Akhirnya nada suara Tiara sudah lebih tenang, tidak dingin seperti tadi. Kemungkinan moodnya sudah mulai membaik dari kejadian tadi, aku mengembuskan napas pertanda lega karena hal itu. Meski ajang marah Tiara sering berlangsung, tapi ia tak pernah marah terlalu lama dan selalu kembali seperti sedia kala. Hal itu juga yang membuatku harus menghargai privasinya, saat ia sedang marah, maka biarkanlah saja terlebih dahulu, dan jangan memaksa untuk minta maaf. Hanya terus ikuti saja apa keinginannya, lambat laun ia juga akan bersikap seperti biasa lagi.
Lalu kami pun menikmati makan siang ini dengan beberapa obrolan santai lainnya, dengan sebisa mungkin aku tak membuat emosi Tiara kembali tersulut dengan berkata hal hal yang tidak di sukainya. Aku berusaha bertanya tentang liburannya kemarin bersama teman temannya itu, dan menanyakan juga respon orang orang di kantornya yang mengetahui bahwa Tiara izin sakit pada atasannya.
Meski aku terkekeh geli dengan alasan itu, mungkin aku harus mulai curiga jika ada karyawan di kantorku yang izin sakit sampai berhari hari, dan harus memeriksa surat dokternya juga dengan teliti. Bisa jadi mereka seperti Tiara, yang bahkan terang terangan mencetak surat dokter di kantornya saat keadaan ruangan sedang sepi. Parahnya lagi, yang memberikan surat dokter tersebut justru atasannya sendiri, yang memang cukup akrab dengan Tiara. Aku juga mengenalnya, Devon namanya. Aku bersyukur Tiara mendapat perlakuan baik dari atasannya karena memang cukup akrab itu, pantas saja ia betah di kantornya, dan enggan saat aku menawarkan untuk bekerja di kantor Papa.
Aku dapat memahaminya jika Tiara memang tidak mau bekerja di sana, meski sebenarnya perusahaan kami juga membutuhkan kompetensi yang Tiara miliki di bidangnya itu. Jelas bukan karena gaji, bahkan Papa rela memberikan gaji yang lebih besar dan bertanya pada Tiara saat ini gajinya berapa. Tapi aku dapat melihatnya betapa Tiara tidak nyaman dengan hal itu, dan memilih untuk tetap bekerja di tempatnya yang sekarang. Terlepas dari gajinya, lingkungan kerjanya juga mendukung. Tiara tampak menikmati pekerjaannya, serta suasana di kantornya itu.
Tak jarang aku melihat i********: story milik Tiara, yang menampilkan kegiatan di kantornya itu. Tiara sering merekam aktivitas atau pun bercandaannya di story, karena menurutnya hal tersebut memang seru. Aku termasuk yang cukup terhibur dengan kegiatan Tiara dan teman teman kantornya itu. Mungkin di luar sana juga banyak yang merasa terhibur dengan konten yang Tiara hadirkan setiap harinya. Bahkan Tiara juga sering seru seruan memakai filter aneh, atau pun membuat t****k dengan teman teman kantornya yang tampak seru itu.
Jadi, tidak heran jika Tiara masih merasa nyaman di sana dan enggan untuk pindah ke perusahaan keluargaku. Papa juga tak lagi memaksa saat Tiara menolaknya, karena menghargai keputusan Tiara. Aku sendiri juga tidak mendesaknya sama sekali, dan hanya menyampaikan pesan Papa saja. Mungkin Tiara juga tidak nyaman jika bekerja di kantor milik Papa yang mana ada aku dan kakak kakak ku juga.
Sepuluh menit sebelum jam masuk kantor Tiara, kami pun bergegas menyelesaikan makan siang ini. Lalu kami pergi meninggalkan restoran tersebut untuk kembali ke kantor masing masing. Sesuai dengan permintaan Tiara, ia enggan di antar sampai kantornya, kebetulan mobilku juga terparkir di gedung lainnya, sehingga aku memilih untuk berjalan ke sana saja alih alih mengantar Tiara terlebih dahulu.
Kami pun berpisah, untuk melanjutkan aktivitas masing masing. Aku segera berjalan menuju tempat mobilku terparkir. Selama perjalanan yang memang aku lalui dengan berjalan kaki karena tidak terlalu jauh, dapat ku lihat lalu lalang para karyawan lain yang juga menuju ke gedung tempat kerjanya masing masing karena jam istirahat yang sudah manu habis.
Begini lah aktivitas kami setiap harinya meski sudah menikah, tetap menjadi warga ibu kota dengan segala kesibukannya, dan berusaha menyempatkan pertemuan pertemuan di tengah kepadatan jadwal satu sama lain. Meski setiap hari kami juga bertemu di rumah, tentu saja. Namun, pertemuan di luar, dengan menyempatkan jadwal satu sama lain ini terasa begitu manis. Aku selalu menyukainya.
Entah bagaimana nanti saat kami memiliki anak, aku dan Tiara bahkan belum berdiskusi tentang masalah pengasuh dan lain lain. Kami hanya menjalani rumah tangga ini mengikuti arus saja, tidak terlalu memaksa atau pun memiliki perencanaan yang tajam dan panjang juga.
* * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *
= = = = = Tiara = = = = =
Waktu sudah menunjukan pukul lima sore, yang tandanya sudah memasuki jam pulang kerja. Nisa, karyawan termuda kami yang masih sangat fresh, sudah terlihat menyemprotkan parfum ke pakaian yang digunakannya. Bahkan cewek itu juga sudah touch up hingga wajahnya tampak segar sekali. Entah apa yang akan di lakukan Nisa sepulang kerja, mungkin akan berkencan dengan salah satu gebetannya. Atau mungkin memang itu sih yang biasa di lakukan cewek cewek seusia Nisa yang memang masih bersemangat dalam melakukan hal apa pun. Sepertinya aku juga dulu begitu, meski tidak ada orang yang akan aku temui sepulang kerja, pasti tak pernah absen mengoleskan lipstik di bibirku.
Aku lihat Devon masih fokus dengan pekerjaannya yang memang tidak akan habis juga meski di kerjakan sampai malam. Aku juga tidak berniat lembur untuk menyelesaikan pekerjaan, kadang Devon emang kerajinan, padahal bisa dikerjain besok, tapi suka dipaksakan selesai hari ini juga. Dan lucunya, meski statusnya sudah menjadi asisten manajer yang berarti dia bisa menekan aku atau pun Nisa untuk menyelesaikan pekerjaan, cowok itu justru lebih sering mengerjakannya sendiri dan membiarkan aku dan Nisa pulang terlebih dahulu. Devon memang atasan terbaik sepanjang masa.
Aku juga memperhatikan Fitri yang baru memasuki ruangan, baru kelar meeting sore dengan divisi finance. Wanita itu tampak membawa banyak outner dan berkas berkas lainnya, tampak kerepotan dan belum ada tanda tanda akan pulang. Aku tidak mengerti dengan Fitri dan Devon yang hobi sekali lembur, tapi karena aku menunggu jemputan Chaca, aku jadi belum beranjak dari meja kerjaku meski sudah tak ada yang mau aku kerjakan. Kan aku jadi merasa bersalah menonton mereka bekerja keras.
Rendi sendiri belum ada tanda tanda akan pulang, entah kerjaannya benar benar banyak, atau gak enak mau pulang duluan karena masih baru. Entahlah, aku juga tidak peduli dan tidak mau memusingkan masalah itu. Meski berikutnya aku kembali mendengus karena masih kesal bahwa hari pertama aku masuk kembali setelah liburan, justru malah mengetahui fakta bahwa Rendi adalah marketing baru di kantorku. Kalo begini kan aku jadi merasa gak betah, karena serasa di rantai oleh kehadiran Rendi yang masih membuat perasaanku menjadi tidak baik.
Atau aku harus mulai mempertimbangkan untuk pindah ke perusahan Papa? Maksudku, Papa Alex. Kemarin kemarin aku sempat menolak karena merasa tidak butuh, sepertinya ini timing yang tepat, sebab aku mulai jenuh di sini. Bukan, aku mulai muak melihat Rendi padahal baru satu hari. Sebut saja aku berlebihan untuk saat ini, tapi hey siapa yang tahan harus melihat seseorang dari masal lalu kalian, yang pernah menorehkan luka yang cukup dalam, tiba tiba muncul dan harus duduk di hadapanmu.
Literally di hadapan mu! Setiap hari! Dan akan terus seperti itu, hanya akan berhenti jika aku atau pun Rendi resign. Jika kami tetap bertahan di sini, berarti seumur hidup aku akan melihat Rendi sedekat ini. Jelas ini tidak bagus untuk hatiku yang masih sakit setiap kali teringat kejadian itu. Betapa aku masih belum bisa melupakan, memaafkan, atau pun menerima. Setiap detailnya seolah aku bisa mengingat semuanya. Ekspresi Rendi, serta setiap kata yang pernah terucap dari mulutnya, yang mana setiap suara yang di keluarkannya sukses menorehkan rasa sakit yang tak kunjung reda.
“Lo udah matiin komputer kok belom pulang, Ra? Mending nyalain lagi tuh komputer,” kata Devon saat melirik ke meja ku dan melihat layar komputerku yang sudah gelap, tapi aku sudah menyandarkan punggung ke kursi seraya memainkan ponsel dan tidak ada tanda tanda akan melanjutkan kerja.
“Gak, udah jam pulang. Gak dibayar lembut sih kalo telat pulang beberapa menit doang.” Aku menyahut dengan santai tanpa menoleh ke arah Devon, masih sibuk memainkan ponselku, untuk meneror Chaca yang katanya sudah jalan sejak lima belas menit yang lalu. Beruntung jam kerja Chaca memang pulang jam setengah lima, jadi ia bisa menjemputku tanpa menunggu terlalu lama.
Devon meletakan sebuah outner yang berisikan setumpuk kertas yang ada di dalamnya ke mejaku. Tanpa peduli dengan ucapanku sebelumnya, lelaki itu tetap memberiku pekerjaan padahal sudah jam pulang.
“Urutin sesuai nomor PIB, sambil nunggu jemputan kan lo?” perintah Devon seperti biasanya, lalu tanpa rasa bersalah lelaki itu kembali fokus dengan pekerjaannya.
Aku mendengus sebal menatap tumpukan kertas itu, dan berniat untuk memprotes pekerjaan yang di berikan Devon. Padahal tadi Devon mengijinkan Nisa pulang lebih dulu, tanpa di tahan atau di beri pekerjaan tambahan. Bukan kah ini yang di namakan ketidak adilan bagi seluruh bangsa di Indoensia? Devon memang keterlaluan, pilih kasih sama yang lebih muda!
“Ini kan bisa dikerjain besok, gak urgent juga, gak akan timbul biaya kalo gak dikerjain hari ini Pak Devon!” protesku gemas, meski tak ayal tanganku tetap bekerja untuk merapikan kertas kertas tersebut.