Chapter 10

1992 Words
Sudah tiga hari, dan mereka masih berada di Sala Picardy. Selama di Paris, Paula sangat dimanjakan oleh Hunt. Apapun keinginannya selalu terpenuhi, hanya saja ... setiap permintaan Paula memiliki harga fantastis, sehingga membuat Hunt menggelengkan kepalanya. "Grif, hari ini aku ada misi ke Rusia. Candy membutuhkan bantuanku," ujar Gary. "Baiklah, biar Larry yang menjaga Paula. Kau bisa pergi," ujar Hunt. "Berhati-hatilah pada Larry, sepertinya adikmu tertarik pada Paula," ujar Gary memperingatkan Hunt. "Anak itu tau porsi untuk membangkang, dan ia sangat tahu konsekuensinya jika merebut milikku," jelas Hunt. "Terserah, aku harus pergi." Gary melangkah pergi dari hadapan Hunt. Ia harus segera tiba di Rusia sebelum Candy menggila. Sementara Hunt menghampiri Paula dikamarnya. Ia melihat gadis itu sedang mengenakan kimono dengan rambut yang masih basah. "Kau baru selesai mandi?" tanya Hunt. Paula yang sudah terbiasa dengan kemunculan Hunt hanya berdecak. Gadis itu meninggalkan Hunt, lalu memilih masuk kedalam walk in closet untuk mengenakan pakaiannnya. Hunt merasa terabaikan, dan lelaki itu snagat membenci orang yang mengabaikannya. Seperti yang dilakukan Paula saat ini. Hunt ikut masuk kedalam ruangan itu. "Kau mengabaikanku, sayang!" ujar Hunt kesal. "Apa yang kaublakukan, Hunt?" tanya Paula. "Kenapa?" "Aku hanya merasa bosan disini! Kau selalu mengurungku, lama-lama kau sama saja dengan Ayahku!" celetuk Paula. Lelaki itu berjalan mendekat, ia menarik tangan Paula lalu melumat bibirnya. Dikulumnya bibir bagian Paula hingga membuat gadis itu membalasnya. Mata mereka terpejam merasakan sentuhan pada bibirnya. " Ehm, " desah Paula tertahan. Tak lama kemudian, Hunt melepaskan ciumannya. Lelaki itu memandang wajah Paula yang terlihat sangat polos tanpa riasan apapun. "Cantik," ucap Hunt tiba-tiba. "Apa?" tanya Paula menggoda Hunt. "Tidak. Aku harus menemui seseorang, kau bisa pergi bersama Larry." "Kau begitu sibuk, Hunt. Kenapa kau tidak bisa meluangkan waktu sebentar saja untukku?" "Akan ada saatnya waktuku bersamamu," ujar Hunt sembari memberikan kecupan pada bibir Paula. Lelaki itu melangkah pergi setelah menggoda gadis itu. Ia mendengar teriakan Paula saat diluar kamar. Hunt hanya terkekeh mendengar u*****n yang keluar dari mulut Paula. "Jaga wanitaku, jangan ada yang berani menyentuhnya!" ujar Hunt pada Larry, dan kedua pengawal yang berada tepat dibelakangnya. "Baiklah." Setelah itu Hunt pergi bersama beberapa orang pengikutnya. Lelaki itu akan menemui seseorang yang mensuplay beberapa bahan makanan untuk keluarga Camorra. "Selamat sore, Tuan." "Halo, Tuan Hampton," balas Hunt. Lelaki berusia enam puluh tahun itu memiliki surai putih sempurna, dengan perut buncit, dan setelan rompi berwarna hitam. Hampton adalah seorang distributor makanan di beberapa negara maju terutama Paris. Kali ini, lelaki itu sedang mengirim stok makanan untuk beberapa pejabat, dan juga orang kaya yang ada di Paris. Kebetulan saja Hunt ingin memesan beberapa bahan makanan. "Apa kau sudah mendapatkan yang aku mau?" tanya Hunt. "Tentu saja, ini pesananmu, Tuan Grif." "Berhenti memanggilku Tuan, Hampton!" "Maaf, Grif. Sudah menjadi kebiasaanku. Hahahaha." "Apa ada bahan makanan yang menarik?" "Kau bisa memilih sendiri didalam sana," ujar Hampton sembari menunjuk kearah mobil box besar diseberang jalan. Mereka sedang berada disebuah restoran  ditengah kota Paris. Hunt menyeringai melihat seseorang melambaikan tangan dari jendela restoran. "Apa kau mengenal gadis itu, Grif?" tanya Hampton. "Wanitaku," jawab Hunt singkat. Lelaki itu menatap tajam pada seseorang yang ada dibelakang Paula. Ya, Hunt memberi isyarat pada Larry untuk segera membawa Paula pergi. Pasalnya, mereka tengah menjadi sasaran empuk musuh yang mengincar Hunt. "b*****t!" umpat Hunt. "Ada apa?" tanya Hampton heran. "Aku pergi dulu," ujar Hunt yang akhirnya beranjak dari sana. Hunt berlari menghampiri Paula. Sebuah sensor merah tengah berada di d**a bagian kiri Paula. Hunt yang melihat sensor itu segera mungkin melindungi gadis itu. DOR JLEB "ARGH!" BUUGH Hunt jatuh tepat didepan Paula karena tembakan entah dari mana. Paula yang melihat kejadian itu berteriak panik. Gadis itu meraih tubuh Hunt yang tak sadarkan diri. "Hunt, bangun! HUNT!" teriak Paula. Larry meraih tubuh Hunt bersama beberapa pengikutnya. Kejadian itu terlalu cepat, karena Hunt tidak memberi isyarat, semua pengikutnya menjadi serba salah. "Apa yang terjadi pada, Hunt? Siapa yang menembaknya?" tanya Paula panik. Kini mereka tengah berada didalam mobil. Paula memeluk tubuh bagian atas Hunt, ia terisak melihat kejadian yang baru saja dilihat. "Hunt, bangunlah!" bisik Paula. Larru yang duduk dibangku depan hanya terkekeh. Sementara Paula yang melihatnya merasa aneh. Bagaimana bisa ia tertawa disaat kakaknya terluka. "Apa yang kau tertawakan?" tanya Paula. "Lelaki itu mempermainkanmu! Kau memang bodoh! Hahahaha," ujar Larry. "Apa? Apa maksudmu?! Aku tidak bodoh!" protes Paula. "Jika kau tak bodoh, saat orang tertembak, seharusnya ia mengeluarkan banyak darah. Apa kau melihat darah keluar dari luka tembak Griffit?" Paula baru saja tersadar dengan hal itu, kepanikan itu membuatnya tidak bisa berpikir secara logika. "Hunt!" seru Paula. Hunt menyeringai, lelaki itu membuka matanya dan mencuri ciuman pada Paula. "K-kau!" Belum sempat melanjutkan perkataannya, Hunt sudah membungkam bibirnya dengan ciuman. Kini mereka saling melumat, bermain di rongga masing-masing, dan saling beetukar saliva. Sementara Larry, dan Reon hanya dapat menelan ludahnya kasar. Mereka memilih melihat jalanan kota Paris daripada hal tidak penting yang berada dibelakangnya. "Ehm, Hunt," bisik Paula. "Hmm? Ada apa? Kau khawatir padaku?" tanya Hunt. "Ya, aku mengkhawatirkanmu." "Kenapa?" "Jika kau mati, siapa yang akan memenuhi keinginanku untuk berbelanja barang-barang branded?" Pernyataan Paula membuat Hunt mendengus kesal. Lelaki itu tak menyangka jawaban Paula akan seperti itu. Sedikit ada rasa kecewa, tetapi ia menepisnya. "Kita kembali ke Sala Silvermine!" ujar Hunt dengan nada kesal. *** Lagi-lagi Paula berulah digudang minuman milik Hunt. Ia kini tengah mencoba minuman dengan label Dalmore 92. Paula tak ingin membuat Hunt murka, ia membawa botol minuman itu kekamarnya. "Salah sendiri meninggalkan aku dirumah ini," gumam Paula. Gadis itu dengan riang berjalan menuju kamarnya. Sialnya, ia bertemu dengan Larry dilorong. Lelaki dengan tatapan yang menggoda membuatnya sedikit salah tingkah. "Harga minuman yang kau bawa kisaran dua koma sembilan milyar. Pilihanmu sangat bagus, aku yakin kakakku tidak akan marah jika kau menghabiskannya lagi. Selamat menikmati Nona Paula," ujar Larry dengan seringaiannya. Lelaki itu melangkah pergi dari hadapan Paula. "Kenapa semua yang ada disini memiliki harga yang gila?" gerutu Paula sembari melangkah masuk kedalam kamar. Gadis itu membuka botol minuman ditangannya. Dituangkannya pada gelas sloki, lalu dengan sekali tegukan minuman itu masuk kedalam rongga mulut Paula. "Akh, enak. Kenapa minumannya selalu terasa manis, dan membuat pusing," gumamnya. Hampir setengah botol minuman itu telah ia habiskan. Kini kepalanya terasa berputar, perutnya punterasa mual, dan Paula ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya. "Hoek ... hoek." Paula mengeluarkan minuman yang ia minum. Gadis itu kini merasa tubuhnya melemah. Pandangannya pun mulai kabur, ia seperti melihat seseorang mendekatinya. Namun, matanya tertutup terlebih dahulu sebelum ia mengetahui siapa yang masuk kedalam kamarnya. "Dasar rubah kecil! Kau masih suka mencuri minumanku ternyata," gumam Hunt. Ia menggendong tubuh Paula untuk direbahkan diatas ranjang. Hunt memanggil asisten rumah untuk membersihkan kamar Paula. "Grif, Xander ingin bertemu denganmu!" ujar Reon. "Baiklah, suruh ia menunggu diruang kerjaku!" Reon kembali menuju ruang tamu untuk menjemput Xander. Setelah itu, Xander duduk disofa ruang kerja Hunt. Lelaki itu membawa amplop berwarna cokelat. Entah apa isi dari amplop itu, tetapi benda itu membuat Reon penasaran. "Bagaimana?" tanya Hunt yang baru saja masuk. "Ini!" ucap Xander sembari memberikan amplop pada Hunt. "Siapa mereka?" "Hanya sekumpulan berandalan. Mereka diperintahkan untuk menembak mati dirimu saat itu. Pengikutmu ada yang memberontak, ialah dalang penembakan di Paris," jelas Xander. "Temukan, lalu habisi! Janganembuatku turun tangan!" ujar Hunt yang terlihat kesal. "Baiklah!" Xander beranjak dari tempatnya, lelaki itu terlihat kelelahan karena beberapa hari ini Presiden mengerahkan banyak orangnya untuk menggeledah setiap tempat di seluruh benua Amerika dan Rusia. "Tunggu!" ucap Hunt sebelum Xander keluar dari ruang kerja lelaki itu. "Ada apa lagi?" "Tidurlah dulu dikamarmu! Jangan memaksakan diri, lagipula kau dapat dengan mudah menemukan pemberontak itu," ujar Hunt. "Baiklah, aku akan kekamarku." Xander menuju lift untuk turun satu lantai, ia akan menuju kamarnya. Sebuah kamar yang memiliki warna dominan merah bata, dan hitam. Disana terdapat banyak sekali koleksi senjata milik Xander. Senjata itu ia koleksi dari pertama kali memegang sebuah alat untuk melindungi dirinya. Semua ia dapatkan dari Hunt yang selalu mensuplay beberapa barang canggih dan sudah dimodifikasi. Xander melihat sebuah kotak kayu di atas  meja. Seringaiannya terlihat jelas, kotak itu berhasil mengambil perhatian Xander. Lelaki itu mendekati kotak kayu yang terlihat tak asing. Sebuah senjata Glock 20 dengan sedikit modifikasi pada desain warna dan juga isi pelurunya. Senjata itu mampu menembak dengan kecepatan 1600 kaki per detik. "Hahaha, dasar!" celetuk Xander. Lelaki itu meletakkan senjata yang ada dibalik jasnya disebuah lemari kaca. Ia menggantikan senjata itu dengan yang baru saja didapat dari Hunt. Tentu saja, siapa lagi yang akan memberikan senjata dengan harga fantastis jika bukan Hunt. "Kau menyukainya?" tanya Hunt yang berdiri pada pintu kamar. "Terima kasih, Grif! Kau selalu memberiku kejutan," ujar Xander. "Kau pasti tahu harga senjata itu, jangan kecewakan aku saat kau menggunakan senjata barumu!" "Tentu saja! Hidup dan matiku hanya untuk Camorra, mana mungkin aku tega mengecewakan keluarga yang sudah memberikanku kehidupan baru yang sangat mengesankan," ujar Xander dengan seringaiannya. "Baguslah, aku akan pergi. Sebaiknya kau beristirahat saja dulu." Selepas kepergian Hunt, Xander merebahkan tubuhnya, lalu memejamkan matanya. *** Hunt membelai surai panjang Paula. Gadis itu masih setia memwjamkan matanya. Hingga saat ini ia belum juga membuka matanya. "Dasar rubah kecil! Kau membuatku ingin menyerangmu saat ini juga," gumam Hunt. Hunt harus pergi menuju Rusia hari ini, lelaki itu akan meninggalkan Paula selama tiga hari. Sebelum pergi, Hunt mengecup kening Paula, lalu beranjak dari tempatnya. "Kau akan pergi lagi?" tanya Larry yang kebetulan bertemu dengan Hunt. "Ya." "Apa aku boleh ikut?" "Tidak!" "Ayolah, Kak! Aku bosan di Sala Silvermine." "Misimu menjaga wanitaku! Melangkah satu jengkal saja kepalamu akan hancur!" Larry berdecak kesal, ia kini memilih untuk masuk kedalam kamarnya, dan merenungi sikapnya beberapa waktu lalu, yang membuatnya harus menerima hukuman. "Argh! Sial!" teriak Larry. PRANG ... BRAK! Larry yang mengamuk membuang semua barangnya. Hingga kamar itu hancur berantakan. Lelaki itu memanggil asisten rumah untuk membersihkannya. Sementara dirinya berjalan menuju kolam renang indoor yang berada di bagian selatan Sala Silvermine. "Tuan, ada telepon dari Chicago. Mereka mengetakan bahwa produk yang kita kirim rusak, dan mereka meminta ganti rugi," ujar seorang pengikut. "Bodoh! Bagaimana bisa barangnya rusak! Jelas-jelas kita memeriksanya terlebih dahulu sebelum dikirim," celoteh Larry. "M-maaf, Tuan. Sepertinya seseorang sedang mengincar kita." "Apa? Siapa?" "Entahlah, Tuan. Hanya saja mereka menginginkan sesuatu yang mahal dan juga sedikit unik," jelas pengikut itu. "Bodoh! Mereka ingin memerasku." "Apa perlu kami mendatangkan Shaw?" "Tidak perlu. Shaw adalah senjata terakhir. Jangan sampai Hunt mengetahui hal ini, atau kita semua akan mati oleh shotgun miliknya." Pengikut itu menelan ludahnya kasar, ija hanya menunduk, dan pergi dari sana. Sementara Larry melanjutkan kegiatannya untuk berenang. "Ternyata kau masih berada disini. Apa kau sedang dihukum?" tanya Xander yang kini hanya mengenakan handuk menutup bagian bawahnya. "Menyebalkan! Cari tempat lain jika ingin berbuat m***m!" "Hahahaha, dasar kau ini! Kau bisa ikut bergabung jika mau, lagipula wanita ini sangat mahir," jelas Xander sembari mengeratkan pelukannya pada wanita yang bersamanya. "Haaahh, aku sedang tidak berselera. Mainlah sendiri, aku akan pergi dari sini!" Larry keluar dari kolam laku mengambil handuknya. Lelaki itu kini berjalan keluar dari  ruang kolam renang. "Cih, kenapa semua orang sangat menyebalkan hari ini," gumam Larry. Sampai dikamarnya, ia melihat semua sudah rapi dan bersih. Tidak ada pecahan kaca maupun barang berserakan. Asisten rumah disana sudah terlatih, dan sangat mengenal setiap kamar tidur. Didalam walk in closet milik Larry, terlihat ada seorang wanita dengan pakaian maid sedang merapikan pakaiannya. Larry memeluk tubuh wanita itu dari belakang dan mengecup lehernya. "Ahh, Tuan," desah wanita itu. "Henna, kau terlihat seksi hari ini. Aku sangat merindukanmu, sayang," ujar Larry menggoda. "Sayangnya aku tidak, Tuan Larry. Maaf saya sedang bekerja," protes Henna. "Kau berani menolakku, Henna!" "Tuan, ingat terakhir kali kita melakukannya? Kau hampir saja mati karena tembakan shotgun milik Tuan Griffit. Lalu, sekarang kau ingin mengulanginya?" tanya Henna. "Hahaha, tenang saja, Sayang. Griffit sednag ke Rusia. Kita bisa bermain sepuasnya jika kau mau," ujar Larry sekali lagi. "Tidak, apa kau tak tahu jika Griffit meletakkan banyak CCTV didalam Sala Silvermine?" "Aku tahu, tetapi aku tidak peduli." Larry melancarkan aksinya dengan memaksa Henna melepaskan pakaiannya. Mereka masih didalam walk in closet, ruangan itu terbebas dari CCTV milik Hunt. Tentu saja hal itu membuat Larry dengan bebas b********h bersama Henna. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD