Sekali lagi, Aris mengantar Malika pulang dengan rute memutar yang harus menghabiskan waktu sedikitnya tiga puluh menit. Yang biasanya Almas butuhkan hanya lima belas menit jika melakukannya. Malika tetap diam sementara Aris banyak mengeluarkan kata-kata rayuannya diselip dengan hal-hal menarik yang terjadi selama sepekan dia tugas luar kota. Malika sendiri merasa kedekatan mereka seperti dulu-dulu masih berstatus suami istri, tetapi bedanya kini Malika tak antusias menyimak semuanya. Ada suara-suara Almas mengganggu pikirannya. Kalimat berisi doktrin agar Malika waspada dari anggota keluarganya juga membayang datang. “Kamu sedang memikirkan apa, Sayang?” “Aku masih menerka apakah kamu tulus atau sekedar memanfaatkanku lagi,” jawab Malika apa adanya. Aris tertawa sumbang, “Tentu saja a

