Malika kembali diam. Bersyukur atas hal benar yang disampaikan Almas. Sudah terbukti jika Arta tidak memaksanya, dan salah Malika sendiri yang keras kepala meminta dinikahkan dengan Aris. Malika yakin, ayahnya lebih tahu bagaimana efek buruk sebuah perjodohan. “Sejujurnya saya bahkan takut untuk membuka hati,” kata Almas getir. “Takut tersiksa seperti ayah saya dan menyiksa orang yang tulus mencintai saya.” Malika merasakan hal yang sama, trauma. Makanya dulu ia tak mau mengulang kejadian sama antara Alma dan Arta. Malika pilih bertahan dengan Aris yang saling mencintai bersamanya. Namun, nyatanya ia salah memilih lelaki. Cinta tulusnya dipersembahkan salah tempat. Almas tergelak tiba-tiba, “Bahaya!” Malika panik, “Apa yang bahaya?!” Saat mereka saling bertatapan, Almas berkata denga

