"Mas Agam."
Detak jantung Sarah tak beraturan. Agam di sini. Sekarang. Dia mematikan mesin, menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Dia membenarkan blazer kerjanya yang sedikit kusut, lalu melangkah keluar.
Suara obrolan hangat terdengar dari dalam. Begitu Sarah masuk rumah, pandangannya langsung tertuju pada sosok Agam yang duduk di meja makan, ditemani Alvin, ayahnya.
"Sarah, pulang!" sapa Alvin dengan riang.
Agam menoleh. Pandangan matanya bertemu dengan Sarah, dan selama sedetik, ada kilatan sesuatu yang hangat di sana, sebelum ia mengangguk sopan. "Sarah."
"Pa," sapa Sarah, berusaha tenang. Matanya beralih ke Agam. "Mas Agam ... di sini."
"Ya, tadi sore aku menemani Papa Alvin kontrol rutin," jelas Agam dengan suara datar.
Sarah meletakkan tas kerjanya, lalu bergabung di meja. Dengan canggung, ia duduk di seberang Agam.
"Dua minggu ini ... Mas Agam sibuk sekali ya?" tanya Sarah, mencoba membuat percakapan.
Agam mengangkat bahu. "Iya. Banyak urusan perusahaan. Beberapa proyek luar kota juga." Jawabannya singkat, tertutup.
Sarah mengeras. "Urusan perusahaan." Mungkinkah itu termasuk urusan dengan Sofi? Dia menahan gejolak di hatinya.
Alvin menyela. "Sarah, Agam ini baik sekali. Tadi bukan cuma nganterin Papa kontrol, tapi juga nemenin konsultasi sama dokter spesialis."
Sarah memerhatikan ayahnya. "Konsultasi? Kenapa tidak bilang ke aku?"
"Ya kamu kan sibuk, sayang. Nggak mau bikin kamu khawatir," jawab Alvin lembut. "Tapi ternyata, dokternya kasih opsi terapi baru untuk ginjal Papa. Namanya ... apa itu, Gam?"
"Combination therapy, Pa," jelas Agam. "Butuh komitmen dan persetujuan wali."
Sarah merasa bersalah. "Pa ... aku harusnya yang nemenin."
"Sudah, nggak apa-apa," ucap Alvin. "Yang penting sekarang ada jalan."
Mata Sarah berkaca-kaca. "Terima kasih, Mas. Sudah menggantikan aku."
Agam menghela napas. "Aku melakukan apa yang seharusnya. Papa Alvin juga keluarga." Kata-katanya ambigu, sengaja.
Sarah menatapnya, mencari jawaban. Tapi raut Agam sulit dibaca.
Mereka pun makan malam bersama. Percakapan mengalir ringan, meski masih ada jarak yang terasa antara Agam dan Sarah.
Setelah makan, Agam tampak bersiap untuk pergi. "Pa, aku pamit dulu. Istirahat yang cukup, ya."
"Baik, Nak. Hati-hati di jalan."
Sarah berdiri. "Aku ... antar kamu ke depan, Mas."
Agam mengangguk. Mereka berjalan ke teras depan, meninggalkan Alvin di ruang makan.
Saat Agam hendak melangkah turun, Sarah menarik lengan bajunya dengan lembut. "Tunggu."
Agam berhenti, menoleh. "Ada apa, Sarah?"
"Ada waktu sebentar? Untuk kita berdua?" pinta Sarah, suaranya rendah.
Agam mengangguk, meski hatinya berdebar. Mereka berjalan sedikit menjauh, berhenti di dekat mobil Sarah.
"Terima kasih untuk ayahku," ucap Sarah. "Dan ... tentang satu hal lagi."
Agam menunggu.
"Kami dapat undangan tender. Dari ABJaya. Proyek hotel dan resort," ujar Sarah, matanya menatap Agam tajam, mencari kejujuran di rautnya. "Apakah ... ini ada hubungannya dengan kamu, Mas?"
Agam diam sejenak. Di kepalanya, arahan Bayu bergema. 'Bersikap biasa. Jangan emosional. Jangan mengaku.'
'Dia tahu,' pikir Agam, tapi ia harus tetap pada rencana.
"ABJaya memang sedang membuka tender untuk proyek itu. Beberapa agency diundang," jawab Agam, suaranya tenang dan profesional. "Tim pengadaan yang memilih berdasarkan kriteria. Aku lihat Cahaya Kreatif masuk dalam daftar undangan. Portofolio kalian yang menarik perhatian tim, sepertinya."
"Jadi, kamu tidak mengarahkan mereka?" tanya Sarah lagi, masih tidak percaya.
"Tidak," jawab Agam, memandang lurus ke mata Sarah. "Dan aku sengaja tidak akan ikut campur dalam proses seleksi. Aku bahkan mungkin tidak akan hadir di presentasi besok."
Sarah terdiam, mencerna kata-katanya.
"Kenapa?" tanyanya akhirnya.
"Karena aku ingin ini adil," kata Agam, dengan nada yang tegas. "Aku ingin, jika Cahaya Kreatif menang, itu murni karena kualitas kerja kalian. Bukan karena ada yang menganggap ini nepotisme. Karena status kita ... masih suami-istri."
Kata "suami-istri" diucapkannya dengan sengaja, tanpa beban. Sebuah fakta yang tak terbantahkan, sekaligus tembok yang memisahkan mereka.
Sarah menelan ludah. Di satu sisi, ia lega. Ini kesempatan yang adil. Di sisi lain, ada kekecewaan kecil yang tak terbendung. Agam begitu dingin dan terukur. Seolah ia benar-benar hanya rekan bisnis.
"Begitu rupanya," ucap Sarah lirih. "Terima kasih atas transparansinya."
"Semoga presentasi besok berjalan baik," ucap Agam, mengakhiri pembicaraan. "Sampaikan ke Julian, kerja kerasnya akan terbayar."
Ia tidak menyebut "kerja keras kamu". Ia menyebut Julian. Seolah semakin menegaskan jarak.
" Sudah, apa ada yang mau ditanyakan lagi?" tanya Agam. "Kalau gak, aku pulang."
Sarah hanya bisa mengangguk. "Tidak. Hati-hati di jalan."
***
Hari presentasi tiba. Sarah berdiri di depan gedung menjulang milik ABJaya Group, ia menelan ludah. Interior lobby-nya megah, bernuansa kayu gelap dan marmer, memancarkan kesan profesional sekaligus berkelas. Sebuah rasa bangga yang tak disangka menyelinap di hatinya. Ini perusahaan suamiku. Pikiran itu terlontar otomatis, diikuti oleh desahan getir. Suami yang kini begitu jauh, meski secara sah masih terikat.
Julian menepuk pundaknya. "Siap, Bos? Ini saatnya kita tunjukkan kelas kita."
Sarah mengangguk, meluruskan blazer warna taupe-nya. "Siap."
Mereka diantar ke ruang tunggu lantai 15. Beberapa perwakilan agency lain sudah berada di sana. Suasana tegang dan sopan terasa di udara. Sarah duduk, mencoba tenang. Matanya sesekali menyapu lorong dan area sekitar, berharap menangkap sekilas sosok Agam. Tapi tidak. Ia tidak muncul.
Sampai kemudian, dari balik pintu kaca ruang rapat di ujung lorong, ia melihat seorang wanita berambut panjang ikal tergerai, mengenakan setelan putih yang stylish. Wanita itu berbicara dengan beberapa staf, terlihat begitu percaya diri dan familiar dengan lingkungan sekitar. Dadanya Sarah sesak. Sofi.
Dengan hati berdebar, Sarah bertanya perlahan pada resepsionis yang membawakan mereka air mineral. "Maaf, Mbak. Wanita di ruang rapat sebelah itu ... siapa, ya? Sepertinya penting."
"Oh, itu Ibu Sofi, kepala divisi pemasaran kami. Beliau yang akan memimpin sesi presentasi tender hari ini bersama tim pengadaan," jawab resepsionis dengan ramah.
Kepala divisi pemasaran. Posisi yang strategis. Dan Agam, sebagai direktur, pasti sering berinteraksi dengannya. Rasa cemas yang baru menggumpal di d**a Sarah. Apakah Sofi akan netral? Atau justru akan mempersulitnya karena tahu siapa dia?
"Sarah, jangan khawatir. Kita siap," bisik Julian, menangkap perubahan ekspresi wajahnya.
Satu per satu agency dipanggil masuk. Giliran Cahaya Kreatif tiba. Sarah dan Julian masuk ke ruang presentasi yang luas. Di sepanjang sisi meja panjang, duduk lima orang panelis, termasuk Sofi yang berada di posisi tengah. Wanita itu tersenyum profesional, tetapi matanya menyiratkan penilaian yang tajam.
"Selamat siang, kami dari Cahaya Kreatif," buka Sarah dengan suara yang berusaha stabil.
Presentasi dimulai. Julian memaparkan data dan analisis pasar dengan lancar. Sarah mengambil alih untuk menjelaskan konsep kreatif dan storyboard yang mereka rancang. Dia berbicara dengan penuh semangat, mencoba mengabaikan tatapan Sofi yang terasa seperti mengupasnya lapis demi lapis.
Semua berjalan dengan baik. Hingga di pertengahan sesi tanya jawab, pintu ruangan terbuka.
Semua mata, termasuk Sarah, tertuju ke arah pintu. Agam berdiri di sana, dengan setelan jas abu-abu yang membuatnya terlihat berwibawa. "Maaf mengganggu. Lanjutkan saja," ucapnya sopan, lalu mengambil tempat duduk kosong di sudut belakang ruangan.
'Bukannya dia bilang gak akan datang,' ucap batin Sarah.
Detak jantung Sarah langsung berpacu kencang. Kehadiran Agam mengubah seluruh energi di ruangan. Dia berusaha fokus, melanjutkan jawaban atas pertanyaan salah seorang panelis tentang anggaran.
Tapi konsentrasinya mulai buyar ketika ia melihat, dari sudut matanya, Sofi menoleh ke arah Agam dan memberikan senyuman kecil yang akrab. Agam membalas dengan anggukan halus. Sebuah interaksi sederhana yang bagi Sarah terasa begitu intim. Mereka bekerja sama setiap hari. Mereka saling mengerti.
Suaranya tiba-tiba tercekat di tengah kalimat. Julian dengan cepat menyambar, menutupi kegugupan Sarah. "Seperti yang rekan saya jabarkan, nilai efisiensi dari paket ini terletak pada ...."
Sarah menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan pikirannya yang buyar. Dia menatap materi di layar, tapi yang terlihat adalah bayangan senyuman Sofi tadi. Dan Agam yang hadir tepat di momen penting ini, seolah ingin menyaksikan sendiri penampilannya atau mungkin, ingin mendukung Sofi yang memimpin acara?
Dia harus menyelesaikan ini. Dengan sisa tenaga dan profesionalisme yang bisa dikumpulkan, Sarah menyelesaikan sesi presentasi mereka. Namun, kegugupan dan keraguan yang tadi tak ada, kini jelas terbaca di raut wajahnya yang sedikit pucat dan suaranya yang kehilangan keyakinannya di detik-detik terakhir.
Sofi menutup sesi dengan ucapan terima kasih yang formal. Tatapannya pada Sarah kali ini tak lagi sekadar menilai, tetapi seolah mengandung makna lain yang dalam. Agam, dari sudutnya, hanya diam mengamati, ekspresinya sulit ditebak.
Sarah dan Julian keluar ruangan dengan langkah berat. Perasaan campur aduk membanjiri Sarah. Dia merasa telah merusak momentum baik di akhir presentasi karena kehadiran Agam dan Sofi. Dia juga bertanya-tanya, apa arti kehadiran Agam tadi? Apakah dia sengaja datang? Atau hanya kebetulan?
Dan yang paling mengusik Sarah adalah, apakah keputusan tender ini nanti akan benar-benar murni, seperti yang dijanjikan Agam? Atau ada faktor lain, seperti hubungan kerja yang erat antara direktur dan kepala divisi pemasarannya, yang akan berpengaruh?
"Sarah, kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali," tanya Julian khawatir.
Sarah menatap Julian. "Aku, aku ...." Tiba-tiba pandangan matanya kabur, lalu gelap. Dia pingsan.
"Sarah, Sarah!"