Malika seperti biasa bekerja sampai sore. Kini di ruangan itu ia sendirian tanpa Almas sebagai mentornya. Apa-apa pun Malika kerjakan dan putuskan sendiri. Sebelum pulang mendadak datang Aris ke ruangannya, seperti biasa lelaki itu menyerbu tanpa pemberitahuan. “Kamu bilang akan kembali ke rumah mama?!” tuntutnya langsung. Malika mengangguk tenang. Memang itu akan dilakukannya, tetapi belum jadi realisasi jika Malika belum masuk masa haidnya. “Aku perlu waktu sebentar lagi. Ayah masih panas setelah tahu pernikahan muhallil itu.” “Kalian sudah bercerai, Malika.” “Memang, kamu sendiri saksinya.” Malika acuh tak acuh menanggapi. Tak lupa Malika momen sebelum ia dan Almas turun untuk sarapan sepekan lalu di hotel itu. Mereka dihadang Aris dan begitu saja dipaksanya Almas mengucapkan talak

