah, dan menemukannya di sudut. Tapi sebelum ia menyapa, ia melihat Sarah menatap televisi di dinding. Wajah Sultan memenuhi layar. Dadanya sesak. "Dia masih melihatnya." Sarah terlihat begitu fokus, bahkan tanpa sadar mengusap mata. Agam menghela napas, lalu berjalan mendekat. Sarah menoleh, kaget. Matanya merah. Ia cepat-cepat menghapus air mata dengan tangan. "Mas, kamu ... sudah sampai." Agam duduk di seberangnya. Tanpa kata, ia mengulurkan saputangan bersih. Sarah menerimanya dengan gemetar. "Jangan marah, Mas," bisik Sarah, suara serak. "Aku cuma ... teringat masa lalu. Bukan, maksudku ...." "Kamu masih memikirkan Sultan," ucap Agam, datar. Bukan tanya. Sarah menunduk. "Aku minta maaf. Tapi jangan marah. Ini rumit." Agam menarik napas. "Aku tidak marah, Sarah. Untuk saat ini, aku masih sanggup mengerti. Masih bisa mencoba memahami kenangan yang kamu simpan." Dia menatapnya dalam-dalam. "Tapi mengerti itu butuh energi. Dan energiku bisa habis, Sarah. Kapan pun." Sarah membeku. "Apa maksudmu?" "Kita perlu bicara. Tentang proyek. Tentang kita," kata Agam, mengalihkan pembicaraan. "Tapi pertama, yakinkan aku. Apakah kamu ingin menolak proyek ini karena murni prinsip, atau karena kamu masih lari dari masa lalu ... dan dari pernikahan kita?" Sarah menatapnya, terpojok. Pertanyaan itu menggantung, lebih tajam dari apa pun. Sarah meneguk kopinya yang sudah mulai dingin, lalu meletakkan cangkir dengan tegas. "Aku terima proyeknya, Mas." Agam menatapnya, mencoba membaca lebih dalam. "Dengan satu syarat," lanjut Sarah, suara rendah tapi jelas. "Tidak ada yang boleh tahu tentang status kita. Di depan siapapun, kita hanya partner bisnis. Bukan suami-istri." Agam mengangguk perlahan. Di dalam, dadanya terasa lebih ringan. Dia menerima. Dan tidak langsung bicara cerai. Artinya, masih ada waktu. "Setuju. Itu bahkan lebih baik untuk profesionalisme proyek." "Bagus." Sarah menarik napas. "Lalu, tentang ... pernikahan kita." Dia melihat Agam langsung tegang. "Aku belum akan mengajukan apa-apa. Kondisi papaku lagi tidak stabil. Berita perceraian bisa memperburuk keadaannya." Alasan itu terdengar masuk akal, tapi Agam bisa merasakan ada yang disembunyikan. Namun, ia memilih tidak mengejar. "Aku mengerti. Kita prioritaskan kesehatan Papa dulu." Sebenarnya, Sarah lebih takut terlihat tidak berterima kasih. Meminta cerai tepat setelah mendapat proyek besar dari Agam? Itu akan membuatnya merasa seperti pengguna. "Kamu mau makan malam di sini?" tanya Sarah, mencoba mengubah suasana. "Aku lihat mereka punya menu baru—" Ponsel Agam bergetar. Ada panggilan telepon dari Sofi. Ia mengernyit, tapi mengangkatnya. "Ya, Sofi?" Suara Sofi di seberang parau dan panik. "Agam! Talia ... Talia jatuh dari tangga, kepalanya terbentur! Dia di UGD sekarang! Aku takut, Gam!" Wajah Agam berubah pucat. Talia, putri Sofi yang berusia lima tahun itu, memang sudah seperti anak sendiri baginya. "Rumah sakit mana? Aku segera ke sana!" Dia berdiri begitu cepat sampai kursinya nyaris terjungkal. "Sarah, maaf. Ini darurat. Talia, anak Sofi, kecelakaan. Aku harus pergi." Sarah terkejut. "Anak Sofi? Tapi—" Tapi Agam sudah berbalik, berlari meninggalkan cafe tanpa melihat ke belakang. Sarah terduduk sendirian, pertanyaan baru mengusik pikirannya. Seberapa dekatnya Agam dengan Sofi dan anaknya, sampai dia dipanggil "papa" dan berlari seperti itu? Sarah duduk sendiri di cafe, jari-jarinya mengetuk meja. Panggilan darurat tadi, ekspresi Agam yang begitu panik, dan sebutan "anak Sofi" itu terus mengusik pikirannya. Dengan penuh keyakinan, ia berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan menuju tempat parkir. Hanya ingin memastikan semuanya baik-baik, batinnya mencari pembenaran. Ia mengikuti dari jarak aman, sampai akhirnya mobil Agam berhenti di depan pintu gawat darurat sebuah rumah sakit. Sarah memarkir mobilnya agak jauh, lalu berjalan pelan mendekati area UGD. Dari balik kaca pintu geser, ia melihatnya. Agam sudah ada di sana, berdiri di luar tirai bilik pemeriksaan. Tubuhnya tegang, kedua tangan terkepal di samping. Wajahnya yang biasanya terkendali sekarang tampak pucat, matanya menatap tajam ke arah dokter yang sedang berbicara dengannya. Ia mengangguk-nangguk cepat, sekali-kali menjalankan tangannya melalui rambutnya yang sudah berantakan. Keragu-raguan dan kepanikan yang tidak pernah ia tunjukkan di rapat bisnis atau di depan Sarah, kini terpampang jelas. Sarah diam. Ia tak pernah melihat Agam seperti ini. Kemudian, suasana berubah. Seorang wanita dengan rambut sedikit terurai dan mata sembap, dia Sofi, berlari masuk. Ia tidak langsung menuju bilik, melainkan langsung menghampiri Agam. "Gam!" suara Sofi terisak. Dan kemudian, sesuatu yang membuat d**a Sarah sesak. Sofi langsung memeluk Agam. Bukan pelukan ringan, tapi pelukan erat orang yang sedang mencari perlindungan. Wajahnya ditanamkan di bahu Agam, tubuhnya gemetar. Agam, tanpa ragu, membalutkan lengannya di punggung Sofi. Tangannya yang tadi terkepal kini menepuk-nepuk punggung Sofi dengan lembut. "Sudah, sudah. Tenang. Talia kuat. Dokter lagi nanganin," gumam Agam, suaranya rendah dan menenangkan. Kepalanya menunduk, mendekatkan telinganya ke kepala Sofi seolah mencoba menangkap setiap isaknya. Sarah melihat bagaimana tubuh Agam, yang tegang tadi, sedikit melunak untuk menopang Sofi. Ia melihat cara Agam menunduk, memberikan kenyamanan fisik yang begitu mudah. Ia melihat tangan Agam yang besar terus bergerak melingkar di punggung Sofi, sebuah gerakan rutin dan akrab. Ia tidak bisa melihat wajah Agam, tapi dari postur tubuhnya, ada kelembutan yang jarang sekaliatau bahkan sudah lama tidak pernah ditunjukkannya padanya. Perasaan aneh menusuk ulu hati Sarah. Dingin, lalu panas. Itu kecemburuan. Tapi lebih dari itu, itu adalah pengakuan pahit. Dia bisa menjadi tempat berlindung yang begitu natural untuk wanita lain. Dia bisa terlihat begitu lemah dan kuat sekaligus di depan wanita itu. Mengapa denganku yang istrinya sendiri, yang tersisa hanya jarak, kesepakatan bisnis, dan kata-kata yang tertimbun? Sofi masih terisak di pelukan Agam. Sarah ingin pergi tapi Kakinya terasa berat. Ia tidak perlu lagi memastikan apa pun. Ia sudah melihat lebih dari cukup. Gambaran Agam yang menenangkan Sofi dengan begitu intim akan membayanginya sepanjang malam, jauh lebih menyakitkan daripada bayangan wajah Sultan di televisi tadi sore. "Gam, bagaimana dengan Talia? Dia pasti sangat takut," isak Sofi, tangannya masih mencengkeram lengan baju Agam erat-erat. "Tenang, Sof. Dokter bilang dia sadar, itu pertanda baik. Dia anak kuat, seperti ibunya," ucap Agam, berusaha meyakinkan. Tangannya masih menepuk punggung Sofi dengan ritme yang menenangkan, meski pikirannya sebagian terbang ke Sarah. Saat ia mengangkat pandangan untuk sekilas melihat ke arah koridor, tubuhnya membeku. Di balik pintu kaca geser UGD, berdiri seorang wanita dengan jas panjang warna nude dan postur tubuh yang terlalu dikenalnya. Sarah. Wajahnya pucat, matanya menatap langsung ke arahnya, ke arah pelukannya dengan Sofi. Ekspresi di wajah Sarah bukan marah, tapi sesuatu yang lebih dalam, kekecewaan yang tumpul dan pengertian yang pahit, seolah sebuah teka-teki akhirnya terjawab. Istrinya, ia yakin tengah cemburu. Dada Agam terasa seperti ditinju. "Tidak. Bukan seperti ini." Dia tak mau istrinya salah paham. Dengan gerakan refleks yang hampir kasar, Agam melepaskan pelukannya dari Sofi. "Sofi, ada—," gumannya terburu-buru, mendorong tubuh Sofi dengan lembut tapi tegas untuk membuat jarak. Sofi terhuyung, tercengang oleh gerakan tiba-tiba itu. "Agam? Ada apa?" Tapi Agam tidak mendengarnya. Seluruh perhatiannya tertuju pada sosok di balik kaca. Sarah masih berdiri di sana, tatapan mereka bertemu. Agam melihat bibir Sarah sedikit terkucup, seolah menarik napas pendek, sebelum wanita itu berbalik dan pergi. "Sarah, tunggu!" teriak Agam, suaranya pecah di tengah hiruk-pikuk UGD. Ia melangkah, hendak mengejar. Tapi lengan Sofi menariknya kembali. "Gam, Talia! Dokter mau bicara!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD