- 30 -

1203 Words
Ponsel dari saku celanaku bergetar, menandakan ada pesan masuk. Aku pun mengambil benda tersebut untuk membaca isi pesan. Mataku sedikit membola saat melihat pengirim pesan tersebut.   Nadin : makan siang bareng yuk, aku deket kantor kamu   Aku buru buru mengetikkan balasan pesan tersebut, yang tergolong amat langka.   Rendi : kamu di jakarta? Bukannya kemarin udah pergi lagi?   Nadin : iya, ada urusan lagi. Baru landing semalem.   Nadin : maaf gak sempet ngabarin   Hatiku seketika menghangat membaca pesan tersebut, hingga membuat senyumku tak kuasa untuk terkembang. Sedikit kabar darinya saja mampu membuat perasaanku membaik, setelah bersitegang dengan Tiara tadi.   Rendi : emang kamu tau kantor aku?   Aku bertanya sangsi, sebab aku tidak pernah mengatakan pada Nadin di mana tepatnya aku bekerja saat ini. Pertama, karena Nadin tidak bertanya. Kedua, karena aku pikir hal hal seperti ini tidak penting untuknya.   Nadin : tau lah, aku kan liat update di linked in kamu   Nadin : kamu di mana sekarang? Biar aku samperin   Hal hal seperti ini sungguh membuat hariku mendadak cerah. Aku menyukai setiap kali Nadin muncul dengan hal hal tak terduga, yang ternyata memperhatikanku. Aku bisa memahami ambisi Nadin yang besar, karena itu lah wanita itu sering kali tak sempat untuk membagi waktunya bersamaku. Aku bisa memahami bahwa yang terpenting saat ini adalah karirnya, setelah sebelumnya wanita itu mementingkan pendidikan. Aku akan terus ada bersamanya selagi Nadin berusaha menggapai segala impiannya yang begitu besar, yang pernah diceritakannya padaku dengan antusias dan penuh semangat. Mungkin begini caranya untuk mewujudkan hal tersebut, dengan mengesampingkan masalah hubungan kami, dengan sikapnya yang kerap kali tak acuh.   Rendi : aku di PP   Nadin : ok, aku lagi di BEI, tinggal nyebrang   Rendi : kamu sendirian?   Nadin : ya enggak, sama beberapa partner kerjaku   Nadin : tapi ya mereka gak ikut makan bareng aku, kalo aku mau makan bareng kamu   Rendi : oke, aku tunggu ya   Nadin tak membalas lagi, sepertinya wanita itu sedang menyebrang untuk bisa ke mall yang kini tengah aku datangi untuk mencari makan siang.   Aku memutuskan untuk memilih sebuah restoran untuk makan siang kami. Nadin tidak terlalu pemilih urusan makan, ia bisa mengikuti apa saja yang aku pilih, atau jika memang Nadin sedang ingin makan sesuatu, wanita itu akan mengutarakannya tanpa perlu main tebak tebakan seperti wanita pada umumnya.   Sesampainya di dalam, aku tak sengaja berpapasan dengan teman teman kantorku. Ada Nisa, Fitri, dan Devon yang tengah makan siang di sana.   “Loh, Ren? Kok lo ke sini? Katanya mau makan siang sama Tiara dan temennya?” Tanya Devon bingung.   Jika saja aku tidak akan makan siang dengan Nadin, mungkin aku akan gelagapan untuk menjawab dan berusaha mencari alasan yang tepat untuk menyahuti pertanyaan Devon itu.   “Gak jadi; cewek gue lagi di deket sini, jadi sekalian makan siang bareng.” Sahutku merasa memiliki alasan yang tepat dan tidak akan dipertanyakan, lagi pula Tiara pun berbohong. Dia tidak akan makan bersama Lila, wanita itu hanya mencari alasan agar tidak harus makan siang bersamaku. “Gue duduk di situ ya.” Aku menunjuk sebuah meja yang kosong, untuk aku tempati bersama Nadin.   “Hoo, oke. Cewek lo belom dateng?” Fitri menoleh ke belakangku, seperti penasaran dengan sosok pacarku.   “Iya, lagi jalan. Katanya udah deket sih.”   “Bener ternyata kak, udah gak ada harapan buat Nisa sama Kak Rendi.” Nisa kini berbicara pada Fitri dengan tampang sok imutnya.   Aku terkekeh pelan mendengar ucapannya.   “Dari awal juga emang gak ada, Nis! Lo aja yang gatel.”  Devon membalas ucapan Nisa.   “Ih , om om gak paham sama kegiatan anak muda.” Nisa menyahuti Devon, membahas perihal umur Devon yang sudah kepala tiga.   Devon hanya mendengus dengan ucapan Nisa.   Aku tertawa lagi, sepertinya wibawa Devon memang sudah tidak ada jika memiliki bawahan seperti Nisa atau pun Tiara.   Tak berlama lama di sana, aku segera berjalan menuju meja yang akan aku tempati bersama Nadin. Aku pun menunggu beberapa menit hingga Nadin datang, selagi menunggu aku memesankan makanan terlebih dahulu.   Sekitar lima menit menunggu, Nadin akhirnya datang. Aku tersenyum cerah, saking jarangnya melihat sosok ini berada di dekatku. Aku bahkan melupakan kali terakhir kami ribut akibat perkara kabar mengabari kala itu, segalanya seolah sirna saat aku melihat sosok ini.   “Babe, I miss you.” Nadin duduk di sebelahku, lalu memelukku singkat.   Aku membalas pelukannya, ingin sekali berlama lama dalam menahan tubuh itu di dalam pelukanku, tapi tidak enak karena ini tempat umum.   “I miss you too.” Sahutku.   “Kamu udah pesen makan ya?” tanya Nadin.   Aku mengangguk. “Udah, takut kelamaan juga kan kalo nunggu kamu dateng.”   Aku dapat merasakan tatapan dari meja yang bersisi teman teman kantorku kini melihat ke arah meja kami. Bisa di pastikan, sekembalinya aku nanti ke kantor, pasti pertemuanku dengan Nadin bisa menjadi pembahasan yang hangat.   “Aku tadi liat kamu sama Tiara.” Tanpa basa basi, Nadin mengatakan hal tersebut, hingga membuatku nyaris tersedak minuman yang sedang aku teguk.   Oh, jadi karena itu, Nadin akhirnya mengabari bahwa dia tengah berada di tempat yang sama denganku. Karena ia melihat aku bersama Tiara.   “Kok bisa kamu berdua doang sama dia, Ren? Kalian ada urusan?” Nadin kembali membahas hal tersebut.   Satu fakta yang harus kalian tahu, meski Nadin selalu bersikap tidak peduli terhadapku, tapi ia cukup sensitif dengan Tiara. Nadin jelas tahu tentang Tiara, tentang masa masa kuliahku dulu, atau tentang Azril yang kerap kali membandingkan Nadin tidak lebih baik dari Tiara.   “Aku belom cerita ya?” Aku pun bersuara, sambil mengingat apakah aku pernah menceritakannya pada Nadin atau tidak, perihal aku satu kantor dengan Tiara.   Seorang pelayan datang ke meja kami, untuk mengantarkan makanan yang tadi aku pesan, yang mana sebelumnya baru di antarkan minumannya saja. Aku tersenyum ramah pada pelayan tersebut, sebagai tanda ucapan terima kasih padanya karena telah mengantarkan pesanan kami.   Nadin menggeleng, dengan wajah yang penasaran, menunggu jawabanku perihal Tiara. “Kamu gak cerita apa apa tuh,” jawabnya.   Aku berpikir sebentar, berusaha mencari kosa kata yang tepat untuk disampaikan agar tidak menimbulkan hal hal yang membuat Nadin kesal.   “Aku satu kantor sama Tiara.” Aku menjawab singkat, tanpa menjelaskan setiap detailnya.   “Terus?” Nadin masih merasa jawabanku kurang memuaskan, sehingga bertanya lagi.   “Harus banget ya bahas itu?”   “Harus.” Nadin menjawab tegas.   Aku mendengus pelan. “Din, kamu tau kan, ada atau gak adanya Tiara gak berpengaruh apa apa buat kita? Yang jadi masalah itu bukan Tiara, tapi-“   “Kok kamu jadi ngalihin pembicaraan sih, aku belom puas sama jawaban kamu tentang Tiara.”   Aku mendengus pasrah, akhirnya enggan memperpanjang aku pun menjawab, “Aku sama Tiara sekantor, satu divisi, mejanya tepat di depan aku. Aku baru tau setelah seminggu kerja, karena selama itu dia cuti jalan jalan sama Chaca dan Lila. Ada lagi yang mau kamu tau?”   “Kenapa tadi kalian berdua? Emang satu divisi cuma dua orang?” Nadin melanjutkan pertanyaannya.   “Aku cuma pengen ngelurusin beberapa hal sama dia, biar kita gak canggung terus karena gak nyaman pas kerja,”   “Aku kira dia yang ngejar ngejar kamu, ternyata emang kamu yang caper.” Kata Nadin dengan suaranya yang semakin jutek dan terkesan tidak suka, tapi tak ayal wanita itu tetap menyuapkan makanan ke mulutnya untuk menyelesaikan aksi makan siang ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD