“Beli motor lagi dong, San. Malu banget ih udah kerja motornya butut.” Tiara meledek temannya itu sembari mengambil barang barangnya dari motor tersebut, untuk ia bawa ke mobilku, sedang motornya akan di taruh di bagasi belakang.
Sedang aku justru terkekeh pelan mendengar ucapan Tiara yang tampak santai meski konteksnya sedang mencemooh, seolah cewek itu memang sering melakukan hal hal seperti itu. Bukan kah menggemaskan, gadis imut ini ternyata memiliki selera humor yang santai saat bersama teman temannya. Aku selalu menyukai interaksi cewek yang tampak santai pada orang lain, apa lagi jika yang melakukan hal itu Tiara, jelas aku sangat menyukainya. Sebut saja saat ini aku sedang di mabuk asmara. Meski agak menjijikan mendengarnya, tapi perasaan yang meletup letup dalam dadaku seolah tak mampu terbendung.
Belakangan akhirnya aku tau, cowok yang di sapa ‘San’ itu rupanya bernama Sandi.
Aku segera membantu Sandi untuk membawa motornya naik ke bagasiku, sementara Tiara sudah melenggang memasuki mobil dan tampak siap untuk segera pulang, tidak peduli Sandi yang mengoceh ngoceh karena Tiara tidak membantu sama sekali, padahal dirinya terjebak motor mogok juga karena menjemput Tiara. Entah sedekat apa hubungan pertemanan mereka sampai Sandi rela menjemput Tiara malam malam begini.
Setelah meletakan motor ke dalam bagasi, aku dan Sandi pun segera memasuki mobil untuk bergerak dari jalanan ini. Tiara sendiri sudah memutuskan untuk duduk di bangku penumpang, sementara Sandi duduk di belakang. Mungkin demi alasan kesopanan juga, sebab yang mengenalku saat ini adalah Tiara, bukan Sandi. Gadis itu tampak tenang dan seolah melupakan bahwa aku baru mengenalnya beberapa jam lalu, bahkan Tiara tanpa ragu mau di antarkan pulang olehku, tanpa menuduh yang bukan bukan.
“Mau anter lo dulu, atau temen lo dulu, Ra?” tanyaku setelah menjalankan mobil, lalu teringat bahwa aku belum mengetahui alamat tujuan yang merupakan rumah dua orang penumpangnya saat ini.
Tiara berpikir sebentar, berusaha menimang jarak yang terdekat antara tempat ini ke rumahnya atau pun rumah Sandi. Aku membiarkannya berpikir sejenak, sementara aku fokus dengan jalanan di depanku yang tampak ramai karena ini merupakan malam minggu.
“Rumah Sandi dulu deh, lebih deket. Abis itu baru ke rumah gue,” jawab Tiara setelah memikirkan hal tersebut.
Aku hanya mengangguk pertanda mengerti, lalu meminta Sandi untuk mengarahkan jalan ke rumahnya.
Sisa malam itu dihabiskan dengan obrolan ringan antara aku, Tiara, dan Sandi. Semesta seolah berkonspirasi agar aku memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan Tiara, tidak sekadar pertemuan di acar ulang tahun Sesil semata. Seolah hal ini membuka jalanku untuk bisa lebih dekat dengan Tiara, aku merasa seolah takdir ini di rancang karena memang aku berjodoh dengan Tiara.
Bahkan malam itu, aku sampai bertukar nomor ponsel dengan Tiara. Bukan kah itu sebuah perkembangan yang luar biasa? Mungkin ini terkesan jahat, tapi aku sungguh bersyukur bahwa malam itu motor milik teman Tiara mogok, sehingga aku memiliki alasan untuk kembali bertemu dengan Tiara dan memulai interaksi ini ke arah yang bisa lebih intens. Bukan sekadar teman Sesil semata.
Setelah malam itu, hari hari berikutnya jelas sudah dapat tertebak. Aku semakin gencar untuk mencari kesempatan agar bisa dekat dengan Tiara, bahkan rasanya, aku seolah menunjukan secara terang terangan bahwa aku memang tertarik pada Tiara. Namun, entah apa yang salah dengan pendekatanku, lambat laun sikap Tiara terhadapku justru tak lagi ramah. Tiara sempat menghindar dan memilih menjauhiku entah karena apa.
Hingga saat aku menyatakan perasaan terhadapnya, tanpa banyak pertimbangan, jelas aku di tolak. Rupanya Tiara belum menyukaiku. Tapi aku terang terangan akau trus dan selalu berusaha agar bisa dekat dengan Tiara. Meski terkesan tidak tahu diri dan tidak tahu malu, aku tetap berusaha maju dan memperjuangkan perasaanku.
Sikap Tiara yang semula ramah pun perlahan lahan mulai kesal, cewek itu enggan menaggapiku karena merasa risih. Namun, aku tetap maju dan berjuang agar bisa bersamanya. Hingga di pernyataan ke sekian, setelah berkali kali di tolak, Tiara akhirnya menerima perasaanku.
“Nanti aku balik ke kantor sendirian aja, kamu langsung balik ke kantor kamu juga gak papa.”
Ucapan Tiara seolah menyadarkanku dari lamunan tentang awal mula pertemuan kami. Aku kembali pada kenyataan bahwa kini status Tiara adalah istri ku. Dan saat ini kami sudah berada di salah satu resto mie yang di pilih oleh Tiara tadi, demi memenuhi keinginannya yang tidak bisa di ganggu gugat karena menginginkan makan siang mie. Aku sudah tidak membantah lagi dan memilih untuk mengikutnya saja, sebab saat aku mengingatkan tadi, Tiara justru malah marah terhadapku. Aku tertawa pelan, memangnya pendapatku penting untuknya? Jelas tidak.
“Oke,” jawabku yang hanya menuruti ucapan Tiara, karena tak mau urusan menjadi panjang hanya karena aku tak menuruti keinginannya. Kemungkinan besar Tiara masih kesal dengan perkara tadi aku melarangnya makan mie. Meski kini aku di perbolehkan makan bersamanya, dan tetap menuruti keinginannya, tak lantas membuat rasa kesalnya hilang begitu saja.
Selang waktu lima belas menit, pesanan kami pun datang. Tiara tampak segera menikmati makanannya tanpa banyak bicara atau membahas apa pun, meski memang biasanya juga Tiara jarang membahas apa apa. Padahal, kadang aku ingin tau tentang kesehariannya di kantor seperti apa. Bagaimana perasaannya hari ini, hal menarik apa saja yang membuat perhatiannya teralihkan, dan berbagai obrolan lainnya. Bahkan, sekadar membahas film atau pembicaraan yang sedang ramai juga ingin sekali aku sampaikan, tapi sepertinya Tiara tidak tertarik untuk membahas semua itu.
“Sayurnya,” kata Tiara seraya mendorong mangkuk berisi makanannya ke dekat mangkuk milikku.
Aku yang paham bahwa Tiara tidak menyukai sayur, dengan cekatan segera mengambil sayur sayur yang ada di mangkuknya untuk di pindahkan ke mangkuk milikku. Tiara tampak menunggu beberapa saat, sembari memastikan bahwa seluru sayur yang ada di sana sudah tak bersisa lagi. Aku juga mengaduk mie milik Tiara, untuk mencari keberadaan sayur yang di khawatirkan masih tersisa. Betapa aku paham bahwa Tiara tidak menyukai sayur sedikit pun, bahkan jika tidak sengaja termakan, mulutnya seolah dengan lancar menyaring hal itu dan bisa di keluarkan lagi dari mulutnya.
“Udah tuh.” Aku memberitahu bahwa mangkuk mie milik Tiara sudah tidak ada sayur lagi.
Tiara mengeceknya sebentar, lalu menarik mangkuknya. “Makasih ya,” katanya yang memang tak pernah lupa untuk berkata terima kasih.
Satu satunya kata yang sulit di ucapkan Tiara adalah kata maaf, sebab ia tak pernah merasa bersalah. Ya memang jika di pikir, aku sih yang terlalu sering salah, aku selalu luput untuk mengerti dirinya. Padahal Tiara sudah mengatakan berkali kali, kadang aku terus melakukan hal hal yang tidak di sukainya karena terlalu excited. Justru aku bersyukur, meski marah beberapa saat, Tiara tetap bertahan bersamaku.
Pertengkaran pertengkaran kecil, atau ajang ngambek Tiara memang tergolong sudah sering terjadi. Aku justru menikmatinya, bukan kah hal itu termasuk ke dalam permasalahan setipa hubungan yang sangat wajar terjadi. Jadi aku tak terlalu mempermasalahkannya, sehingga aku pun akan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dan tidak membuat Tiara kesal.
Namun, nyatanya, hari ini saja Tiara sudah bad mood. Padahal aku senang sekali Tiara mengajak makan siang bersama, yang jarang sekali di lakukan wanita itu. Maka, saat menerima pesannya pada pukul sepuluh tadi, tanpa ragu aku segera melesat ke kawasan Sudirman ini, meski kantor ku sendiri berada di bilangan Jakarta Utara. Dari Utara ke Selatan saja rela ku tempuh demi makan siang bersama istriku tercinta ini, meski setiap hari kami bertemu, rasanya aku selalu ingin bersamanya terus menerus.
Beruntung hari ini memang tidak ada pekerjaan yang terlalu penting, jadwal kerjaku juga tidak terlalu terikat, aku bisa keluar kantor kapan pun asalkan pekerjaan memang sudah selesai. Di tambah hari ini juga tidak ada meeting dengan beberapa klien penting. Maka tanpa ragu aku bisa keluar kantor sebelum jam makan siang yang seharusnya berlangsung pada pukul dua belas. Bayangkan jika aku menunggu jam makan siang, bahkan perjalanan dari PIK ke Sudirman saja tidak cukup. Bisa bisa Tiara keburu mengeluh dan kesal, karena jam istirahatnya yang memang tidak se-fleksibel aku.
“Oiya, Sayang. Nanti pulang kerja aku gak bisa jemput ya. Mau ada meeting bulanan di kantor.” Aku teringat perihal jadwalku sore nanti, yang mana biasanya menjemput Tiara pulang kantor, tapi sore ini akan ada meeting bulanan yang akan berlangsung dan bisa memakan waktu lama, sehingga aku tidak akan keburu untuk menjemput Tiara pulang.
Tiara mengangguk pelan. “Nanti pulang kerja aku mau main ke rumah Chaca ya,” katanya, memberitahu perihal kegiatannya sepulang kerja nanti, yang tidak bisa langsung pulang ke rumah.
Aku jelas mengenal Chaca, sahabat Tiara sejak jaman kuliah. Yang mana masih satu pertemanan juga dengan Sandi. Aku tergolong sering untuk bergabung bersama mereka saat Tiara berkumpul dengan mereka. Beberapa kali bahkan aku ikut berlibur bersama, nyaris semua teman Tiara pasti mengenalku. Mengenal dalam artian cukup dekat, tidak sekadar tahu bahwa aku adalah suami Tiara.
“Oke. Nanti pulangnya aku jemput ya?” tanyaku memastikan, tidak langsung memutuskan akan menjemputnya. Sebab Tiara juga tidak terlalu suka jika aku mengganggu jadwal mainnya karena ingin buru buru menjemput.
“Gak usah deh, paling aku di anter Chaca pulangnya. Kamu langsung pulang aja.” Tiara akhirnya menolak tawaranku, dan memilih untuk minta di antar pulang oleh temannya itu. “Oiya, takut aku pulangnya agak malem, jangan lupa beli makan malam, atau makan malam di luar aja dulu.” Lanjutnya lagi yang membahas perihal makan malamku.
Aku tersenyum menanggapinya. Perhatian perhatian kecil seperti ini seolah membuat dadaku menghangat. Dalam nada yang terkadang sering jutek, Tiara seolah tak pernah absen memberikanku sebentuk perhatian yang mana hanya aku yang bisa menangkapnya. Aku jelas menyukainya, ini lah salah satu alasan mengapa aku sangat mencintai Tiara. Aku rela melakukan apa saja untuk tetap bersamanya.
“Oke, kamu juga jangan lupa makan malem di tempat Chica ya. Atau nanti aku pesenin aja ya, kirim ke rumah Chica?” tawarku lagi.
Tiara tampak berpikir sebentar. “Boleh deh, tapi nanti aja aku infoin maunya apa. Sekarang belum kepikiran.”