Sabar? Sebagaimana dulu Malika tahan mulutnya untuk tidak membuat Helena kena serangan jantung mendadak, kini ia perlu menurunkan juga keinginan menertawakan duka Sita. Sabar menanti kemenangan itu di puncak derita para musuhnya. Almas mungkin benar, Malika tak harus buru-buru. Mungkin benar juga, Malika harusnya mengikhlaskan agar hatinya tenang. Namun, Malika menggeleng. Ya Tuhan! Malika tak sebaik itu. Ia akan merasa kebaikan sama dengan kebodohan jika memaafkan begitu saja sementara semesta memberinya akses mudah untuk balas menyiksa mereka. Malika tak mau dianggap bodoh selamanya oleh Helena dan putranya. Malika terkenang percakapan terakhir Almas sebelum menutup panggilan. Makan siang. “Biasanya aku makan di rumah. Kemarin di kantin perusahaan. Kamu punya tempat langganan?” Alm

