- 15 -

1937 Words
“Kan sekalian lo nunggu jemputan suami tercinta, dari pada nanti lo kelamaan nunggu, ujung ujungnya malah nelponin laki lo, terus di omelin karena lama banget nyampenya. Mending sekalian sambil kerja dong.” Devon menyahut dengan santai, menjelaskan soal sikapku biasanya yang memang begitu. Tapi gak usah di sebutin juga dong, kan malu ngomong gitu di depan Rendi. Keliatan banget rumah tanggaku tidak harmonis. Aku rasanya ingin menyumpal mulut Devon saat ini juga. “Sok tau! Gue gak di jemput Alex kok.” Aku menyahut cepat, karena tak mau sampai Devon melanjutkan ucapannya lagi yang hiperbolis, dan membuatku kembali menjadi antagonis jika berhadapan dengan Alex. Memang selalu begitu, sampai aku bosan sekali rasanya. “Mau maen lo ya, sama temen temen lo yang berisik itu?” tebak Devon, yang nyaris tau seluruh kegiatanku. Aku sampai heran kenapa cowok ini bisa menghafal sampai segitunya, mungkin jika aku belum menikah, aku akan berpikir bahwa Devon menyukaiku. “Iya, nunggu Chaca jemput nih. Gue bilangin lo ke orangnya, kalo dia dikatain berisik sama lo!” ancamku saat mengingat Chaca yang setiap menjemput akan naik ke atas sini. Kebetulan kantorku ini memang fleksibel dan cukup bebas, sehingga orang luar juga boleh masuk. Bahkan di ruanganku pun ada sofa yang membentang, membuat si penjemput bisa masuk ke dalam dan menunggu di sana kalau kalau yang di jemputnya masih bekerja. “Chaca mau ke sini, Ra?” Suara Rendi membuatku mendengus pelan, lalu menoleh sebentar ke cowok itu. Aku hanya mengangguk sambil berkata, “Iya.” Aku tak mengatakan apa pun lagi, seolah enggan untuk memberikan informasi lebih lanjut pada Rendi, atau aku memang enggan untuk banyak bicara dengan cowok itu. “Duh, reunian nanti lo bertiga di sini. Makin berisik deh,” kata Devon lagi yang tak lelah memberikan komentar, dengan tangan yang padahal tampak sibuk dengan pekerjaannya. Devon ini memang senang sekali ikut ikutan orang kalo lagi ngomong, nimbrung terus. Aku yakin, pasti pacarnya langsung ilfil karena saat berkumpul dengan teman temannya, Devon malah bisa mengikuti gosip cewek cewek. Kalo tidak percaya, coba sekarang tanya ke Devon, kemana kali terakhir Ayu Ting Ting pergi liburan? Pasti Devon tau! Atau siapa mantan terakhir awkarin, pasti Devon hafal! Devon benar benar banyak mengikuti kabar kabar seputar artis dan selebgram tanah air yang menurutku yaampun itu kan gak penting. Apa lagi Devon tuh cowok! Kok ya bisa ngikutin gosip semacam itu. Asli, aku sungguh tidak paham dengan jalan pikiran Devon. “Dia gak tau gue kerja bareng lo,” kata Rendi lagi yang sepertinya ingin mengobrol atau membuka percakapan. Tapi aku yang malas menanggapi, jelas hanya menyahut. “Ohh.” Sahutanku sukses memancing Devon untuk menoleh. Sialan, cowok ini peka banget kalo urusan sikapku yang mulai aneh. Matanya memicing, seolah berusaha membaca gerak geriku yang tampak aneh saat bersama Rendi. Maka, tak mau menjadi sasaran Devon dalam bergosip dan disebarkan berita yang tidak tidak, maka aku pun segera menyahut lagi. “Tapi Chaca tau kan lo udah di Jakarta? Kok dia gak cerita apa apa sama gue,” ucapku berusaha untuk menunjukan bahwa aku dan Rendi memang benar benar teman semasa kuliah yang berasal dari satu lingkup pergaulan. “Chaca yang jemput gue di bandara.” Rendi menyahut lagi, seolah menikmati obrolan sore ini. Padahal aku muak sekali. Aku tidak mau mengobrol dengannya seperti ini, bagaimana bisa setiap harinya aku harus menjalani hari hari seperti ini? “Temen lo si Chaca itu tukang jemput apa gimana sih? Rajin amat mau jemput jemput.” Devon kembali berkomentar, membuatku lebih memilih untuk mengalihkan perhatian kepadanya alih alih pada Rendi sebelumnya. “Baik dia tuh, gak kayak lo! Durhaka mulu kalo sama temen. Liat nih, sama gue aja durhaka, ngasih kerjaan segini banyak padahal udah jam pulang.” Aku berusaha mengoceh lagi pada Devon, untuk mengalihkan pembicaraanku dengan Rendi tadi, agar cowok itu tak lagi menimpali sebab aku enggan untuk menyahutinya. Lagi pula, Rendi nih gak sadar atau gimana. Aku sudah jawab sesingkat singkat itu, apa yang membuatnya berpikir aku mau mengobrol lebih panjang lagi dengannya? Seharusnya sudah, dia diam saja, nikmati pekerjaannya dan tidak perlu membuka percakapan apa pun denganku. Biarkan kita seperti dua orang yang tidak saling melihat sama sekali. Bukan kah memang sebelumnya begitu? Dari mulai kejadian itu, bahkan saat ajang pertemuan kami pun tak pernah berisi percakapan. Hanya berkumpul bersama tanpa saling membuka percakapan apa pun, meski hanya sebatas menanyakan kabar. Karena itu lah, aku muak sekali rasanya melihat sikap Rendi saat ini seolah ingin menyatakan diri bahwa kami baik baik saja. Tidak kah ia sadar bahwa aku masih tidak baik baik saja, terlebih saat mendengar masalah pacarnya tadi. Aku nyaris tertawa keras, pacaran belasan tahun, maksudnya Rendi di perbudak belasan tahun gitu? Aku sungguh ingin menyemburkan tawaku dengan keras saat membahas hal tadi. Rendi yang dengan bangga memajang fotonya bersama Nadin, kaka Azril yang merupakan teman kami juga, justru berbanding tebalik dengan Nadin yang tidak memajang foto Rendi sama sekali di sosial media. Bahkan aku saja yang meski kesal dengan Alex, tetap memajang foto Alex di sosial mediaku, tetap memposting foto pernikahan kami. Nadin ini bersikap seolah olah mencintai Rendi, tapi lebih banyak sikapnya yang menunjukkan bahwa ia tak pernah menganggap Rendi. Aku heran mengapa mereka bisa bertahan sampai belasan tahun, padahal tak jarang Nadin mengkhianati Rendi. Dari dulu, mungkin hingga saat ini. Mengingat hal tersebut seolah membuat dadaku kembali sesak. Nadin. Salah satu alasan mengapa kejadian tempo dulu pernah terjadi. Jika bukan karena Nadin, mungkin suasana canggung antara aku dan Rendi tidak akan pernah ada. Jika bukan karena Nadin, aku tidak harus mendengar kalimat kalimat menyakitkan yang meluncur dari mulut Rendi. Yang membuatku hancur seketika detik itu juga, rasa sesak yang tak pernah bisa aku lupakan, malam itu .. bagaikan sebuah kenangan buruk yang terus melekat dalam kepalaku. Jadi, mana bisa aku bersikap biasa saja pada Rendi? Apakah Rendi lupa apa yang pernah ia lakukan terhadapku dulu? Haruskah aku mengingatkannya kembali? Siapa tau ia bisa segera resign dari kantor ini dan aku bisa kembali bekerja dengan perasaan nyaman. “Tuh, tuh, temen lo udah dateng. Cepet rapihin deh itu.” Devon menunjuk ke luar ruangan, yang memang seluruh ruangan di sini menggunakan kaca tembus pandang, jadi yang melintas di luar bisa terlihat. Maka Devon dapat melihat sosok Chaca yang tengah berjalan untuk memasuki ruangan ini. Aku hanya terkekeh geli mendengar suara Devon. Chaca ini ibarat Alex, yang mengenal seluruh temanku. Benar, Alex memang mengenal nyaris seluruh teman temanku, bukan hanya sekadar tahu, tapi saling mengenal. Aku juga tidak mengerti mengapa lelaki itu mudah sekali bergaul hingga akrab dengan teman temanku. Padahal, aku saja sulit untuk masuk ke dalam pergaulannya, membuatku tidak terlalu mengenal teman teman Alex. Satu satunya teman Alex yang cukup akrab denganku ya Sesil, yang memang merupakan teman kita berdua jauh sebelum kita saling mengenal. Sesil adalah teman SMA ku, sedang bagi Alex, Sesil adalah teman mainnya. Mereka sering berukumpul bersama meski tidak pernah satu jenjang masa pendidikan. Hal itu juga yang membuatku dapat bertemu Alex di acara ulang tahun Sesil saat itu. Hingga tragedy motor Sandi yang mogok, dan mobil Alex tak sengaja melintas. Hari hari berikutnya, silahkan tebak saja. Aku juga malas menceritakannya karena tidak berkesan berkesan amat. Yang aku tahu, akhirnya kami pacaran, lalu menikah. Selesai. Perlu penjelasan panjang macam apa lagi, bukan kah yang perlu orang tau hanya bagian manisnya saja? Meski sudah banyak yang tahu sih, bahwa hubunganku dengan Alex tidak manis manis amat juga. Chaca sudah semakin dekat, cewek itu pun menodorong pintu kaca menuju ruangannya. Wajahnya tampak berseri untuk menyapa orang orang di ruanganku ini, seperti biasa yang memang ia lakukan setiap kali datang. Bahkan rasanya seluruh karyawan kantor ini bisa mengenal Chaca karena tergolong sering main ke sini. “Halooo, udah lama nih gue gak mampir, kalian apa kabar?” tanya Chaca dengan ceria pada orang orang yang ada di ruanganku. Lalu matanya seketika melotot, saat menangkap sosok yang ia kenal duduk di salah satu bangku yang ada di ruangan ini. Sesuai dengan ucapan Rendi tadi, ekspresi Chaca sungguh menjelaskan bahwa ia tidak mengetahui Rendi bekerja di kantor yang sama dengannya. “Anjing! Kok ada Rendi?” “Heh! Di kantor orang ngomong kasar!” Devon seketika mengomel mendengar Chaca yang mengumpat dengan berbicara kasar. Chaca segera nyengir ke arah Devon, lalu ia memilih untuk menghampiri meja Rendi alih alih menghampiriku yang menjadi alasannya ke tempat ini. “Ren? Kok lo di sini? Lo kerja di sini maksudnya? Sama Tiara? Kok bisa? Lo gak bilang bilang gue lagi!” Chaca mengoceh dengan hebohnya, menginterigasi Rendi dengan serentet pertanyaan yang bahka tidak bisa di tunda satu persatu, dan di ajukan seluruhnya. Rendi hanya tertawa pelan, tampak menikmati keterkejutan Chaca yang melihat keberadaannya di tempat ini. Bisa bisanya dia tertawa seperti ini, yang berarti dia memang menyukai keterkejutan Chaca yang sudah jelas terkejut karena Rendi satu kantor denganku! Denganku! Chaca jelas khatam perseteruan antara aku dan Rendi yang berlangsung bertahun tahun tanpa menemukan titik temu. “Kenapa harus bilang bilang lo, Ca? Eh, jangan jangan lo pacarnya Rendi ya?” Fitri yang bingung dengan ucapan Chaca justru menebak bahwa Rendi adalah pacarnya. Terlebih saat tadi Rendi mengatakan, yang menjemput dirinya dari Bandara adalah Chaca. Chaca menoleh pada Fitri yang duduk di sebelah Rendi. “Gitu sih pengennya, tapi gue sama Rendi terjebak friendzone. Uh suckit banget.” Chaca bergaya dramatis, seolah ucapannya barusan memang menyakitkan baginya, dengan gaya di buat buat serta ekspresi yang mendukung. Tapi semuanya jelas tau bahwa Chaca hanya sekadar bercanda. Dan tidak percaya juga jika pacar Rendi adalah Chaca. Apalagi terlihat dari sikap Chaca ke Rendi yang cukup bar bar, jadi gak mungkin lah mereka pacaran. “Kenapa lo gak bilang bilang gue?” Chaca kembali mencecar Rendi dengan pertanyaan awalny, karena merasa Rendi tidak memberitahunya berita sepenting ini. Padahal aku yakin, Rendi dan Chaca pun saling berinteraksi, tapi bisa bisanya Rendi tidak bercerita pada Chaca. Padahal Rendi pasti tau, meski kemarin kemarin aku tidak masuk, ia bisa melihat foto di mejaku bahwa aku adalah Tiara yang memang di kenalnya. Belum sempat Rendi menjawab ucapan Chaca, cewek itu kini mengalihkan tatapan ke arahku. “Lo juga, Ra! Kok gak cerita sama gue?” Chaca menuntut penjelasan kepadaku. Padahal kan aku juga baru tahu pagi ini, sengaja ku suruh Chaca menjemput sekalian, biar dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa kejutan ini sangat mengejutkan. Rendi bekerja di kantorku, satu ruangan, duduk di hadapanku pula. Seolah serba kebetulan, yang sangat tidak menyenangkan. Aku sama sekali tidak senang dalam hal ini. Justru merutuki berkali kali. “Gue juga kaget, baru tau tadi pagi.” Aku menyahut santai, mengatakan apa adanya pada Chaca, juga agar Rendi mendengarnya bahwa aku memang sangat terkejut melihatnya lagi setelah bertahun tahun ia mengungsi ke luar kota demi mengejar cintanya itu. “Gue nganter oleh oleh juga semalem lo gak ngomong! Sialan lo, Ren! Gue merasa di khianati.” Chaca kembali mengeluh pada Rendi. “Sorry, Cha. Gue mikirnya nanti juga Tiara bakal cerita. Pasti abis ini lo langsung bacot juga kan di grup.” Rendi menyahuti Chaca dengan sedikit cengiran, merasa bersalah karena tidak memberitahu Chaca. “Iya lah! Ini berita besar namanya! Gue bakal kasih tau Lila dulu.” “Lila gak bakal seheboh lo deh, Cha.” Rendi berkomentar lagi, mengingat salah satu temanku yang memang memiliki kepribadian berkebalikan dari Chaca yang heboh dan gemar berbicara. Lila justru memiliki sifat yang dingin, cuek, dan galak. “Paling temen lo itu Cuma bilang ‘Oh gitu’, gue aja yang gak sesirkel sama genk aneh lo ini bisa nebak!” Devon ikut bersuara, berkomentar dengan lancar perihal respon Lila yang lagi lagi memang dikenalnya. Devon sering sekali menjadi korban kesinisan Lila, makanya ia seperti dendam sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD