Galau

1117 Words
"Perusahaanmu kan punya banyak divisi dan butuh vendor untuk berbagai kebutuhan. Event, branding, konten kreatif. Tidak harus proyek besar dulu. Bisa dimulai dengan paket kecil yang wajar untuk agency baru. Dan ... jangan dari divisimu langsung. Biar aku yang urus, atau lewat divisi lain yang tidak langsung berhubungan denganmu. Seolah-olah mereka yang menemukan Cahaya Kreatif dan tertarik dengan portofolionya." Agam mempertimbangkan. Itu licik. Tapi juga ... memberikan solusi. Ini akan membantu Sarah tanpa melukai harga dirinya. "Tapi kalau dia tahu nanti ...?" "Kita atur sedemikian rupa agar tidak ketahuan. Atau, jika ketahuan, itu nanti saat semuanya sudah berjalan baik dan hubungan kalian sudah lebih hangat. Yang penting, ini bantu dia berdiri, beri dia kepercayaan diri. Dan ... ini juga buatkan jembatan untuk kalian berinteraksi dalam konteks yang berbeda. Bukan sebagai mantan suami-istri yang canggung, tapi sebagai ... rekan profesional yang saling menghormati." "Kami belum mantan, Bay!" "Iya iya, tapi nyatanya sikap kalian udah kayak mantan." Agam berdecak, tapi dia memikirkan gagasan sahabatnya itu. Berisiko, tapi juga mengandung kemungkinan. Agam melihat secercah harapan. Mungkin ini caranya. Membantu tanpa menguasai. Hadir tanpa mengganggu. "Kau pikir itu akan bekerja?" tanya Agam. Bayu mengangkat bahu. "Lebih baik daripada hanya menunggu dan berharap, kan? Tapi ingat, semuanya harus terlihat alami. Kalau kau setuju, aku akan mulai besok. Kau fokus saja pada pendekatan personalmu. Jangan sampai ketahuan." Agam mengangguk perlahan, rasa frustasi mulai berganti dengan tekad baru. "Baik. Lakukan." "Tapi, ada satu hal," tambah Bayu, ekspresinya menjadi serius. "Ini juga ujian buat Sarah. Apakah dia bisa profesional menghadapi ini? Dan ... apakah nanti, jika semuanya berjalan baik, kau siap jika dia memutuskan untuk benar-benar mandiri dan ... mungkin memilih untuk tidak kembali padamu? Kau harus siap dengan semua kemungkinan." Pertanyaan itu seperti tamparan dingin. Agam memejamkan mata sejenak. Ya, itu risikonya. Membantu Sarah tumbuh kuat mungkin berarti memberinya sayap untuk terbang lebih jauh. Tapi, bukankah cinta sejati juga tentang membiarkan orang yang dicintai menjadi versi terbaiknya, meski itu tidak termasuk dirinya? "Aku ... akan mencoba siap," jawab Agam akhirnya, suaranya lirih tapi terdengar tulus. "Lebih baik melihatnya bahagia dan sukses, meski tanpa aku, daripada melihatnya terjebak dan menderita." Bayu tersenyum, bangga pada sahabatnya. "Itu jiwa besar, bro. Sekarang, minum kita habiskan. Besok, kita mulai Operasi Jembatan ini." Mereka mengangkat gelas terakhirnya, untuk harapan yang baru, untuk strategi yang penuh risiko, dan untuk cinta yang cukup besar untuk belajar melepaskan atau cukup kuat untuk bertahan melalui ujian yang paling tidak terduga. *** Kantor baru Sarah terlihat sudah lebih tertata. Plakat "Cahaya Kreatif" tergantung rapi di dinding reception area. Namun, di balik meja kerjanya yang minimalis, Sarah duduk dengan pikiran tak tenang. Jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu, matanya kosong menatap layar laptop yang penuh jadwal meeting dan proposal. Dua minggu. Sudah dua minggu sejak makan malam ulang tahun Agam yang berjalan … biasa-biasa saja. Lebih dari biasa-biasa saja, bahkan. Agam bersikap sempurna, sopan, perhatian, tidak memaksa. Mereka membicarakan banyak hal, kecuali perasaan. Setelah itu, Agam seperti menghilang. Hanya sesekali mengirim pesan singkat menanyakan kabar atau soal mobil apa nyaman atau tidak. Tidak ada telepon, tidak ada kunjungan spontan seperti dulu. Pikiran Sarah melayang kepada sosok Sofi dan anak kecil itu, Talia. Mungkin selama dua minggu ini, Agam lebih sering bersama mereka? Mungkin ia sedang merenungkan pilihannya? Mungkin kenyataan bahwa Sofi dengan latar belakangnya yang terluka dan seorang anak yang sudah menganggapnya ayah adalah pilihan yang lebih masuk akal daripada berusaha memperbaiki pernikahan yang sudah remuk? "Sarah? Sarah!" Terkejut, Sarah mendongak. Julian berdiri di depan mejanya dengan ekspresi kesal, membawa setumpuk dokumen. "Maaf, Julian, aku lagi mikir sesuatu. Ada apa?" "Apa? Ini laporan dari tim marketing. Proyek kita sejauh ini cuma beberapa iklan UMKM dan konten media sosial untuk kafe-kafe. Fee-nya kecil, Sar. Kita butuh proyek besar kalau mau bertahan lebih dari enam bulan," keluh Julian, menjatuhkan diri di kursi di seberang meja Sarah. Sarah menarik napas. "Kita baru launching, Julian. Perlahan-lahan. Yang penting eksposur dulu." "Perlahan-lahan bisa bubar, Sar," sanggah Julian. "Kamu punya koneksi kan? Masa enggak ada kenalan yang punya perusahaan besar butuh jasa creative agency? Atau … coba hubungi Sultan aja? Aku dengar perusahaannya lagi ekspansi." Nama itu seperti setrum bagi Sarah. Wajahnya langsung berubah dingin. "Tidak mungkin, Julian. Aku enggak akan pernah menghubunginya lagi." Julian menghela napas, tahu ia telah menyentuh luka lama. "Baik, baik. Maaf. Tapi … gimana dengan Agam? Suamimu itu kan punya perusahaan cukup besa. Pasti butuh banyak konten iklan, event, branding. Itu bisa jadi proyek besar pertama kita." Sarah merasa dadanya sesak. Ide itu sudah terpikir olehnya, tapi selalu ia tolak. "Aku … aku enggak mau, Julian. Aku sudah berhutang budi soal mobil. Kalau sekarang aku minta proyek bisnis, rasanya … seperti memanfaatkannya. Aku enggak mau hubungan kami jadi transaksional." "Ini demi kelangsungan perusahaan kita, Sar! Bukan demi kamu pribadi!" Julian membalas, suaranya meninggi karena frustrasi. "Kalian masih suami-istri sah! Apa salahnya menawarkan kerja sama? Atau jangan-jangan … kamu masih terlalu sibuk dengan perasaan galau dan cemburu sama janda satu anak itu atau mantan kekasihmu, Sultan, sampai lupa sama karier?" Teriakan Julian itu seperti tamparan. Sarah terdiam, wajahnya pucat. Julian langsung menyesal. "Sar, maaf, aku—" "Keluar, Julian," potong Sarah dengan suara datar yang lebih terasa getir. Julian membuka mulut, tapi melihat air mata yang mulai menggenang di mata sahabatnya, ia memilih mengalah. Dengan bahu lunglai, ia berbalik dan meninggalkan ruangan. Sendirian lagi, Sarah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Benarkah? Apakah ia selama dua minggu ini lebih disibukkan oleh kecemburuan dan kegalauan hatinya daripada membangun bisnisnya? Apakah ketidakhadiran Agam bisa mempengaruhinya sebesar ini? Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan brosur perusahaan Agam yang ia ambil diam-diam dari mobil Agam waktu itu. Logo "ABJaya" terpampang megah. Hatinya terasa sakit. Di satu sisi, ia ingin membuktikan pada Agam, pada dunia, dan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa mandiri, sukses tanpa bergantung pada siapa pun, termasuk mantan kekasih atau pria yang masih sah menjadi suaminya. Tapi di sisi lain, tekanan bisnis nyata adanya. Julian mungkin kasar, tapi tidak sepenuhnya salah. Dan di balik semua itu, ada keinginan kecil yang memalukan. Alasan untuk menghubungi Agam. Bukan sebagai istri yang cemburu atau wanita yang galau, tapi sebagai rekan bisnis yang profesional. Dengan gemetar, ia mengambil ponselnya. Jarinya membuka aplikasi pesan, membuka chat dengan Agam yang terhenti sejak lima hari lalu. Ia menatapnya lama. Akhirnya, dengan tekad yang goyah, ia mengetik. [Agam, ini Sarah. Ada waktu untuk bertemu? Aku … kami dari Cahaya Kreatif, ingin menawarkan portofolio untuk kemungkinan kerja sama dengan perusahaanmu. Jika kamu tertarik.] Ia membaca ulang pesannya, rasa bangga dan keengganan berperang di dalam dadanya. Ini untuk perusahaan. Ini untuk masa depannya. Bukan untuk dirinya yang sedang rindu atau cemburu. Tapi sebelum ia sempat menekan kirim, sebuah notifikasi masuk. Sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal. "Siapa ini?" gumamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD