Chapter 9

1607 Words
Satu minggu berlalu setelah persetubuhan Hunt dan Paula. Mereka kembali tidur dikamar masing-masing, dan menjalankan kegiatan seperti biasa. Hari ini Hunt akan pergi ke Eropa. Ia akan menemui seseorang yang dikenalnya sebagai mafia paling kejam dan juga tidak pernah memberikan potongan harga saat berbisnis dengannya. Paula yang mendengar kabar bahwa Hunt akan pergi langsung berlari menemui lelaki itu. Paula masuk begitu saja kedalam ruang kerja Hunt. Ia berjalan mendekati Hunt tanpa peduli dengan keberadaan Gary dan Larry disana. "Ada apa?" tanya Hunt. "Hunt, apa benar kau akan pergi ke Eropa?" "Ya." "Aku ingin ikut!" tegas Paula. "Tidak, terlalu berbahaya." "Aku ikut! Aku bosan disini! Lagi pula disana tidak akan ada yang mengenaliku." "Tidak!" "HUNT!" Hunt menatap tajam pada Paula. Baru kali ini ada yang berteriak padanya. Sementara Paula terdiam dan meneteskan air matanya. Gadis itu berlari keluar dari ruang kerja Hunt menuju kamarnya. Selama ini, Paula selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan baru kali ini ia merasa bahwa hidupnya hanya sekedar untuk menjadi boneka. "Hik, hik." Terdengar isak tangis Paula yang tertahan oleh bantalan. CEKLEK Hunt masuk kedalam kamar Paula, lelaki itu duduk ditepi ranjang. Tangan Hunt membeli surai Paula dengan perlahan. "Cepat bersiap, aku akan pergi dalam lima belas menit lagi. Jika kau ingin ikut, segera keruanganku setelah kau siap," ujar Hunt. Lelaki itu berdiri lalu akan melangkah pergi dari kamar itu. Namun, langkahnya tertahan karena Paula menggenggam tangan Hunt. Hunt kembali duduk, ia mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu. Dikecupnya kening Paula, lalu turun hingga berakhir pada bibir gadis itu. Hunt melumatnya perlahan, terasa asin karena masih ada sisa air mata Paula disana. Sebelum gairahnya meningkat, Hunt melepaskan ciuman itu. Lelaki itu tersenyum  manis pada Paula. "Cepat bersiap jika tidak ingin aku tinggalkan." Ucapan Hunt membuat Paula tersenyum. Setelah Hunt keluar dari kamarnya, Paula segera bersiap. Gadis itu hanya membawa  tas selempang yang berisi ponsel dari Hunt, dan beberapa alat rias. Paula mengenakan mini dress berwarna pink soft, dan sepatu flat. Surainya ia biarkan tergerai panjang, dengan jepitan berwarna hitam untuk menahan surai bagian depannya. Paula berjalan menghampiri Hunt diruang kerjanya. Lelaki itu terlihat sedang memegang sebuah map berwarna cokelat dengan wajah yang terlihat menahan emosi. "Hunt," panggil Paula lirih. Hunt menengok asal suara, dan raut wajah yang membuat tubuh Paula tegang. Kini terlihat biasa dengan senyum ramah. "Kau sudah siap?" tanya Hunt memastikan. "Sudah." "Baiklah, kita pergi." Keduanya kini berjalan menuju lift untuk baik ke permukaan. Gary dan Larry sudah menunggu didalam jet pribadi Hunt. Mereka terlihat terkekeh melihat Hunt yang memperlakukan Paula dengan spesial. "Sayang, kau akan bersama Gary dan Larry saat aku sedang bekerja. Jangan membuat mereka marah jika kau masih ingin bertemu denganku!" ujar Hunt. "Baiklah, aku akan bersikap manis pada mereka." "Ingat! Tubuhmu hanya milikku, satu sentuhan saja dari lelaki lain kau akan menerima hukuman." "Kau membuatku takut, Hunt!" Hunt tidak menggubris, lelaki itu justru berkutat pada ponselnya. Sementara du lelaki yang duduk di seberangnya menutup mata dan beristirahat hingga jet mereka sampai ditujuan. Paula terlihat tenang, gadis itu memandang wajah Hunt yang dingin dan sesekali terlihat mempesona. "Sudah puas melihat wajah tampanku?" tanya Hunt tanpa melihat Paula. "Kenapa kau terlihat begitu menyebalkan sekarang?" Hunt meletakkan ponselnya. Ia menatap wajah Paula dengan intens. "Kenapa kau bisa begitu tenang?" tanya Hunt. "Hidupku terlalu membosankan, kau pasti mengenal Ayahku. Ia adalah ornag yang gila hormat dan sangat protektif pada keluarganya. Aku heran saat ada orang yang berhasil membawaku pergi tanpa tertangkap oleh orang-orang suruhan Presiden." "Hmm, perlu kau ketahui. Orang-orang yqng bersama Presiden adalah pengikutku. Jelas aku dapat dengan mudah mwngambilmu darinya." Paula tersenyum, wajah gadis itu terlihat sangat nyaman dengan kondisinya sekarang. "Hunt, apa kau tak takut jika suatu hari akan jatuh cinta padaku?" pertanyaan Paula membuat Hunt terkekeh. "Apa itu jatuh cinta? Bisakah kau menjelaskannya padaku?" "Lihatlah, kau sangat menyebalkan!" "Hahaha. Sayang, mencintai seseorang itu adalah pilihan. Jika suatu hari hal itu terjadi padaku, mungkin aku akan lebih menggenggammu lebih dari sekarang! Karena apa yang sudah menjadi milikku, tidak akan kubiarkan disentuh siapapun." "Hunt, apa aku boleh mencintaimu?" "Itu pilihanmu, maka jangan menyesalinya. Karena cinta bisa membuatmu sakit, seperti luka." "Seperti luka?" tanya Paula membeo. "Meski luka itu sembuh, tetapi bekasnya akan ada hingga kapanpun." Paula tersenyum mendengar perkataan Hunt. Saat ini ia masih sedikit bimbang dengan perasaannya. Entah itu cinta atau hanya sekedar kagum. Setelah menempuh perjalanan cukup lama. Mereka sampai di bandara kota Paris. Hunt disambut oleh Gecko, salah satu orang keercayaannya yang memegang wilayah Eropa. Ada lima mobil sedan berwarna hitam disana, Hunt dan Paula berada di salah satu mobil itu. Sedangkan Gary dan Larry masuk kedalam mobil lainnya. "Hunt, kita akan kemana?" tanya Paula. "Picardy, letaknya berada di bagian utara kota Paris." "Untuk apa kita kesana?" "Menemui beberapa orang," jawab Hunt. "Hunt," panggil Paula lirih. "Bisakah kau diam sejenak?" "Perutku sakit," keluh Paula. "Kenapa?" "Sepertinya aku sedang mengalami palang merah," ujar Paula. "Apa itu?" "Ehm, masa seorang perempuan yang mengeluarkan darah dari bagian intimnya," jelas Paula. "Kau mengalami pendarahan?" "Tidak, bukan itu. Akh!" "Hei, kau baik-baik saja?" "Hunt, bisakah kau membuat mobil ini berhenti disebuah minimarket?" "Untuk apa?" "Membeli keperluanku, karena jika tidak mobil ini akan kotor oleh darahku," terang Paula. "Cepat berhenti didepan minimarket!" teriak Hunt pada supir. "Baik, Tuan!" Akhirnya mobil yang ditumpangi Hunt berhenti didepan minimarket. Tak hanya mobil itu, keempat mobil lainnya juga ikut berhenti. Gary terpaksa turun dari mobil dan menghampiri Hunt. Ia mengetuk jendela mobil yang ditempati Hunt. "Hei, ada apa ini?" tanya Gary. "Tuan Gary, bisakah kau masuk kedalam sana dan membelikan pembalut?" tanya Paula sembari meringis menahan nyeri diperutnya. "Apa kau gila? Kau menyuruhku membeli itu." "Cepat masuk dan berikan apa yang ia butuhkan!" titah Hunt. "Dasar wanita!" celetuk Gary. Lelaki itu berjalan masuk kedalam minimarket. Ia membeli pembalut untuk Paula. Gary menahan rasa malunya saat membayar belanjaannya itu. Mulutnya menggerutu menyumpahi Hunt dan Paula. "Ini!" ujar Gary sembari memberikan sekantong pembalut. "Kenapa banyak sekali?" tanya Paula heran. "Cerewet!" Gary melangkah pergi dari sana, lelaki itu masuk kembali kedalam mobil yang ditumpanginya. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju Picardy. Picardy adalah wilayah yang terdapat hutan dengan luas 14,414 hektar. Dan disana ada sebuah bangunan kecil, atau bisa juga disebut sebagai pintu masuk menuju Sala Compiegne. Sala Compiegne adalah salah satu koleksi rumah bawah tanah milik Hunt. Lelaki itu memiliki Sala disetiap negara. Maka tidak heran jika banyak orang kesulitan untuk mencari keberadaan Hunt disaat sedang menenangkan pikirannya. Bangunan didalam Sala Compiegne tidak jauh beda dengan Sala Silvermine. Memiliki sepuluh lantai yang menjulang kebawah. Disana juga banyak sekali ruangan yang memiliki fungsi berbeda disetiap pintu. "Hunt," panggil Paula lirih. "Ada apa lagi?" "Bisakah, kau melindungi bagian belakangku?" "Apa maksudmu?" "Ehm, lihatlah pakaianku, ada bercak darah," ujar Paula sembari menunjukkan bagian belakangnya. "Astaga!" seru Hunt. Lelaki itu terlihat memijat keningnya. Ia sangat heran dengan makhluk yang berjenis kelamin wanita. Hunt melepaskan jasnya lalu mengikatkannya pada pinggang Paula. "Terima kasih," ucap Paula. Hunt tidak menjawab, dan memilih turun dari mobil. Paula yang kesal melihat Hunt tak menggubrisnya ikut turun dari mobil. "Hunt, tunggu!" Hunt berhenti melangkah, ia menghela napas kasar melihat Paula. "Ikuti Taran! Wanita yang mengenakan jas putih dengan surai hitam pekat. Ia akan menunjukkan dimana kamarmu," ujar Hunt. Paula mengangguk, ia mengikuti wanita bernama Tara untuk menuju kamarnya. Sementara Hunt memilih untuk menemui seseorang diruang kerjanya. Orang yang sangat berpengaruh pada bisnis di kota Paris. Lelaki itu terkenal dengan ketampanannya yang tidak pernah bisa memudar. Pemimpin mafia terbesar bernama Golden Snake. "Selamat siang, Tuan Cancri," sapa Hunt. "Selamat siang, Hunt," jawab Cancri. "Kau terlihat semakin tak tau diri dengan penmpilan itu," sindir Hunt. "Dan lihatlah dirimu yang terlihat lebih tua dariku," sahut Cancri dengan seringaiannya. "Usiamu bahkan lebih tua dariku. Apa kau sungguh tak ingin menurunkan harganya?" "Jangankan kau, orang yang lebih dekat saja tidak kubiarkan mendapatkan harga khusus," terang Cancri. "Hah! Baiklah mari bicarakan bisnis yang lain." Kini mereka tengah serius dengan perbincangannya tentang bisnis yang sedang mereka lakukan. Hunt memberikan sebuah daftar senjata yang diinginkannya. "Senjata-senjata yang kau inginkan memiliki harga tinggi dengan kualitas yang tidak diragukan. Kau yakin akan membelinya dariku?" tanya Cancri memastikan. "Aku tau, jika tidak untuk apa aku jauh-jauh datang kemari!" "Baiklah, orangku akan mengirimnya dalam satu minggu kedepan. Kau bisa duduk dengan tenang dirumah anehmu itu." "Setiap orang memiliki gaya masing-masing, jika kau sangat senang dengan mansion mewah dan pulau pribadi, maka aku lebih suka dengan rumah yang tidak terlalu mencolok. Rumah bawah tanah membuatku nyaman dan terhindar dari pantauan orang-orang tidak berguna," ujar Hunt yang membanggakan pilihannya. "Terserah, aku harus segera pergi. Masih banyak yang harus kukerjakan," pamit Cancri. Lelaki yang terlihat seperti boneka hidup itu berjalan keluar bersama dua orang pengawalnya. "Hunt, senjata yang kau beli dari Golden Snake, akan kau apakan?" tanya Gary. "Koleksi. Asal kau tau, Cancri adalah pemimpin Golden Snake. Lelaki itulah yang menolongku beberapa tahun lalu untuk mendirikan Camorra," jelas Hunt. "Begitu rupannya," jawab Gary. CEKLEK Taran masuk kedalam ruangan itu, dibelakangnya ada Paula yang ingin tahu apa yang dilakukan lelaki itu disana. "Ada apa lagi?" tanya Hunt. "Aku lapar." Hunt berdecak kesal, ia segera beranjak dari tempatnya dan menarik tangan Paula untuk pergi menuju dapur. "Hunt! Sakit!" pekik Paula. "Maaf," jawabnya singkat. "Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan bisnismu?" tanya Paula. "Tidak ada apa-apa. Duduk dan tunggu sebentar," ujar Hunt sembari berjalan menuju dapur. Lelaki itu menyiapkan makanan untuk Paula. Ia membuat sesuatu yang mudah agar lebih cepat selesai. "Apa yang kau lakukan, Hunt?" "Membuat sesuatu untukmu," ujar Hunt. Lelaki itu dengan lihai membuat saos untuk spagetti yang sedang dibuatnya. Sementara Paula memilih diam dan hanya melihat aksi yang sedang dilakukan Hunt disana. Tanpa ada yang sadar, Gary dan Larry juga ikut melihat apa yang dilakukan lelaki itu. "Apa sekarang kau ingin turun pangkat, Hunt?" tanya Larry. "Diam, atau kali ini mulutmu akan menjadi sasaran empuk shotgun milikku!" "Gary, ayo kita ke club. Aku bosan melihat pasangan ini," gerutu Larry sembari melangkah menjauhi Hunt dan Paula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD