- 25 -

2015 Words
= = = = = Rendi = = = = =    Jam makan siang telah tiba. Rekan kerja yang seruangan denganku bahkan sudah ramai sejak setengah jam yang lalu, meninggalkan segala macam pekerjaan mereka hanya untuk berdiskusi akan makan di mana siang ini. Atasan mereka yang terkenal galak, Bu Anggri - sedang keluar kantor untuk rapat dengan salah satu vendor. Hal tersebut membuat para bawahannya ini bisa leluasa dalam bekerja.   Di tengah perdebatan penentuan lokasi makan siang ini, obrolan cewek-cewek justru kian bergeser ke arah lain. Fitri dan Tiara kini sudah pindah ke dekat meja Nisa, tampak mengerubungi wanita muda itu yang tengah asik bermain dating apps yang sedang marak. Fitri dan Tiara yang berasal dari angkatan lebih atas di banding Nisa, tampak antusias melihat Nisa sedang swipe kanan dan kiri setiap kali melihat profil yang muncul di layar ponselnya, menampilkan foto dan informasi basic dari sosok yang ada di dalam dating apps itu.     “Lo tau dari mana kalo dia gak bohong, Nis?”     Terdengar suara Fitri yang tampak ragu ragu dalam menilai profil yang muncul di layar ponsel Nisa, wanita itu terus memprotes sejak tadi setiap kali Nisa menemukan profil baru untuk dipilihnya.     “Dari foto dan penampilan. Dont judge a book by this cover tuh gak berpengaruh di sini, Kak! Tujuannya ada foto profil ini kan biar kita menunjukan foto terbaik agar bisa dinilai yang terbaik juga. Kalo misal fotonya - maaf maaf nih - gak meyakinkan, terus bilangnya kuliah di luar negeri, ya aku gak percaya lah. Minimal dia pasang foto lagi di luar negerinya dong.” Nisa menjelaskan terkait pengalamannya bermain aplikasi tersebut yang terdengar sudah mahir.     “Siapa tau pas kuliah di luar negeri dia nolep, Nis. Jarang main ke mana mana, jadi kerjaannya cuma di dalem kamar aja gitu. Jadi gak sempet foto.” Tiara menyampaikan praduganya yang di sambung sambungkan untuk membantah argumen Nisa.     “Gak gitu kakak kakak, makanya kalian download deh. Pasti nanti paham gimana bedainnya.”     Aku terkekeh pelan saat mendengar ocehan Tiara dan teman temannya itu. Tiara dan Fitri sungguh bagaikan genk ibu ibu yang tengah melihat anak muda dengan perkembangan yang tidak mereka pahami, tapi berusaha untuk memahaminya dengan melihat lebih jauh.     “Jadi kita mau makan di mana wahai para perempuan yang katanya mau menentukan tempat makan malah liatin Nisa main dating apps?” Devon yang gemas karena menyerahkan tugas untuk mencari tempat makan siang pada Fitri dan Tiara tampak geram, karena melihat dua wanita itu justru tengah merecoki Nisa bermain dating apps.     Aku ikut terkekeh pelan mendengarnya. Diingatkan perihal pilihan makan siang, aku dapat melihat gelagat Tiara yang kembali tidak nyaman. Jika aku tidak salah menebak, hal tersebut pasti karena kenyataan yang tak dalat di hindari, bahwa kali ini ia akan makan siang bersamaku juga. Aku tentu dapat menyadarinya ketika kemarin Tiara menghindari, dan memilih untum tidak makan siang bersama teman-teman kantor kami lantaran aku ikut mereka. Tak ikut dalam perdebatan tersebut karena merasa tidak enak, mengingat statusku di sini yang masih anak baru, maka aku hanya fokus untuk kembali mengerjakan pekerjaan ku yang masi menumpuk saja. Hingga suara Tiara kembali terdengar, menyahuti ucapan Devon. “Gue makan siang bareng Lila, tadi Lila bilang lagi ada meeting deket sini.” Lihat kan, Tiara sedang mencoba menghindari lagi. Ia masih sulit menerima bahwa di sini, aku adalah rekan kerjanya. Tanpa perlu menghindar saat jam makan siang pun, meja ku berada di hadapannya. Tiara akan terus melihatku meski kini sikapnya tengah mencoba untuk berlari dari segala macam hal yang berhubungan denganku. Nyatanya, ia tetal tak bisa berlari karena aku tetap berada di hadapannya. “Sibuk banget lo, Ra. Kemaren sama suami lo, sekarang sama temen lo. Besok nih, kayaknya lo di ajak makan sama mertua lo deh.” Kata Devon yang gemas dengan absennya Tiara saat jam makan siang bersama mereka. Entah apa yang ada di pikiranku, aku hanya ingin Tiara mampu menghadapi kenyataan. Aku hanya ingin Tiara bisa menatapku tanpa beban. Bukan kah semua ini sudah berlalu? Tiara sudah menikah, lalu apa masalahnya? Harusnya Tiara bisa menghadapiku tanpa terus terbayang hal hal menyakitkan itu. Bukan kah aku sudah cukup lama berlari dan memberi ruang untuknya? “Gue ikut dong, Ra. Gue juga belom sempet ketemu Lila sejak di Jakarta.” Aku mengatakan hal demikian saat mendengar alasan Tiara kali ini adalah akan makan siang dengan salah seorang teman kami. Tentu saja aku mengenal Lila, dia juga salah satu teman kuliahku dulu, dan masih sering bertukar kabar selayaknya aku dengan Chaca. Tiara seketika menatap ke arahku - tepatnya melotot - untuk memberikan isyarat bahwa wanita itu keberatan dengan permintaanku. Akhirnya ia berani menatapku dengan lantang karena hal ini, aku terkekeh dalam hati menanggapi ekspresinya itu. Namun, aku pura pura tidak mengerti, dan hanya balas menatapnya seolah tak berdosa. Aku masih menantikan jawabanny atas permintaanku yang ingin ikut makan siang bersamanya. Hingga beberapa detik waktu berselang, Tiara masih belum menjawab ucapanku. Aku lihat orang orang yang ada di ruangan ini tampak tertarik dengan interaksiku dan Tiara, bahkan Nisa sudah berhenti melakukan aktivitas swipe kanan dan kiri pada dating apps yang tadi di mainkannya, begitu pun dengan Fitri yang sejak tadi menonton Nisa melakukan hal tersebut. Tiara jelas merasakan tatapan tatapan tersebut, dan mulai risih karena sikap mereka. Hal tersebut membuat Tiara segera menjawab permintaanku. “Oke,” jawabnya singkat, tidak ada protes sama sekali. Kini, gantian aku yang terkejut dengan jawabannya. Tidak menyangka Tiara akan menyetujui ajakanku, aku pikir Tiara akan kembali berkelit dan berusaha mencari alasan macam apa pun agar aku tidak bisa ikut makan siang dengannya dan Lila. Namun, rupanya Tiara seperti tidak bisa berpikir cepat untuk saat ini, mengingat adanya tekanan dari orang orang di ruangan ini yang tengah menatapnya. Devon, Nisa, dan Fitri tak lagi menaruh perhatian pada Tiara karena merasa sudah mendapatkan jawaban yang tadi mereka nantikan. Tiara juga sudah kembali ke mejanya, yang tepat berada di hadapanku. Wajahnya tampak keruh, mungkin karena harus makan siang denganku. Lima belas menit berlalu, akhirnya jam makan siang pun tiba. Aku segera mengikuti Tiara untuk keluar kantor, dan tidak lagi mengikuti tempat tujuan makan siang yang lainnya. Sepanjang perjalanan, kami tidak bicara sama sekali. Tiara hanya membiarkanku berjalan di sampingnya. Bahkan saat masih berada di area lantai kantor kami, yang membuat Tiara menyapa beberapa karyawan yang lumayan akrab dengannya, Tiara tetap tidak menghiraukanku yang masih mengekorinya. Sampai memasuki lift yang lumayan penuh, membuat kami tentu saja semakin berdiam diri. Sesampainya di lobby, aku masih belum bertanya ke mana tujuan makan siang kita ini. Kami berjalan keluar dari gedung kantor ini, yang berarti kami akan makan siang di resto atau rumah makan di luar gedung ini. Sampai beberapa menit berlalu, kami masih berjalan, tanpa aku tahu sebenarnya Tiara mau ke mana. Wajahnya tampak kebingungan sambil sesekali memainkan ponselnya, aku pikir tengah mengecek keberadaan Lila yang sudah di lokasi makan siang. Hingga aku menyadari satu hal yang tengah terjadi saat ini. “Ra,” panggilku. Tiara tidak menoleh, ia hanya terus berjalan sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya dengan resah. “Tiara!” Aku memanggilnya lagi, tanpa memenggal namanya. “Hm.”  Tiara menyahut hanya dengan bergumam pelan. Oke, setidaknya wanita ini masih menyahut. “Kita mau makan siang di mana?” “Tar dulu.” Aku semakin yakin bahwa kami memang tidak memiliki tujuan siang ini. Air muka Tiara tampak kebingungan, karena merasa terjebak dengan ucapannya sendiri. Enggan untuk membuatnya resah semakin larut, aku pun kembali bersuara. “Lo gak makan siang bareng Lila, kan?” tembakku yang gemas dengan sikapnya saat ini. Tiara menghentikan aktivitas memanikan ponselnya, lalu menoleh ke arahku. “Oh, udah tau.” Tiara berkata dengan nada dingin, aku sampai merinding mendengar suaranya yang begitu rendah, seperti menyimpan segala macam emosi di sana. “Kenapa masih di sini?” Mataku membesar saat mendengar Tiara berkata demikian, aku tidak percaya kalimat tersebut bisa terlontar dari mulut Tiara. Apa aku sudah segitu kejamnya hingga membuat sosok yang dulu aku kenal sebagai pribadi yang ramah, hingga begini dingin terhadapku? Aku menelan ludah untuk beberapa saat, rupanya Tiara masih belum bisa menerima kejadian tersebut, meski kurun waktu sudah berlalu, yang bahkan kini wanita itu juga sudah menikah. “Udah terlanjur, gue ikut makan siang bareng lo aja.” Aku masih bersikeras mengikutinya, karena merasa ingin meluruskan sesuatu agar kecanggungan mereka di kantor tak akan mengganggu aktivitas atau pun keseharian kami saat bekerja. Aku dapat melihat Tiara tampak berdecak, seolah mentertawakan ucapanku barusan. Wajahnya kini tampk muak dan tak ingin terlibat semakin panjang denganku. “Apa yang buat lo berpikir, kalo gue mau makan siang bareng lo, Ren?” Tiara benar benar berubah jadi sosok dingin dengan perkataannya yang semakin tajam. “Kenapa lo gak mau makan siang bareng gue? We’re partner.” Aku membalas ucapannya, dengan nada suara yang juga menantang. Aku ingin memperjelas semuanya, Tiara tidak bisa seperti ini terus meneru. Kami akan terus bertemu setiap hari, menjadi rekan kerja, dan akan terlibat banyak hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Jika dalam lingkup pertemanan, kami masih bisa saling menghindari, kali ini tentu tidak bisa. Ada profesionalitas yang harus di jaga, dan Tiara tidak bisa bersikap seperti ini lebih lanjut karena akan mengganggu hubungan pekerjaan kami kelak. Tiara menatapku dengan pandangan muak, seolah pertanyaanku terkesan aneh sekali. “Gue masih gak nyaman sama lo!” Kata Tiara akhirnya, tanpa menyembunyikan apa yang sedang dirasakannya. Aku mengangguk paham. “It’s ok.” Sahutku tenang. “Tapi lo gak bisa kayak gini terus, kita harus mulai terbiasa.” Tiara menatapku jengah. Situasi ini seolah menguras energinya lebih banyak, hingga membuatnya tampak kelelahan menghadapiku yang bahkan tak melakukan apa apa. “Gue gak mau terbiasa sama lo.” Tiara masih membantah ucapanku, dengan wajahnya yang berpaling ke segala arah, enggan untuk melihatku. Kenapa, Ra? Apa masih sesakit itu buat sekadar berani natap gue? “It’s been a long time.” Aku kembali berkata. “Enam tahun loh, Ra. Lo udah nikah juga. Apa masih belom cukup?” Aku yang tak tahan akhirnya melontarkan kalimat tersebut. Mata Tiara melotot, ia tampak tak menyangka aku berani membahas ini. Ternyata, ruang yang aku ciptakan untuk Tiara memang tidak pernah cukup. Bahkan saat aku telah berlari dari hidupnya sejauh itu, dengan waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar, amarah dalam diri Tiara masih belum bisa teratasi. Amarah ya? Aku lebih khawatir dengan penyebab amarah itu, bahwa masih ada setitik rasa di hatinya, hingga membuatnya jadi semarah ini. “Kenapa cuma enam tahun? Gue berharap seumur hidup gak harus berhubungan lagi sama lo.” Aku menahan napas saat Tiara berkata demikian. “You’re married. Apa masih belum cukup?” Tiara tertawa sumbang. Sebelum wanita itu kembali menjawab, aku segera berkata lagi. “Gue gak akan lari kayak dulu. Gue gak akan menciptakan ruang buat lo lagi. Gue baik baik, bahkan meski lo gak nyaman. Jadi, tolong terbiasa ya, Ra.” Aku tak lagi memaksa untuk mengekorinya, melainkan segera beranjak dari dekatnya. Sudah cukup untuk hari ini, meski aku mengatakan baik baik saja saat dirinya tak nyaman, nyatanya aku tak segitu tega untuk terus berada di dekatnya saat wanita itu nyaris menangis karena rasa kesal yang menggebu. Selintas, aku melihat Tiara yang berusaha mengatur napasnya yang kini naik turun. Tanganku meremat dengan kuat. Kenapa Tiara harus seperti ini? Kenapa Tiara tidak bisa berhenti untuk memiliki perasaan terhadapku? Hal seperti ini lah yang membuatku pernah menyuruhnya untuk berhenti, sebab aku pun tak sanggup melihatnya harus tersakiti seperti ini. Situasi ini tidak bisa dibuat mudah. Tidak akan bisa, sebab aku terlalu yakin dengan apa yang aku miliki. Bagaimana pun keadaannya, bahkan meski Tiara belum menikah sekali pun, aku tidak akan bersamanya ketika perasaanku untuk Nadin tak pernah usai. Meski hubungan yang aku miliki terlihat berantakan, meski perasaanku sering kali dipermainkan, aku tetap ingin bersama Nadin sampai kapan pun. Hal itu justru akan menyakiti Tiara, jika aku memaksa untuk bersamanya. Aku bertindak jahat semata untuk melindunginya dari diriku yang tak mampu untuk memberikan kebahagiaan untuknya. * * * * * * * * * * * * K I S A H   Y A N G   T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * * 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD