- 29 -

2164 Words
= = = = = Rendi = = = = = Aku tidak mungkin lupa dengan kejadian malam itu. Malam di mana aku bertindak luar biasa b******k untuk Tiara.   Segalanya bermula saat teman temanku heboh memberitahu tentang gelagat Tiara yang selalu memperhatikanku. Sandi yang luar biasa peka dengan hal hal semacam itu, terus mengompori hal itu. Lalu di dukung oleh Azril dan Chaca yang juga turut merasakan hal tersebut.   “Bener deh, Ren. Tiara naksir lo!” kata Sandi saat bubaran kelas, ketika kami satu kelas dengan Tiara, lalu Sandi malah sibuk memperhatikan Tiara yang gemar mencuri pandang ke arahnya.   “Liatin lo kali, To. Masa gue.”   “Justru paling masuk akal tuh liatin lo, Ren! Gue aja sering liatin lo!” Chaca yang juga belum keluar dari kelas, turut menimpali.   Cewek itu memang masih di dalam kelas bersama Rendi dan Sandi, sementara Tiara sudah keluar bersama Lila. Mereka saat itu memang tengah berada dalam satu kelas yang sama, lalu Chaca kebagian tempat duduk di dekat aku dan Sandi karena telat datang. Jika tidak telat datang, sudah pasti cewek itu lebih sering mengekori Lila alias akan berada di dekat tempat duduk Lila ketimbang di dekat Rendi dan Sandi. Aku hanya berdecak pelan. Chaca memang sudah biasa bersikap seperti itu, seolah menggodaku yang menurutnya memang menyenangkan untuk di pandang, aku juga tidak terlalu menanggapi jika yang mengatakan hal tersebut adalah Chaca atau pun Lila, karena sudah tau mereka hanya bercanda atau sekadar mengatakan pendapatnya tanpa ada perasaan apa apa. Terkadang, Tiara yang merupakan teman cewek paling terakhir yang bergabung dengan kami, karena sebelumnya cewek itu hanya mengenal Chaca hingga belakangan mulai lebih sering berkumpul dengan kami. Pun turut ikut menggodaku seperti layaknya Chaca dan Lila, meski memang tak sering, karena aku masih dapat melihat kecanggungan dari cewek itu setiap kali berinteraksi denganku. “Coba deh perhatiin, Tiara tuh suka salting juga kalo di deket lo, Ren. Padahal kalo ngobrol sama gue tuh santai santai aja.” Sandi semakin mengompori, menjelaskan gelagat Tiara yang tidak terlalu aku perhatikan karena merasa tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun, rupanya teman temanku lebih perhatian dengan hal tersebut hingga bisa bisanya mengetahui setiap detail gerak gerik Tiara yang padahal tidak penting juga untuk mereka. “Gue tanyain aja apa ya? Kalo ternyata bener, Tiara naksir lo, gimana, Ren?” Chaca masih menambahi, yang semakin memperkeruh obrolan ini. Sementara aku, kini semakin tidak nyaman membahas hal hal semacam ini. Sejujurnya aku tidak ingin mengetahui, apakah Tiara benar benar menyukaiku atau tidak. Toh, saat itu aku sudah memiliki pacar dan tidak ada rencana untuk putus atau akan putus atau berniat selingkuh sejak dini. Aku cukup menunjukan betapa aku mencintai kekasihku dengan segenap hatiku, dan teman temanku seharusnya mengetahui hal tersebut. Aku mengangkat bahu, menyahuti perasaan Chaca. “Yaa … gak gimana gimana, terus mau gue gimanain emang?” “Yaa, gas lah! Sama Tiara aja, lebih mending dari pada cewek lo yang kakak kakak aneh itu.” Vita segera menyambar omonganku karena gemas, sepertinya begitu. Jawaban Sandi membuatku mendenguskan napas pelan, pertanda lelah dengan pembahasan macam ini yang sudah sering berlangsung selama teman temannya itu melakukan analisa gerak gerik Tiara terhadap memperhatikan aku dari jarak jauh mau pun dekat. Akus ampai merinding sendiri karena ulah teman temanku yang kurang kerjaan itu. “Apa sih, To. Gue gak jomblo ya.” Aku mengelak, mempertegas statusku yang memang tidak sedang sendiri. alias, aku memang memiliki pacar. Dari awal aku sudah mengatakannya, pacarku bernama Nadin yang merupakan kakak dari Azril. Dan semua orang tahu tentang hal tersebut, kenapa ini malah di paksakan untuk mencari cewek lain? “Gue setuju sama Sandi! Mending lo sama Tiara, pasti cocok banget. Nadin yang gak jelas itu mah suruh ke laut aja deh!” Chaca kembali menimpali, di sertai dengan menjelek jelekan sosok Nadin yang belum mereka kenal itu, tapi sudah biasa menilainya dalam sekali lihat. Itu pun lihatnya dari kejauhan. “Gak lah, gak usah aneh aneh deh lo!” Aku membalas masih dengan nada malas, atau mungkin nada malasku tak terdengar oleh mereka, hingga membuat mereka lagi dan lagi memojokanku dengan pembahasan yang sama. Perihal memutuskan pacarku untuk bisa bersama Tiara, yang mana tidak mungkin lah aku lakukan, memangnya mereka siapa bisa bisanya melarang perasaan ku yang ingin bermuara ke mana. Pembicaraan semacam itu, jelas bukan yang pertama mereka lakukan. Itu jelas bukan oertaman kalinya merekaa mendorong dorongku untuk bersama Tiara dan meninggalkan pacarku saat ini dengan alasan, yang terlihat oleh mereka adalah aku sebagai pihak tersakiti karena pacarku bersikap semaunya. Sejak saat itu, hubunganku bersama Nadin semakin tidak aman. Mereka terus terusan mendorongku untuk bersama Tiara, tanpa peduli dengan hubunganku dengan Nadin sudah sejauh apa. Dan seberusaha apa aku mempertahankan hubungan ini, betapa aku yang menginginkan hubungan ini dan tidak akan semudah itu melepaskannya begitu saja. Aksi demi aksi yang berusaha mendekatkan aku dan Tiara semakin gencar di lakukan, tanpa menanyakan pendapatku terlebih dahulu apakah setuju atau tidak. Tiara sendiri tampak tidak mengetahui rencana yang di lakukan teman temanku ini dan tampak biasa saja menanggapi ku. Sementara aku, semakin lama justru semakin rishi dengan tindakan teman temanku yang terus menginginkan aku bersama Tiara. Maka, tak ingin hal tersebut terus berlanjut, aku memilih untuk menutup segala macam kemungkinan yang ada. Dengan menghancurkan akar dari segala kekacauan yang menyiksaku belakangan ini. Tentu saja Tiara. Jika teman temanku tak dapat di bicarakan menggunakan Bahasa manusia, maka jalan satu satunya tentu saja Tiara langsung. Aku akan mengatakan hal hal yang begitu telak demi membunuh perasaan macam  apa pun yang tengah bersemu di benak Tiara, ya mungkin saja begitu. Aku kan tidak bisa membaca isi hati orang lain. Lalu, malam itu aku menolaknya dengan telak, ketika ia bahkan tidak pernah mengutarakan perasaannya padaku dan hanya membiarkannya begitu saja tanpa mendapatkan balasan apa apa. Setelah mengatakan kalimat kalimat menyakitkan yang sarat akan larangan dan penolakan dengan telak, aku meninggalkan Tiara begitu saja karena berusaha memberinya ruang. Ia pasti menderita sekali saat melihatku terus berada di sana. Atau mungkin ia justru menganggapku semakin berengsek karena meninggalkan cewek sendirian, malam malam, di kawasan asing pula. Aku kembali ke vila seorang diri, dengan wajah yang juga sama suntuk. Ucapanku pada Tiara tadi menjadi pertanda bahwa hubungan pertemananku dengan Tiara tidak akan baik baik saja. Aku sudah mengantisipasi hal itu juga. “Loh, Ren? Tiara mana?” Pertanyaa tersebut segera keluar saat aku baru saja memasuki ruang tamu vila yang hanya ada Azril, Rehan, dan Lila. Barusan yang bertanya adalah Rehan, yang segera sadar bahwa aku datang sendiri, tak berdua dengan Lila. Aku mengembuskan napas sejenak, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi teman temannya yang kemungkinan akan marah besar. “Ren?” Lila mengulangi kalimat Rehan, meski hanya sekadar panggilan saja. Cewek itu juga tampak penasaran dengan keberadaan Tiara yang tadi memang berangkat bersamaku. Pun dengan Azril yang turut menatapku penuh tanda tanya. Saat itu, aku serasa akan di siding oleh mereka semua yang seolah mengetahui apa yang baru saja terjadi dan mengapa Tiara tidak ikut pulang bersamaku. “Lo apain Tiara?” Azril yang paling pertama mengatakan hal seperti itu, seolah tahu apa yang baru saja aku lakukan pada Tiara, apa pun itu sudah pasti hal yang sangat berengsek jika di ukur betapa aku akrb dan berteman baik dengan Tiara. Suara kegaduhan tersebut membuat Chaca dan Sandi seketika keluar untuk melihat apa yang tengah terjadi di ruang tamu. Kedua orang itu tampak berlari dan mematikan pemanggang terlebih dahulu, untuk memastikan apa kah keadaan baik baik saja. Aku yang menjadi sasaran dari tatapan semua orang yang berada di ruangan ini hanya bisa terdiam untuk beberapa saat, karena bingung harus menjawab apa. Apa yang harus ku jelaskan pada teman temanku terkait apa yang baru saja ku lakukan pada Tiara? Melihatku yang hanya diam, tanpa ada niatan mau menjawab, Chaca yang gemas pun akhirnya turun suara. “Ren? Lo gak macem macem kan?” cecar Chaca yang tidak tahan melihat kebisuanku. “Gue tinggal di indomaret,” ucapku akhirnya, sesuai dengan kenyataan bahwa memang aku meninggalkan Tiara di sana. Lila yang biasanya jarang bereaksi kini melotot mendengar jawabanku. Namun, cewek itu masih berusaha tenang, sementara cowok cowok itu kini sudah menatapku seolah aku ini santapan makan malam hewan hewan yang lapar. “Kenapa?” tanya Lila, masih berusaha tenang, dan menggenggam tangan Rehan yang berada di sampingnya, yang seolah sudah siap menghajarku. Bahkan sebelum aku mengatakan apa pun, mereka seolah sudah menebak bahwa aku telah melakukan hal yang buruk pada Tiara, yang mana pasti membuat mereka emosi terhadapku. Memang seperti ini kan? Dulu, aku juga tidak terima setiap kali ada yang menyakiti Chaca atau pun Lila sekali pun. Lila yang dekat dengan Rehan, sudah sering di wanti wanti oleh kami, bahwa kami tidak akan segan segan menghajar Rehan jika cowok itu mempermainkan Lila. Meski aku lihat hubungan mereka hingga detik ini tidak memiliki masalah apa pun, sebab Lila masih terlihat tenang tenang saja. Aku juga pernah bereaksi seperti itu pada Tiara, begitu juga yang lainnya. Sayangnya, Tiara memang jarang dekat dengan siapa pun. Meski kami lihat ada beberapa anak kampus yang berusaha mendekati Tiara, bahkan menanyakan tentang Tiara melalui kami, Tiara justru enggan menanggapinya. Belakangan baru ku ketahui, alasan Tiara enggan menanggapi mereka adalah karena yang Tiara sukai adalah aku. “Gue udah bilang kan, gue gak suka sama Tiara. Suka dalam artian as romance. Gue gak suka, kalo Tiara punya perasaan sama gue, sampe harus liatin gue tiap detik.” “Anjing lo, Ren!” Azril yang tidak tahan dengan ucapanku sudah menghajarku lebih dahulu, mendengar penuturanku yang pasti terdengar memuakan bagi mereka. Rehan yang juga ingin ikut menghajarku masih di tahan oleh Lila, sementara Sandi kini berusaha untuk menjauhkan Azril dari hadapanku. Aku tau mereka semua pasti marah dengan keputusanku ini, yang terlalu memuakan, dengan menyakiti satu sosok yang sebenarnya tidak sesalah itu hanya demi kenyamananku. “Lo bener bener gak ngotak ya, lo pikir Tiara itu siapa? Tiara temen kita, Ren! Kok lo tega sih?” Azril masih kesal dengan sikapku, bahkan ia tak pernah bereaksi seperti ini terhadap hubunganku dengan kakaknya. Sebab, memang yang sering terjadi adalah Nadin yang mengecewakanku. Sebab, Azril sudah ribuan kali mengatakan sebaiknya aku menyerah saja bersama Nadin. Namun, aku justru tetap berjuang untuk terus bersama Nadin meski semua orang mengatakan hubungan ku tidak akan memiliki akhir yang bahagia. “Lo bilang kayak gitu ke Tiara, Ren?” tanya Chaca, yang matanya juga sudah memerah karena menahan emosi untuk tidak menamparku bolak balik akibat sikapku ini. Aku mengangguk. Azril sudah menjauh karena Sandi berusaha melerai, sementara kini Lila yang justru maju mendekatiku. Aku menatap sosoknya yang memiliki aura begitu dingin, kini tengah memberikan tatapan yang menusuk padaku. Plak! Lila menamparkan dengan keras, hingga menimbulkan suara yang bisa terdengar oleh orang orang yang berada di ruangan ini. Bahkan aku merasakan betapa sakitnya tamparan tersebut mengenai pipiku, hingga tidak aneh jika akan muncul bekas merah di pipiku akibat tamparan Lila. Lila yang biasanya tenang, bahkan kehilangan kontrol karena ulahku malam itu. “Dia gak gangguin lo, dia gak maksa lo juga, salahnya di mana? Lo emang anjing ya!” ucap Lila yang sudah tak mampu menahan emosinya. Rehan yang sejak tadi di tahan oleh cewek itu, lalu kini melihat Lila justru lebih emosi berdecak takjub. Sedangkan aku hanya menerima apa jotosan dari Azril atau pun tamparan Lila, karena tak mampu membela diri lebih jauh. Aku mengakui, sikapku memang jahat untuk Tiara. Untuk cewek yang bahkan tidak pernah bereaksi berlebihan terhadapku, justru aku malah menyakitinya dengan penolakan dan menyalahkan kehadirannya.   “Gue jemput Tiara dulu.” Azril akhirnya menjauh dariku, untuk menyambar kunci motornya yang ia letakan di meja ruang tamu. Lalu cowok itu pun berlalu untuk menjemput Tiara yang aku tinggalkan di minimarket.   Aku hanya mendesah pasrah, lalu berjalan gontai menuju sofa untuk menyandarkan punggungku di sana. Kejadian malam ini seolah tak membutuhkan penjelasan apa apa lagi, karena memang tidak ada yang perlu di jelaskan.   Bukan kah sebaiknya begini? Ini lah yang aku inginkan. Sejak hari itu, aku tidak akan di ganggu lagi oleh perasaan Tiara yang tidak akan pernah aku balas. Begitu lah aku berpikir saat itu, berpikir dengan menyakiti Tiara adalah jalan keluar untuk masalahku yang tidak ingin leluasa dengan hubunganku sendiri.   Nyatanya, tanpa ada Tiara pun, hubunganku tidak memiliki perkembangan sama sekali. Aku dan Nadin masih seperti dulu, hingga detik ini. Aku yang masih berusaha mendekat, sedang Nadin yang berusaha menjauh. Dengan status hubungan kami yang rasanya hanya sebatas formalitas belaka, sebab alih alih seperti menjalin hubungan di antara dua orang, hubungan ini lebih seperti berjalan searah.   Namun, aku masih terus berharap. Suatu hari Nadin akan lelah dengan petualangannya dan bisa lebih mementingkan hubungan ini. Atau aku yang harus terbiasa dengan menjalani hubungan seperti ini, yang mana tidak seperti dua orang yang menjalin sebuah hubungan. Minimal bertukar kabar saja, Nadin enggan melakukannya. Katanya, tidak penting.   Aku tidak meminta live report location, hanya sekadar memberikan informasi wanita itu tengah berada di mana. Mengingat pekerjaannya yang sering bertandang ke kota kota lain, bahkan sesekali juga ke Jakarta. Tapi, Nadin bahkan enggan memberitahuku juga saat kami berada di satu kota.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD