Ada apa dengannya? Tanya itu yang saat ini bergelantungan di kepala Malika. Entah mengapa pembicaraan ringan mereka jadi berat bagi Almas. Memang tak bisa dipungkiri jika Almas sensitifff dengan masa lalu orang tua mereka, tapi biasanya tak semenakutkan ini. Malika masih malas melangkah, tapi ia tak mau lebih lama menanggung rasa tak nyaman di dadaanya. Tak tinggal diam, Malika meraih ponselnya lalu menghubungi Almas. “Ya?” Malika bingung harus berkata apa. “Ada apa, Nona?” “Aku tidak yakin. Kurasa kamu pergi dengan sesuatu. Ada yang belum selesai, begitu rasanya. Namun, aku sungguh tak tahu apa,” jelas Malika apa adanya. Almas menghela napas. “Apa maksud Anda?” “Kamu marah? Karena pembicaraan tadi?” Almas tam tahu. Jujur, ia tak suka saja jika fakta mendukung Malika. Almas mau

