Almas cukup khawatir dengan keputusan Malika. Setidaknya ia rasa perlu menegaskan kepada mereka berdua sebelum membiarkan keduanya bersama tanpa didampingi lagi. Kemarin saja Almas yakin ada sesuatu yang terjadi di ruang kerja. Sebelum terlambat, Almas mengetuk jendela mobil di sisi Malika. “Ada apa?” Almas tersenyum. Wajah Aris di balik kemudi benar-benar tampak tak suka kepadanya. Namun, penuh percaya diri Almas melepas pin dasinya. Benda berbahan besi itu ia pamerkan kepada Malika, “Jika dia berulah, tusuk saja matanya dengan ini.” Malika tergelak menerimanya. Benar-benar frontal Almas berkata begitu tepat di telinga Aris. “Lalu kami akan kecelakaan bersama,” kekehnya pula. “B—bukan begitu maksud saya.” Almas berniat menggertak Aris, tapi Malika malah membuatnya jadi salah tingkah.

