Keraguan

1188 Words

"Sarah." Sunyi di ruang rapat kecil ABJaya pecah oleh getar halus ponsel di atas meja. Agam, yang sedang mendengarkan presentasi dari Sofi mengenai timeline proyek, reflek menoleh. Nama yang terpampang di layar membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Jarinya segera menyentuh layar, membuka pesan singkat itu. Hanya satu kalimat, tapi terasa seperti perintah sekaligus pertanyaan yang menegangkan. [Kita perlu bicara. Bisa bertemu? Cafe di Plaza Senayan, yang biasa, jam 4 sore!] Tanda seru di akhir pesan terasa seperti pukulan. Begitu formal. Begitu langsung. Tidak ada basa-basi. Ini tentang proyeknya. Tentang kemenangan yang baru diumumkan. Dan Agam tahu, Sarah jelas tidak gembira. Kerutan di dahi Agam semakin dalam. Ia menatap pesan itu lebih lama dari yang seharusnya, sampai Bayu ya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD