“Ini yang kalian mau?! Ini yang kamu mau, Malika?!” Selembar pernyataan di atas kertas putih dihamburkan ke udara oleh Arta Danuarta. Merah padam wajah lelaki berstatus ayah Malika itu dipenuhi amarah karena putrinya tengah menyeret koper berisi banyak pakaian untuk kembali ke rumah mantan mertuanya. “Ambil! Urus sendiri hidupmu! Dua kali, Malika. Dan, kamu masih juga tertipu muslihatnya!” murka Arta lagi. Sementara itu perempuan manis yang tengah dicerca tersebut menangis tanpa suara, tanpa kata. Lelaki muda di sisinya lah yang bergerak memungut surat bertanda tangan Arta yang mengizinkan wali hakim untuk menikahkan mereka nantinya. “Ayo, Malika.” “Aku yakin sekali kamu akan menyesal! Sebagaimana dulu kamu menyesal, kamu akan mengulanginya lagi!” ucapan Arta seperti sumpah. Kemudian

